KABARBURSA.COM – Pergerakan bursa Asia pada perdagangan hari ini ditopang sentimen positif pasar global dan kembalinya minat investor terhadap aset berisiko.
Sentimen positif ini mendorong mayoritas indeks utama kawasan ditutup menguat. Penguatan terjadi di Tokyo, Seoul, Hong Kong, hingga Shanghai seiring membaiknya selera risiko pelaku pasar.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 ditutup di level 57.650,54 atau naik 1.286,60 poin setara 2,28 persen dibanding sesi sebelumnya.
Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya minat beli pada saham-saham utama, sementara pelaku pasar juga mencermati dinamika pergerakan yen terhadap dolar AS yang turut memengaruhi posisi investor di pasar saham Jepang.
“Untuk mengambil posisi long yen, Anda harus percaya korelasinya terhadap Nikkei akan patah dan itu menjadi transaksi ‘buy Japan’ tanpa lindung nilai,” kata Brent Donnelly, currency trader sekaligus pendiri Spectra Markets, dikutip dari Reuters, Rabu, 11 Februari 2026.
Di Korea Selatan, indeks Kospi juga menguat menjadi 5.346,18 setelah naik 44,45 poin atau 0,84 persen. Penguatan ini mencerminkan minat beli yang tetap bertahan di tengah optimisme pasar terhadap prospek aset berisiko, seiring investor global menilai risiko eksternal relatif lebih stabil dibanding periode sebelumnya.
Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong turut bergerak positif dengan kenaikan 117,83 poin atau 0,43 persen ke posisi 27.300,98.
Kenaikan berlangsung lebih terbatas dibanding pasar lain, menandakan investor masih cenderung selektif sambil memantau perkembangan ekonomi regional dan kebijakan global.
Di Tiongkok daratan, indeks SSE Composite juga menguat tipis 9,48 poin atau 0,23 persen ke level 4.137,85, mengikuti sentimen positif kawasan meski pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap dinamika kebijakan pasar domestik.
Sentimen regional juga mendapat dukungan dari pandangan bahwa pasar saham yang stabil dapat membantu menopang arus modal serta aktivitas ekonomi.
“Pasar saham yang naik membantu mendanai kemajuan teknologi China, meningkatkan kekayaan masyarakat, dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Meng Lei, UBS China strategist, dikutip dari Reuters, Rabu, 11 Februari 2026.
Penguatan yang terjadi di sejumlah bursa Asia hari ini memperlihatkan investor kembali meningkatkan eksposur ke saham kawasan setelah volatilitas pasar sebelumnya mereda.
Kendati demikian, saat ini pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global serta arah kebijakan moneter negara-negara besar dalam beberapa waktu ke depan.(*)