KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Hingga pukul 09.00 WIB, IHSG turun 28,23 poin atau 0,44 persen ke level 6.342,45.
Pada awal sesi perdagangan, indeks sempat bergerak di rentang 6.352 hingga 6.372. Tekanan jual terlihat cukup dominan seiring meningkatnya aksi profit taking dan masih kuatnya sentimen negatif dari arus dana asing.
Total volume transaksi di seluruh pasar tercatat mencapai 3,74 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp202,76 miliar dari 44,12 ribu transaksi. Aktivitas investor asing masih tercatat membukukan beli bersih atau net foreign buy sebesar Rp306,34 miliar di pasar reguler. Nilai beli asing mencapai Rp8,23 triliun, sedangkan nilai jual asing sebesar Rp7,92 triliun.
Meski masih terjadi net foreign buy, tekanan terhadap IHSG tetap terlihat karena mayoritas sektor bergerak di zona merah. Sektor transportasi menjadi sektor dengan pelemahan terdalam setelah turun 3,05 persen.
Selanjutnya sektor basic industry terkoreksi 2,62 persen, sektor energi turun 1,69 persen, sektor infrastruktur melemah 1,43 persen, serta sektor consumer cyclical terkoreksi 0,96 persen.
Pelemahan juga terjadi pada sektor non-cyclical yang turun 0,90 persen, sektor industrial turun 0,83 persen, sektor keuangan melemah 0,38 persen, sektor teknologi turun 0,36 persen, serta sektor properti yang terkoreksi 0,31 persen. Di tengah dominasi pelemahan pasar, sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang masih menguat dengan kenaikan 0,58 persen.
Dari jajaran top gainers, saham PT Multi Makmur Lemindo Tbk dengan kode emiten PIPA memimpin penguatan setelah naik 17,21 persen ke level 143. Saham PT Tanah Laut Tbk atau INDX juga menguat 17,20 persen ke posisi 109.
Selain itu, saham PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk berkode BEER naik 16,67 persen ke level 112. Kemudian saham PT Multi Spunindo Jaya Tbk atau MSJA menguat 7,28 persen ke posisi 442, sedangkan saham PT Arthavest Tbk dengan kode ARTA naik 6,73 persen ke level 2.380.
Sementara itu, tekanan jual terjadi pada sejumlah saham unggulan maupun lapis menengah. Saham PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk berkode RELI menjadi salah satu top losers setelah turun 13,33 persen ke level 520.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA yang bergerak di sektor petrokimia juga melemah cukup dalam sebesar 12,50 persen ke posisi 2.730. Penurunan TPIA turut memberi tekanan terhadap indeks mengingat kapitalisasi pasar emiten tersebut cukup besar di Bursa Efek Indonesia.
Kemudian saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk berkode WBSA turun 12,50 persen ke level 805. Saham PT Equity Development Investment Tbk atau GSMF terkoreksi 12,12 persen ke posisi 116, sedangkan saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk dengan kode RLCO melemah 11,78 persen ke level 2.920.
Pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen eksternal dan domestik yang memengaruhi arah pergerakan IHSG. Tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih dipicu kekhawatiran investor terhadap aliran modal asing, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga dampak rebalancing indeks global yang membuat volatilitas pasar meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Di sisi lain, investor juga mulai melakukan rotasi sektor dengan memilih saham-saham defensif di tengah tingginya ketidakpastian pasar. Kondisi tersebut terlihat dari menguatnya sektor kesehatan saat mayoritas sektor lain bergerak di zona merah.
Sementara itu, MNC Sekuritas dalam riset hariannya menyebut IHSG sebelumnya terkoreksi 3,46 persen dan ditutup di level 6.370 dengan peningkatan volume penjualan.
MNC Sekuritas menilai pergerakan IHSG saat ini diperkirakan masih menjadi bagian dari gelombang A pada wave (2) label hitam, sehingga indeks masih rawan melanjutkan koreksi untuk menguji area 6.307.
Bahkan, pelaku pasar diminta mewaspadai potensi koreksi lanjutan menuju area 6.084 hingga 6.148. Adapun level support IHSG berada di 6.270 dan 6.148, sementara level resistance berada di 6.640 dan 6.745. (*)