KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, di tengah tingginya volatilitas pasar akibat implementasi rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan derasnya arus keluar dana asing dari pasar domestik.
Hingga pukul 09.00 WIB, IHSG turun 124,17 poin atau 1,85 persen ke level 6.599,15 setelah bergerak di rentang 6.593,73 hingga 6.631,28. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp885,93 miliar dengan volume perdagangan 11,36 juta lot dan frekuensi sebanyak 111,43 ribu kali.
Tekanan jual masih mendominasi mayoritas saham berkapitalisasi besar, terutama emiten sektor energi, infrastruktur, transportasi, dan basic industry. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor basic industry atau bahan baku yang turun 4,72 persen, diikuti sektor transportasi minus 3,16 persen, sektor infrastruktur melemah 2,57 persen, sektor energi turun 2,05 persen, dan sektor industrial terkoreksi 2,03 persen.
Sementara itu, sektor cyclical melemah 2,01 persen, sektor keuangan turun 0,96 persen, sektor non-cyclical turun 0,92 persen, sektor teknologi melemah 0,82 persen, sektor properti terkoreksi 0,59 persen, dan sektor kesehatan turun 0,52 persen.
Tekanan besar di sektor energi dan bahan baku terlihat dari anjloknya sejumlah saham big caps. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dengan kode saham DSSA dari sektor energi dan pertambangan tercatat turun 14,01 persen ke level 890. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk berkode TPIA yang bergerak di sektor petrokimia dan industri dasar juga terkoreksi 13,72 persen ke level 3.710.
Selain itu, saham PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk atau ELPI dari sektor transportasi dan logistik turun 10 persen ke level 1.800. PT Prima Globalindo Logistik Tbk berkode PPGL dari sektor logistik juga turun 10 persen ke harga 198.
Di tengah tekanan pasar, beberapa saham lapis kecil masih mampu mencatatkan penguatan signifikan. Saham PT Berkah Prima Perkasa Tbk dengan kode BLUE dari sektor perdagangan melonjak 21,03 persen ke level 3.510. PT Argha Karya Prima Industry Tbk berkode AKPI dari sektor plastik dan kemasan naik 14,02 persen menjadi 610.
Selanjutnya, saham PT Batavia Prosperindo Trans Tbk atau BPTR dari sektor transportasi menguat 12,05 persen ke level 93. PT Sunson Textile Manufacture Tbk berkode SSTM dari sektor tekstil naik 10,34 persen menjadi 640, sedangkan PT Kentanix Supra International Tbk berkode KSIX menguat 9,76 persen ke level 360.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memperkirakan IHSG masih berada dalam fase bearish pada perdagangan pekan ini dengan rentang support di area 6.640 hingga 6.538. Sementara itu, level 6.723 dinilai menjadi area penting yang perlu dijaga pasar dalam jangka pendek.
“Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dari sektor pertambangan tembaga dan emas, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dari sektor energi terbarukan, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dari sektor petrokimia, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari sektor energi, hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dari sektor tambang menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” ujar Imam Gunadi dalam risetnya yang diterima Kabarbursa.com pada Senin, 18 Mei 2026.
Menurut dia, tekanan terhadap IHSG sepanjang pekan lalu menjadi salah satu fase paling menantang bagi pasar saham Indonesia tahun ini. Koreksi indeks dinilai tidak lagi sekadar dipengaruhi faktor valuasi maupun kinerja emiten, melainkan lebih dipicu reposisi portofolio investor global menjelang effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026.
Investor asing disebut mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sehingga menciptakan gelombang passive outflow yang cukup agresif di pasar saham domestik. Kondisi tersebut membuat IHSG ditutup melemah tajam ke level 6.723 pada perdagangan sebelumnya.
Tekanan eksternal juga memperburuk kondisi pasar. Inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali mundur. Bahkan sebagian pelaku pasar mulai membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun.
“Situasi ini membuat dolar AS terus menguat dan menekan mata uang emerging markets, termasuk Rupiah yang sempat menyentuh level terlemah baru di Rp17.600 per dolar AS,” katanya.
Selain sentimen suku bunga global, konflik geopolitik di Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi energi akibat krisis Selat Hormuz turut mendorong harga minyak dunia melonjak di atas USD105 per barel.
“Kombinasi dolar yang kuat, harga minyak tinggi, dan arus keluar asing akhirnya menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar domestik,” tutur Imam.
Meski tekanan pasar terjadi hampir di seluruh sektor, IPOT melihat adanya rotasi sektoral yang cukup menarik selama koreksi berlangsung. Sektor energi menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat keluarnya sejumlah saham besar dari MSCI, terutama DSSA dan BREN yang diperkirakan menghadapi passive outflow bernilai triliunan rupiah.
Dari sisi komoditas, dinamika geopolitik masih menjadi motor utama pergerakan harga global. Harga minyak terus menguat akibat kekhawatiran undersupply global, sementara harga batu bara tetap solid karena pergeseran konsumsi energi Asia dari LNG menuju batu bara di tengah konflik berkepanjangan.
Kondisi tersebut dinilai masih memberikan tailwind bagi emiten batu bara domestik. Sementara itu, harga emas mulai mengalami profit taking setelah pasar melihat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil. Untuk komoditas nikel, koreksi harga lebih dipengaruhi aksi profit taking dan tingginya inventori global dibanding perubahan fundamental jangka panjang.
Di dalam negeri, keputusan pemerintah menunda kenaikan royalti minerba dinilai menjadi sentimen positif bagi emiten tambang dan operator smelter karena mampu menjaga margin profitabilitas di tengah volatilitas global.
Aliran dana asing selama pekan lalu juga menunjukkan investor global belum sepenuhnya meninggalkan Indonesia. Foreign sell sebesar Rp3,21 triliun lebih banyak terkonsentrasi pada saham-saham yang terdampak penghapusan MSCI dan sektor perbankan besar.
Untuk pekan ini, fokus utama pasar diperkirakan masih tertuju pada implementasi rebalancing MSCI menjelang effective date pada 29 Mei 2026. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.
Sementara itu, MNC Sekuritas menilai posisi pergerakan IHSG saat ini masih menjadi bagian dari gelombang A wave (2) sehingga indeks masih rawan melanjutkan koreksi menuju area 6.644 hingga 6.711 dengan area gap di rentang 6.538 sampai 6.585 yang perlu dicermati investor. MNC Sekuritas memperkirakan area penguatan terdekat IHSG berada di kisaran 6.758 hingga 6.777 dengan support pada level 6.682 dan 6.585, sedangkan resistance berada di level 6.917 hingga 7.069.(*)