Logo
>

IHSG Ditutup Menguat ke 8.322, 10 Saham ini Ambles Nyaris 4 Persen

Indeks ditopang transaksi Rp29,90 triliun, namun saham infrastruktur, energi, hingga bahan baku masuk daftar top losers.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
IHSG Ditutup Menguat ke 8.322, 10 Saham ini Ambles Nyaris 4 Persen
IHSG naik 0,50 persen ke 8.322 pada 25 Februari 2026, tetapi 10 saham seperti MBMA, ADHI, dan TPIA melemah hingga hampir 4 persen. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Rabu, 25 Februari 2026, setelah naik 41,40 poin atau 0,50 persen ke level 8.322,23 pada Rabu, 25 Februari 2026. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 8.373,48 dan terendah di 8.259,75.

Total volume transaksi di seluruh pasar mencapai 522,88 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp29,90 triliun dan frekuensi 2,84 juta kali transaksi. Pada pasar reguler, volume tercatat 461,62 juta lot dengan nilai Rp22,87 triliun.

Meski IHSG berhasil bertahan di zona hijau, sejumlah saham justru mengalami tekanan signifikan dan masuk dalam daftar 10 saham peringkat terbawah atau top losers hari ini. Penurunan terjadi di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, energi, hingga bahan baku.

Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dari sektor pertambangan dan bahan baku turun 35 poin atau 3,98 persen ke level 845. Tekanan pada saham berbasis nikel ini mencerminkan aksi ambil untung investor di tengah fluktuasi harga komoditas global.

PT Kurniamitra Duta Sentosa Tbk (KMDS) yang bergerak di sektor perdagangan dan distribusi terkoreksi 25 poin atau 3,94 persen ke level 610. Penurunan ini terjadi di tengah aktivitas transaksi yang cukup aktif dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah.

Saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dari sektor infrastruktur dan konstruksi melemah 10 poin atau 3,91 persen ke level 246. Koreksi ini mencerminkan masih adanya tekanan pada saham konstruksi BUMN di tengah dinamika proyek dan sentimen pembiayaan.

PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) yang berada di sektor properti dan pengembangan real estat turun 5 poin atau 3,91 persen ke level 123. Pelemahan saham properti terjadi seiring investor yang masih mencermati kondisi suku bunga dan daya beli masyarakat.

Selanjutnya, PT Charnic Capital Tbk (NICK) dari sektor keuangan terkoreksi 50 poin atau 3,89 persen ke level 1.235. Pergerakan saham ini relatif fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir.

PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) yang bergerak di sektor energi melemah 100 poin atau 3,86 persen ke level 2.490. Penurunan ini terjadi di tengah volatilitas harga batu bara global yang mempengaruhi sentimen terhadap saham energi.

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dari sektor bahan baku kimia turun 275 poin atau 3,82 persen ke level 6.925. Sebagai salah satu emiten petrokimia besar di Indonesia, pergerakan TPIA cukup berpengaruh terhadap indeks sektoral bahan baku.

PT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK) di sektor konsumer non primer terkoreksi 20 poin atau 3,77 persen ke level 510. Tekanan pada saham sektor restoran dan gaya hidup mencerminkan rotasi dana investor ke sektor lain yang dinilai lebih defensif.

PT Topindo Solusi Komunika Tbk (TOSK) dari sektor perdagangan ritel melemah 3 poin atau 3,66 persen ke level 79. Pergerakan saham berkapitalisasi kecil cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar harian.

Terakhir, PT Fortune Mate Indonesia Tbk (FMII) yang bergerak di sektor properti turun 10 poin atau 3,65 persen ke level 264. Pelemahan saham properti skala menengah ini terjadi seiring investor yang masih berhati-hati terhadap prospek sektor tersebut.

Secara umum, koreksi pada 10 saham peringkat terbawah hari ini menunjukkan adanya aksi profit taking dan rotasi sektor meskipun IHSG ditutup menguat. Investor terlihat selektif dalam memilih saham, terutama di tengah dinamika sentimen global dan pergerakan harga komoditas. 

Dengan IHSG yang masih berada di atas level psikologis 8.300, pelaku pasar diperkirakan tetap mencermati pergerakan dana asing, stabilitas nilai tukar, serta sentimen eksternal sebagai katalis utama arah perdagangan selanjutnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".