KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Kembali mendekati level 9.000 di perdagangan sesi pertama Senin, 26 Januari 2026. IHSG ditutup menguat 21 poin atau 0,24 persen ke level 8.972, dengan aktivitas transaksi yang tetap terjaga.
Sepanjang sesi, volume perdagangan tercatat mencapai 334,4 juta lot saham dengan nilai transaksi Rp20,94 triliun, mencerminkan partisipasi pelaku pasar yang relatif aktif meski tanpa dorongan euforia.
Penguatan IHSG ditopang oleh pergerakan selektif saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya dari kelompok komoditas dan energi. Di jajaran saham LQ45, ANTM, AMMN, DSSA, NCKL, AKRA, ISAT, dan PGEO menjadi penopang utama indeks.
Kinerja saham-saham tersebut sejalan dengan penguatan sektor basic industry atau bahan baku yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 4,47 persen, menunjukkan rotasi minat investor ke sektor yang sensitif terhadap harga komoditas dan permintaan global.
Sebaliknya, tekanan terlihat pada sektor perindustrian yang menjadi pemberat utama IHSG dengan koreksi 1,59 persen. Sejumlah saham di sektor ini bergerak melemah, seperti GMFI yang turun 1,39 persen, ACST 1,36 persen, ASII 1,10 persen, ADHI 0,80 persen, serta PTPP yang juga berada di zona negatif.
Pergerakan ini mengindikasikan bahwa investor masih berhati-hati terhadap sektor yang sangat bergantung pada belanja modal dan proyek, di tengah ketidakpastian global yang berlanjut.
Nikkei Terkoreksi, Shanghai Bergerak Terbatas
Dari sisi regional, pergerakan bursa Asia cenderung beragam dan tidak membentuk satu arah yang jelas. Tekanan paling terasa di Jepang, di mana Nikkei 225 terkoreksi 2,07 persen dan Topix melemah 2,15 persen.
Pelemahan ini terjadi seiring penguatan yen yang tajam, yang memicu kekhawatiran terhadap dampak negatif bagi eksportir Jepang. Sinyal dari pemerintah Jepang yang menyatakan kesiapan untuk meredam aktivitas spekulatif di pasar valuta asing turut meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar.
Di China, indeks saham bergerak lebih terbatas. Shanghai Composite naik tipis 0,12 persen dan CSI300 menguat 0,27 persen, sementara Shenzhen Component terkoreksi 0,74 persen. Pergerakan yang terfragmentasi ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap prospek pemulihan ekonomi China, di tengah dinamika kebijakan dan permintaan domestik yang belum sepenuhnya solid.
Hang Seng Hong Kong bergerak tipis di zona hijau dengan kenaikan 0,10 persen, sementara Kospi Korea Selatan melemah 0,88 persen. Bursa Taiwan dan Australia justru mencatat penguatan moderat, dengan Taiex naik 0,53 persen dan ASX200 menguat 0,13 persen.
Sentimen geopolitik turut menjadi faktor yang membayangi pasar Asia. Pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney yang menegaskan bahwa Kanada tidak berniat mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan China, menyusul ancaman tarif 100 persen dari Presiden AS Donald Trump, menambah lapisan ketidakpastian dalam hubungan dagang global.
Isu ini memperkuat persepsi risiko, khususnya bagi negara-negara yang berada di persimpangan kepentingan perdagangan antara Amerika Serikat dan China.
Yen Menguat, Diikuti Rupiah dan Ringgit
Di pasar mata uang Asia, penguatan yen menjadi sorotan utama. Yen menguat 1,09 persen ke level 153,96 per dolar AS, mencerminkan meningkatnya ekspektasi intervensi otoritas Jepang untuk menahan volatilitas.
Penguatan yen ini memberi tekanan tambahan pada dolar AS secara luas, sebagaimana dicatat oleh ekonom Barclays yang menilai bahwa risiko intervensi yen dapat memperburuk arus dana ke dolar, meski kebijakan moneter AS masih cenderung hawkish.
Sejumlah mata uang Asia lainnya turut menguat terhadap dolar AS. Rupiah menguat 0,29 persen ke level 16.772 per dolar AS, ringgit Malaysia naik 0,89 persen ke 3,9705 per dolar AS, dolar Singapura menguat 0,35 persen, dan dolar Australia naik 0,30 persen.
Yuan China juga mencatat penguatan tipis, sementara rupee India melemah 0,36 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap dolar AS cukup merata, seiring pergeseran arus dana global dan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik dan kebijakan.
Secara keseluruhan, perdagangan sesi pertama memperlihatkan IHSG mampu bertahan di zona hijau dengan dukungan sektor bahan baku dan saham-saham tertentu, meski sentimen eksternal masih rapuh.
Pasar domestik tampak mengambil posisi defensif, memanfaatkan momentum selektif di tengah ketidakpastian global yang tercermin dari pergerakan bursa Asia dan dinamika mata uang regional.(*)