Logo
>

IHSG Lesu, Bursa Asia Terkoreksi Usai Trump Kibarkan Ancaman Tarif Baru

IHSG turun tipis ke 6.861 di tengah sentimen negatif dari tarif baru AS. Sempat dibuka naik, indeks berbalik lesu seiring tekanan global dan aksi wait and see investor.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Lesu, Bursa Asia Terkoreksi Usai Trump Kibarkan Ancaman Tarif Baru
Aktivitas di papan pantau Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak pelan di awal pekan. Hingga penutupan sesi pertama perdagangan Senin, 7 Juli 2025, IHSG turun tipis 4 poin atau 0,05 persen ke level 6.861. 

Volume transaksi terpantau cukup aktif, mencapai 79,62 juta lot saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp3,57 triliun. Namun, pergerakan indeks yang datar menunjukkan pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi, seiring tekanan eksternal yang kembali mengemuka.

Sentimen negatif datang dari arah Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump kembali melempar wacana soal tarif resiprokal terhadap negara-negara yang belum mencapai kesepakatan perdagangan dengan Washington. Ia menyebut tarif ini akan mulai berlaku pada 1 Agustus. 

Tak hanya itu, Trump juga menambahkan bahwa tarif tambahan sebesar 10 persen akan dikenakan kepada negara-negara yang menurutnya "berpihak pada kebijakan anti-Amerika BRICS". Pernyataan itu disampaikan menjelang pertemuan tingkat tinggi negara-negara BRICS di Rio de Janeiro, Brasil.

Langkah AS ini jelas membuat pasar Asia gelisah. Hampir semua indeks saham utama di kawasan kompak terkoreksi. Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,45 persen, Topix turun 0,48 persen. 

Tiongkok juga tidak luput, Shanghai Composite melemah 0,21 persen, Shenzhen Component terpangkas 0,70 persen, dan CSI300 kehilangan 0,59 persen. Hang Seng Hong Kong turun 0,45 persen, sedangkan Taiex Taiwan terkoreksi paling dalam dengan pelemahan 0,72 persen. 

Satu-satunya yang bertahan di zona hijau hanyalah indeks Kospi Korea Selatan yang naik 0,19 persen. Sementara ASX200 Australia terkoreksi tipis 0,23 persen.

Tekanan juga terasa di pasar mata uang. Sejumlah kurs Asia tertekan terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,35 persen, dolar Singapura turun 0,20 persen, dan dolar Australia anjlok 0,79 persen ke level USD0,6504. 

Di kawasan Asia Selatan, rupee India melemah 0,38 persen, sementara yuan Tiongkok dan ringgit Malaysia masing-masing turun 0,10 persen dan 0,33 persen. Rupiah sendiri melemah 0,36 persen ke posisi Rp16.244 per dolar AS, kembali mendekati level terlemahnya tahun ini.

Secara keseluruhan, pasar Asia memulai minggu dengan nada muram. Ketidakpastian global yang dipicu oleh retorika baru Gedung Putih membuat investor mengambil posisi defensif. 

Dengan sentimen eksternal yang masih cenderung negatif dan belum ada katalis penggerak dari dalam negeri, IHSG pun ikut tertahan. Untuk sementara, pasar tampaknya memilih menunggu arah yang lebih jelas, sembari menjaga posisi dari risiko-risiko baru yang bisa muncul sewaktu-waktu.

IHSG Sempat Dibuka Cerah, Naik 9 Poin

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,14 persen atau meningkat 9 poin ke level 6.874 pada perdagangan Senin, 7 Juli 2025.

Mengutip perdagangan RTI Business, sebanyak 179 saham dibuka menghijau, 95 saham koreksi, dan 277 saham mengalami stagnan. 

Volume perdagangan pada pembukaan hari ini senilai 128,190 juta lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp75,214 miliar.

Sementara itu merujuk data Stockbit, saham PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) berada di posisi teratas top gainer usai melonjak paling tinggi di antara para penguat dengan kenaikan 18,60 persen atau 160 poin ke level Rp1.020.

Mengikuti di antara deretan penguat adalah saham PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) yang naik 12,26 persen menjadi Rp238, serta PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) yang menguat 12,14 persen ke Rp388.

Saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) turut mencatat kenaikan 10,09 persen ke level Rp240, sedangkan PT Megapower Makmur Tbk (MPOW) menguat 7,50 persen ke posisi Rp129.

Di sisi lain, tekanan jual dialami sejumlah saham sehingga masuk ke dalam daftar top loser. Saham PT Sumber Sinergi Makmur Tbk (IOTF) mencatat penurunan terdalam sebesar 14,61 persen ke level Rp76. Disusul oleh ITSEC Asia Tbk (CYBR) yang turun 11,29 persen menjadi Rp825.

Tak kalah mencolok, saham PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) yang dikenal sebagai produsen permen jelly, terkoreksi 10,73 persen ke posisi Rp2.080. 

Kemudian PT Isra Presisi Indonesia Tbk (ISAP) turun 9,09 persen ke Rp10, dan PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) melemah 8,62 persen ke Rp53.

Dari sisi sektoral, sektor infrastruktur mencatatkan performa paling positif dengan kenaikan 0,46 persen, diikuti sektor cyclical yang naik 0,59 persen dan teknologi yang menguat 0,36 persen. 

Adapun sektor properti, finance, dan non-cyclical masih terkoreksi, masing-masing sebesar 0,39 persen, 0,29 persen, dan 0,16 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79