Logo
>

IHSG Tutup Sesi I di Angka Cantik 6.969, Sektor Energi Naik

Sektor energi menguat mengikuti lonjakan minyak, namun tekanan industri dan pelemahan rupiah menahan laju IHSG di sesi pertama perdagangan.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Tutup Sesi I di Angka Cantik 6.969, Sektor Energi Naik
IHSG menutup sesi pertama perdagangan hari ini masih di level 6.000-an. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama Selasa, 7 April 2026, kembali menunjukkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda. Indeks turun 20 poin atau 0,29 persen ke level 6.969, memperpanjang fase pelemahan yang masih terjadi sejak pembukaan pekan ini. 

Di balik penurunan tersebut, aktivitas transaksi justru tetap tinggi dengan volume mencapai 174,2 juta lot dan nilai transaksi Rp72,35 triliun. Artinya, pasar masih aktif meski arah pergerakan cenderung tertahan.

Pergerakan saham di dalam indeks memperlihatkan rotasi yang tidak merata. Di kelompok LQ45, penguatan ditopang oleh saham-saham seperti DSSA, BRPT, BREN, AKRA, hingga MEDC, yang bergerak di tengah dorongan sektor energi dan komoditas. 

Namun di sisi lain, tekanan datang dari saham seperti ADMR, ANTM, ADRO, ASII, hingga EMTK, yang menahan laju indeks secara keseluruhan.

Sektor Energi Naik 0,72 Persen

Secara sektoral, energi menjadi satu-satunya ruang yang masih mampu bertahan di zona positif dengan kenaikan 0,72 persen. Pergerakan ini didorong oleh penguatan saham INDY yang melonjak 6,34 persen dan MEDC yang naik 1,88 persen, mengikuti arah harga minyak global yang terus bergerak naik. 

Kenaikan di sektor ini memberikan bantalan terhadap indeks, meskipun belum cukup kuat untuk menahan tekanan dari sektor lain.

Sebaliknya, sektor perindustrian menjadi penekan utama dengan penurunan 2,12 persen. Koreksi terlihat cukup merata di saham-saham berbasis konstruksi dan otomotif. Contohnya ADHI turun 4,26 persen, ASII melemah 2,87 persen, UNTR turun 2,45 persen, hingga PTPP yang terkoreksi 1,60 persen. 

Pola ini memperlihatkan tekanan yang lebih dalam pada sektor yang sensitif terhadap aktivitas ekonomi domestik.

Bursa Asia Fluktuatif

Dinamika domestik ini bergerak sejalan dengan kondisi pasar Asia yang masih berada dalam fase fluktuatif. Indeks-indeks utama di kawasan tidak menunjukkan arah yang seragam.

Indeks Nikkei 225 turun tipis 0,07 persen, sementara Topix justru naik 0,10 persen. Di China, pergerakan juga terbagi antara penguatan terbatas pada Shanghai Composite sebesar 0,03 persen dan pelemahan Shenzhen Component sebesar 0,20 persen. Pelaku pasar tampak masih bersikap hati-hati.

Di kawasan lain, Kospi Korea Selatan menguat 0,25 persen, sementara Kosdaq justru terkoreksi lebih dalam hingga 1,40 persen. Australia menjadi pengecualian dengan S&P/ASX200 yang naik cukup signifikan sebesar 1,51 persen.

Di sini, ada aliran minat pada saham-saham berbasis komoditas yang sejalan dengan kenaikan harga energi.

Rupiah Turun, Yen Mengikuti

Tekanan juga tercermin pada pergerakan mata uang Asia yang cenderung melemah terhadap dolar AS. Rupiah turun 0,28 persen ke level Rp17.082 per dolar AS, sejalan dengan pelemahan mata uang regional seperti ringgit yang turun 0,22 persen dan baht yang melemah 0,17 persen. 

Yen Jepang juga turun tipis ke 159,76 per dolar AS, sementara dolar Singapura dan dolar Australia mengalami pelemahan terbatas.

Di tengah pelemahan tersebut, hanya beberapa mata uang yang bergerak menguat, seperti yuan China yang naik 0,10 persen dan rupee India yang menguat dalam kisaran yang sama. 

Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang kawasan masih berlangsung, meskipun tidak terjadi secara seragam di seluruh negara.

Selat Hormuz Masih Panas

Faktor eksternal yang membentuk pergerakan pasar masih berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan ancaman langsung terhadap infrastruktur sipil jika tuntutan pembukaan Selat Hormuz tidak dipenuhi. 

Pernyataan tersebut meningkatkan ketidakpastian terhadap jalur distribusi energi global yang menjadi salah satu titik krusial dalam rantai pasok minyak dunia.

Situasi ini langsung tercermin pada harga minyak yang kembali bergerak naik. Minyak mentah Brent naik 0,5 persen ke level USD110,34 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih tinggi sebesar 1,1 persen ke USD113,67 per barel. 

Kenaikan harga ini mempertegas respons pasar terhadap potensi gangguan pasokan, sekaligus menjadi faktor yang mendorong sektor energi di pasar saham.

Di tengah rangkaian sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada sesi pertama terlihat berada dalam tekanan yang datang dari dua arah. Di satu sisi, sektor energi mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak global. 

Namun di sisi lain, tekanan pada sektor domestik serta pelemahan mata uang menjaga indeks tetap berada di zona negatif hingga pertengahan hari perdagangan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79