KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan berhasil bertahan di zona hijau pada perdagangan sesi I Rabu, 7 Januari 2026. Pergerakannya semakin merapat ke level psikologis baru.
IHSG ditutup menguat 0,14 persen atau bertambah 12 poin ke posisi 8.946, setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di 8.970 dan terendah di 8.925. Pasar domestik masih memiliki daya tahan yang kuat meskipun sentimen global belum sepenuhnya kondusif.
Dari sisi aktivitas, likuiditas pasar tergolong solid. Volume transaksi tercatat sekitar 421,6 juta lot dengan nilai mencapai Rp21,6 triliun dan frekuensi 2,71 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp16.310 triliun.
Namun, sebaran penguatan tidak sepenuhnya merata. Sebanyak 365 saham menguat, 338 saham melemah, dan 255 saham bergerak stagnan, mencerminkan pasar yang selektif dan belum memasuki fase euforia.
Kekuatan IHSG terutama ditopang oleh sektor-sektor berbasis siklus dan komoditas. Sektor bahan baku memimpin penguatan dengan kenaikan 2,16 persen, disusul sektor industri yang melonjak 2,12 persen.
Sektor energi juga menguat 0,69 persen, sejalan dengan kembali diminatinya saham-saham berbasis sumber daya alam. Sektor konsumer primer, kesehatan, dan infrastruktur turut mencatatkan penguatan moderat, memberi bantalan tambahan bagi indeks.
Sebaliknya, tekanan masih terasa di sektor-sektor yang sensitif terhadap daya beli dan sentimen defensif. Sektor konsumer non primer menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,42 persen, diikuti sektor transportasi yang turun 0,68 persen.
Sektor keuangan, teknologi, dan properti juga bergerak di zona merah tipis. Pelemahan ini menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya percaya diri untuk kembali agresif di saham-saham berbasis konsumsi dan pertumbuhan.
Di jajaran saham berkapitalisasi besar, penguatan IHSG ditopang oleh performa saham-saham LQ45 berbasis komoditas dan energi. INCO, NCKL, ANTM, hingga MBMA dan AMMN menjadi motor penggerak indeks.
Sementara itu, tekanan datang dari saham-saham seperti JPFA, BRPT, MEDC, INDF, HEAL, hingga GOTO dan CTRA, yang membatasi laju kenaikan IHSG agar tidak melesat lebih jauh.
Nikkei dan Topix Terkoreksi
Sementara pasar domestik menunjukkan ketahanan, bursa Asia justru bergerak beragam dan cenderung tertekan oleh sentimen global. Saham-saham sektor pertahanan di kawasan Asia menghentikan reli dua hari berturut-turut, lantaran investor kembali mencermati risiko geopolitik.
Data inflasi Korea Selatan yang lebih rendah dari ekspektasi memberi sinyal meredanya tekanan harga. Indeks Harga Konsumen Korsel tercatat naik 3,4 persen secara tahunan pada November, di bawah proyeksi pasar.
Meski demikian, sentimen positif dari data tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat pasar saham Asia secara keseluruhan, yang masih dibayangi ketidakpastian global.
Pergerakan indeks-indeks utama Asia mencerminkan kondisi tersebut. Nikkei dan Topix di Jepang terkoreksi, Hang Seng Hong Kong melemah lebih dari satu persen, sementara bursa China daratan masih mampu bertahan di zona hijau tipis.
Pasar Australia bergerak positif, sedangkan Korea Selatan dan Taiwan ditutup melemah.
Di pasar valuta asing Asia, pergerakan mata uang juga menunjukkan sikap hati-hati. Yen menguat tipis terhadap dolar AS, sementara rupiah melemah 0,14 persen ke level 16.782 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan arus modal global yang masih fluktuatif dan belum sepenuhnya berpihak pada aset berisiko di kawasan.
Dengan kondisi tersebut, keberhasilan IHSG bertahan di atas level 8.900 menjadi sinyal penting. Pasar domestik menunjukkan daya tahan di tengah tekanan eksternal, namun kenaikan yang terjadi masih bersifat selektif dan bertumpu pada sektor-sektor tertentu.
Selama sentimen global belum mereda, pergerakan IHSG ke depan berpotensi tetap diwarnai tarik-ulur antara optimisme domestik dan kehati-hatian terhadap risiko global.(*)