Logo
>

IHSG Pekan ini Diramal Bullish Lagi, ke Mana Flow-nya?

Penguatan IHSG berlanjut hingga pertengahan Januari 2026, ditopang arus dana asing, reli harga komoditas, dan sentimen awal tahun meski risiko global masih membayangi.

Ditulis oleh Syahrianto
IHSG Pekan ini Diramal Bullish Lagi, ke Mana Flow-nya?
Laju penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan tren bullish yang solid memasuki pertengahan Januari 2026. (Foto: Dok. KabarBursa)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Laju penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan tren bullish yang solid memasuki pertengahan Januari 2026. 

    Sepanjang sepekan terakhir, IHSG tercatat menguat 0,13 persen ke level 8.936, sekaligus menandai keberlanjutan reli pasar saham domestik sejak awal tahun.

    Tak hanya itu, IHSG bahkan kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) dengan menyentuh level 9.000 pada perdagangan Kamis, 8 Januari 2026 pekan lalu. Capaian ini menegaskan kuatnya sentimen risk-on di pasar, seiring kombinasi faktor global dan domestik yang dinilai masih mendukung pergerakan indeks.

    Dari sisi aliran dana, minat investor asing kembali menjadi katalis utama. Sepanjang sepekan terakhir, investor global tercatat melakukan pembelian bersih di pasar reguler hingga mencapai Rp1,6 triliun. Arus modal ini memperkuat persepsi bahwa pasar saham Indonesia masih dipandang atraktif di tengah dinamika ekonomi global.

    Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menjelaskan bahwa pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir tidak lepas dari perpaduan sentimen global dan domestik yang relatif kondusif.

    “Pergerakan IHSG masih ditopang sentimen eksternal dan internal yang relatif konstruktif,” ujar David, Senin, 12 Januari 2026.

    Dari faktor global, pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan moneter Jepang. Sikap hawkish Bank of Japan (BoJ) yang memberi sinyal potensi kenaikan suku bunga memunculkan kekhawatiran terkait unwinding carry trade. Kondisi ini berpotensi memicu penarikan likuiditas global, mengingat selama ini Yen kerap digunakan sebagai sumber pembiayaan murah untuk investasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Namun demikian, potensi tekanan tersebut dinilai belum sepenuhnya menekan pasar domestik. Hal ini disebabkan oleh sentimen global lain yang justru memberikan dorongan positif, terutama dari pergerakan harga komoditas.

    Reli harga komoditas tambang dan energi masih berlanjut, dengan tembaga mencetak rekor tertinggi seiring meningkatnya permintaan dari sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan dan kendaraan listrik. Lonjakan harga komoditas ini memberikan sentimen positif bagi saham-saham sektor barang baku dan energi di Bursa Efek Indonesia, yang selama ini memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan IHSG.

    “Reli komoditas global menjadi penyangga penting bagi IHSG,” kata David.

    Dari dalam negeri, sentimen awal tahun turut memperkuat momentum penguatan indeks. Fenomena January Effect kembali terlihat, di mana aktivitas reinvestasi portofolio oleh manajer investasi mendorong peningkatan permintaan saham-saham unggulan. Kondisi ini tercermin dari keberhasilan IHSG menembus level psikologis 9.000 secara intraday hingga menyentuh 9.002,92.

    Selain itu, derasnya arus modal asing menjadi sinyal kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Bank Indonesia mencatat beli bersih investor asing sebesar Rp1,44 triliun hanya dalam pekan pertama Januari 2026. Masuknya dana asing ini dinilai mencerminkan optimisme terhadap stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan, serta kebijakan yang dinilai pro-pasar.

    “Masuknya dana asing menunjukkan persepsi risiko Indonesia masih atraktif,” ujar David.

    Memasuki pekan perdagangan 12 hingga 15 Januari 2026 yang hanya berlangsung empat hari akibat libur Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, David menilai IHSG masih berada dalam fase bullish. Meski durasi perdagangan lebih singkat, peluang penguatan dinilai tetap terbuka selama tidak muncul sentimen negatif yang bersifat ekstrem.

    “IHSG masih berada dalam tren naik selama support terjaga,” ucapnya.

    Dalam kondisi pasar seperti ini, David merekomendasikan pendekatan selektif dengan strategi follow the money. Strategi ini menitikberatkan pada pemantauan saham-saham yang berada dalam tren naik dan didukung oleh aliran dana yang besar, khususnya dari investor institusi.

    Berdasarkan pergerakan terakhir, sektor properti dan tambang terlihat mencatatkan money flow yang relatif kuat. Aktivitas akumulasi di kedua sektor tersebut mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap prospek kinerja yang masih menarik, baik dari sisi siklus bisnis domestik maupun dukungan harga komoditas global.

    Trader bisa fokus pada saham uptrend dengan money flow tinggi, terutama di properti dan tambang,” kata David.

    Meski demikian, ia mengingatkan pelaku pasar untuk tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Dinamika global, terutama terkait kebijakan moneter negara maju dan pergerakan nilai tukar, masih berpotensi memicu volatilitas jangka pendek.

    Adapun sentimen utama yang perlu dicermati pelaku pasar pada pekan ini adalah rilis data Neraca Perdagangan Indonesia periode Desember. Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kinerja ekspor dan impor nasional, sekaligus menjadi indikator kesehatan sektor eksternal ekonomi Indonesia.

    Rilis data neraca perdagangan ini dinilai berpotensi memengaruhi persepsi investor, terutama dalam menentukan arah aliran modal asing dan pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Jika data menunjukkan surplus yang solid, pasar berpeluang merespons positif dan menjaga momentum penguatan indeks.

    IHSG dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren bullish dalam jangka pendek, meski dengan tetap memperhatikan risiko koreksi teknikal. Ia tidak menyebutkan berapa rentang kenaikannya. (*) 

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.