KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin, 6 April 2026, masih berada di zona merah. Namun kali ini polanya berbeda dibanding tekanan di awal hari.
IHSG terkoreksi sebesar 37 poin atau 0,53 persen ke level 6.989. Tekanan jual tetap ada, tetapi hingga sesi perdagangan berakhir tidak berkembang menjadi gelombang yang lebih dalam.
Sejak sesi siang, arah pergerakan indeks mulai menunjukkan upaya penahanan. Setelah sempat bergerak di bawah tekanan yang lebih dalam, IHSG perlahan kembali mendekati area 7.000, meski belum mampu menembusnya hingga akhir sesi.
Level ini berubah menjadi batas psikologis yang terus diuji, namun belum berhasil dipulihkan sebagai area penguatan.
Struktur perdagangan hari ini memperlihatkan bahwa tekanan tidak sepenuhnya merata di seluruh sektor. Sektor konsumer primer justru muncul sebagai penopang dengan kenaikan 2,26 persen. Kenaikan besar itu ditopang oleh pergerakan saham seperti IMAS, AMRT, hingga ASII.
Di tengah tekanan pasar, sektor ini menjadi salah satu titik yang masih menyerap aliran dana.
Sebaliknya, sektor infrastruktur menjadi pemberat utama dengan penurunan 0,92 persen. Pelemahan pada saham seperti JSMR dan ISAT menunjukkan bahwa tekanan masih terasa pada sektor yang sensitif terhadap biaya dan dinamika makro.
Ketika sektor ini bergerak turun, indeks cenderung kehilangan salah satu penopang utama dari sisi kapitalisasi.
Dari sisi aktivitas, nilai transaksi mencapai Rp13,13 triliun dengan volume 273,5 juta lot saham. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas tetap tinggi, namun arah pergerakan lebih condong ke distribusi dibanding akumulasi.
Komposisi saham yang bergerak juga mencerminkan hal serupa, dengan tekanan yang masih terasa pada sejumlah saham besar di indeks LQ45.
Saham seperti DSSA dan BREN mencatat pelemahan tajam, diikuti MAPI, ADMR, hingga MBMA dan ITMG. Di sisi lain, penguatan pada AMMN, BUMI, dan INCO menunjukkan bahwa aliran dana masih bergerak selektif, terutama ke saham berbasis komoditas yang mendapatkan dukungan dari harga energi.
Bursa Asia Masih Bervariasi
Pergerakan ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika global yang masih membentuk arah pasar. Bursa Asia pada sore hari bergerak variatif, mencerminkan ketidakpastian yang belum sepenuhnya mereda.
Nikkei 225 dan Kospi mampu menguat, sementara Kosdaq justru terkoreksi, menunjukkan bahwa respons pasar terhadap sentimen global tidak seragam.
Sentimen utama tetap datang dari ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait Selat Hormuz. Ancaman yang disampaikan Presiden AS Donald Trump serta potensi respons dari Iran membuat pasar berada dalam posisi waspada.
Namun, laporan mengenai peluang gencatan senjata selama 45 hari memberikan sedikit ruang penenangan, meski belum cukup kuat untuk membalikkan arah pasar secara menyeluruh.
Rupiah Melemah, Yen di Atas Angin
Pergerakan mata uang memperlihatkan arah yang lebih defensif. Yen dan dolar Singapura menguat, sementara rupiah melemah ke level 17.035 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini menjadi salah satu refleksi dari tekanan eksternal yang masih terasa, terutama ketika risiko global meningkat.
Di sisi komoditas, harga minyak bergerak variatif setelah lonjakan tajam pada sesi sebelumnya. Brent berada di USD109,79 per barel, sementara WTI bergerak di USD111,01 per barel.
Pergerakan yang relatif terbatas ini menunjukkan bahwa pasar mulai menunggu kejelasan arah, terutama terkait perkembangan geopolitik dan potensi pembukaan kembali jalur distribusi minyak.
Jika ditarik ke keseluruhan alur perdagangan, IHSG hari ini bergerak dalam pola yang lebih mencerminkan penyesuaian daripada kepanikan. Tekanan tetap ada, namun tidak berkembang menjadi tekanan ekstrem.
Upaya penahanan di sesi kedua menunjukkan bahwa pasar mulai mencari keseimbangan di tengah ketidakpastian yang belum sepenuhnya mereda.
Dengan struktur seperti ini, arah IHSG dalam waktu dekat masih akan sangat bergantung pada perkembangan eksternal.
Selama sentimen global belum memberikan kepastian, pergerakan indeks cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan fluktuatif, di mana setiap tekanan dan rebound terjadi dalam ritme yang relatif terukur.(*)