Logo
>

IHSG Ditutup 8.975: 10 Saham ini jadi Pemberat Pasar, BUMI-DOSS Terkoreksi Dalam

Meski indeks menguat ke zona hijau, tekanan jual masih mendominasi sejumlah saham energi, properti, teknologi, hingga batu bara, mencerminkan rotasi sektor dan sikap selektif investor di akhir sesi.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
IHSG Ditutup 8.975: 10 Saham ini jadi Pemberat Pasar, BUMI-DOSS Terkoreksi Dalam
IHSG esok hari berpotensi bergerak ke level 9.000. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026 ke level 8.975,33, naik 24,32 poin atau setara 0,27 persen.

Sepanjang sesi, IHSG sempat bergerak di rentang terendah 8.923,53 dan tertinggi 9.058,05, dengan level pembukaan di 8.967,73. Total volume transaksi tercatat mencapai 562,40 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp35,96 triliun dari 3,81 juta transaksi. Pada pasar reguler, volume tercatat 524,41 juta lot dengan nilai Rp32,70 triliun.

Meski indeks berakhir di zona hijau, tekanan jual masih terlihat kuat pada sejumlah saham yang masuk jajaran peringkat terbawah atau top losers. Sepuluh saham mencatatkan penurunan tajam dan menjadi pemberat pergerakan IHSG hari ini, terutama dari sektor energi, properti, teknologi, hingga logistik.

Saham PT Rukun Raharja Tbk dengan kode saham RAJA yang bergerak di sektor energi dan infrastruktur gas tercatat melemah 7,73 persen. Tekanan jual pada saham ini terjadi di tengah aktivitas transaksi yang cukup besar dan mencerminkan aksi ambil untung serta penyesuaian posisi investor setelah pergerakan sebelumnya.

Dari sektor teknologi dan perdagangan digital, saham PT Global Sukses Digital Tbk berkode DOSS turun 7,69 persen. Pelemahan ini menempatkan DOSS sebagai salah satu saham dengan koreksi terdalam, seiring masih tingginya volatilitas pada saham-saham teknologi berkapitalisasi kecil.

CBDK Tertekan Hingga Tujuh Persen

Sektor properti dan konstruksi juga tidak luput dari tekanan. Saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) terkoreksi 7,59 persen. Penurunan ini terjadi di tengah minimnya katalis jangka pendek pada sektor properti, meskipun prospek jangka panjang masih bergantung pada stabilitas suku bunga dan daya beli.

Saham PT Intra Golflink Resorts Tbk berkode GOLF yang bergerak di sektor properti dan pariwisata melemah 7,57 persen. Pelemahan saham GOLF mencerminkan kehati-hatian investor terhadap emiten properti berbasis leisure di tengah dinamika konsumsi dan biaya operasional.

Dari sektor perbankan dan jasa keuangan, saham PT Super Bank Indonesia Tbk dengan kode SUPA turun 7,17 persen. Tekanan pada saham ini muncul di tengah sentimen selektif investor terhadap saham perbankan, khususnya bank dengan skala bisnis yang masih berkembang.

Saham PT Nanotech Indonesia Global Tbk berkode NANO yang berada di sektor teknologi dan manufaktur berbasis inovasi mencatatkan penurunan 7,14 persen. Saham ini masih bergerak volatil, seiring likuiditas yang terbatas dan sensitivitas tinggi terhadap aksi jual.

BMTR Melemah, BUMI Anjlok

Di sektor media dan hiburan, saham PT Global Mediacom Tbk dengan kode BMTR melemah 6,83 persen. Penurunan saham BMTR terjadi di tengah rotasi sektor dan sikap wait and see investor terhadap prospek industri media di era digital.

Sektor logistik juga mengalami tekanan melalui saham PT Ancara Logistics Indonesia Tbk berkode ALII yang turun 6,82 persen. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap biaya operasional dan margin di sektor logistik yang masih kompetitif.

Saham PT Widiant Jaya Kreasi Tbk dengan kode WIDI yang bergerak di sektor konstruksi tercatat melemah 6,82 persen. Tekanan jual pada saham ini sejalan dengan pelemahan minat terhadap saham konstruksi berkapitalisasi kecil.

Sementara itu, saham PT Bumi Resources Tbk berkode BUMI dari sektor pertambangan batu bara menjadi salah satu saham dengan nilai transaksi terbesar namun tetap terkoreksi 7,78 persen. Pelemahan saham BUMI terjadi meskipun aktivitas perdagangan sangat aktif, mengindikasikan distribusi saham oleh pelaku pasar di tengah fluktuasi harga komoditas.

Secara keseluruhan, penguatan IHSG hari ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan pasar yang merata. Tekanan pada saham-saham peringkat terbawah menunjukkan bahwa investor masih selektif dan cenderung melakukan rotasi sektor. 

Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, arah kebijakan moneter, serta kinerja emiten yang akan memasuki periode laporan keuangan berikutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".