KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara intraday, IHSG dibuka di level 8.393,51 dan sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi 8.596,17 pada 09.31 WIB.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup aktif dengan total volume transaksi mencapai 159,44 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp11,26 triliun dari 928,51 ribu kali transaksi di seluruh pasar.
Pelemahan pasar saham domestik terjadi seiring beredarnya informasi mengenai pengumuman hasil konsultasi MSCI terkait free float saham Indonesia, sebagaimana dirangkum oleh Stockbit Sekuritas berdasarkan pernyataan resmi MSCI.
Dalam pengumuman yang disampaikan pada Selasa, 27 Januari 2026 kemarin MSCI menyatakan akan menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses indeks review, termasuk indeks review Februari 2026.
Kebijakan tersebut mencakup pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan naik antar–indeks segmen ukuran, termasuk dari kategori Small Cap ke Standard.
MSCI menjelaskan langkah ini bertujuan untuk menekan perputaran indeks (index turnover) serta mengurangi risiko terhadap kelayakan investasi (investability), sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk meningkatkan transparansi pasar.
Sebagaimana dijelaskan oleh Stockbit Sekuritas, isu free float Indonesia telah menjadi perhatian MSCI sejak Oktober 2025. Pada saat itu, MSCI meminta masukan kepada pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh KSEI sebagai referensi tambahan dalam penghitungan free float saham emiten Indonesia.
Berdasarkan hasil konsultasi tersebut, investor menilai masih terdapat permasalahan fundamental pada aspek investability, khususnya terkait keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran adanya potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga yang wajar.
Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, MSCI menilai pasar Indonesia membutuhkan data struktur kepemilikan saham yang lebih rinci dan andal, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan yang tinggi, guna mendukung penilaian free float dan investability yang kuat.
MSCI juga menegaskan bahwa apabila peningkatan transparansi yang dibutuhkan belum tercapai hingga Mei 2026, MSCI akan melakukan penilaian ulang terhadap status aksesibilitas pasar Indonesia.
Dalam skenario tersebut, Indonesia berpotensi mengalami penurunan bobot dalam MSCI Emerging Markets Indexes, hingga kemungkinan reklasifikasi status pasar dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Menanggapi pengumuman tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan akan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dan MSCI.
“Terkait dengan pengumuman dari MSCI pagi ini, OJK, IDX, dan KSEI akan terus melakukan diskusi dengan MSCI. Sebelumnya, kami telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan penyampaian pengumuman data free float di website BEI. Namun, jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” ujar Corporate Secretary BEI, Kautsar Pribadi Nurahmad dalam pesan tertulis, Rabu, 28 Januari 2026.(*)