KABARBURSA.COM – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melanjutkan aktivitas eksplorasi nikel sepanjang kuartal IV 2025 dengan fokus pada wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), seiring penguatan kinerja operasional dan percepatan proyek pengembangan tambang Bahodopi dan Pomalaa.
Dalam laporan eksplorasi bulanan periode Oktober hingga Desember 2025, perseroan mencatat kegiatan eksplorasi berlangsung di Blok Sorowako dan Sorowako Outer Area di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Blok Bahodopi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, serta Blok Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Manajemen INCO menyampaikan bahwa eksplorasi difokuskan pada peningkatan tingkat keyakinan sumber daya, khususnya di wilayah Pomalaa.
“Seluruh kegiatan eksplorasi diarahkan untuk meningkatkan kualitas data sumber daya dan cadangan di dalam wilayah IUPK,” tulis manajemen dalam laporan resmi perseroa, Jumat, 9 Januari 2026.
Dari sisi biaya, INCO mencatat pengeluaran eksplorasi sebesar USD657.892,63 pada Oktober 2025, USD508.778,62 pada November 2025, dan USD507.080,84 pada Desember 2025. Secara kumulatif, total biaya eksplorasi selama tiga bulan tersebut mencapai sekitar USD1,67 juta.
Eksplorasi dilakukan menggunakan metode core drilling HQ-3 dengan jarak antar titik 100 meter dan 50 meter di Blok 1 Tetenggala dan Blok 1 Lalombundi (Pomalaa).
Selain itu, survei geofisika dengan metode Geolistrik Electrical Resistivity Tomography (ERT) juga dilakukan di area Tetenggala. Kegiatan eksplorasi dilaksanakan oleh INCO bersama kontraktor pengeboran dan geofisika pihak ketiga.
Manajemen menyampaikan bahwa hasil pengujian dari kegiatan eksplorasi tersebut masih dalam tahap penghitungan sumber daya dan cadangan dengan metode ordinary krigging, khususnya untuk wilayah Sorowako. Proses ini menjadi dasar evaluasi lanjutan atas potensi pengembangan tambang.
Aktivitas eksplorasi ini berlangsung seiring penguatan kinerja operasional INCO sepanjang triwulan ketiga 2025. Perseroan mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 19.391 metrik ton pada 3T25, naik 4 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara kumulatif, produksi selama sembilan bulan 2025 mencapai 54.975 metrik ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain nikel matte, INCO juga mulai mencatat kontribusi dari penjualan bijih nikel saprolit, termasuk pengiriman awal dari Blok Bahodopi dan Pomalaa.
Hingga September 2025, total penjualan bijih nikel saprolit mencapai 896.263 metrik ton basah, menandai dimulainya diversifikasi portofolio penjualan perseroan.
Dari sisi keuangan, INCO membukukan pendapatan USD278,6 juta pada 3T25, meningkat 27 persen secara kuartalan. EBITDA tercatat USD74,6 juta, sementara laba bersih mencapai USD27,2 juta. Untuk periode sembilan bulan 2025, laba bersih tercatat USD52,4 juta.
Perseroan juga mencatat belanja modal sebesar USD331,4 juta sepanjang 9M25, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan belanja modal tersebut mencerminkan percepatan pengembangan proyek Bahodopi dan Pomalaa, yang turut didukung oleh aktivitas eksplorasi lanjutan.
Ke depan, INCO berencana melanjutkan pengeboran lanjutan di Blok 1 Lalombundi dan Blok 1 Tetenggala serta meneruskan survei geofisika ERT.
Seluruh kegiatan diarahkan untuk memperoleh profil laterit yang lebih lengkap dan mendukung keberlanjutan cadangan nikel perseroan dalam jangka panjang. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.