KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan aktivitas penjualan eceran pada Januari 2026 tetap berada di jalur ekspansi secara tahunan. Optimisme tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 yang diperkirakan tumbuh 7,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).
BI mengungkapkan bahwa performa solid sektor ritel terutama ditopang oleh meningkatnya transaksi pada kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta subkelompok Sandang. Kombinasi ini mencerminkan pola belanja masyarakat yang masih cukup resilien di awal tahun.
Namun, secara bulanan, penjualan eceran Januari 2026 diproyeksikan mengalami koreksi sebesar 0,6 persen (month to month/mtm). Pelemahan ini dinilai sebagai fase normalisasi konsumsi pasca momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Kendati demikian, penurunan tersebut relatif moderat dibandingkan kontraksi Januari tahun sebelumnya yang mencapai 4,7 persen (mtm).
Sebagai pembanding, pada Desember 2025, IPR tercatat tumbuh 3,5 persen (yoy). Kinerja tersebut didorong oleh lonjakan penjualan pada kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Barang Budaya dan Rekreasi. Dari sisi bulanan, penjualan ritel Desember 2025 juga meningkat 3,1 persen (mtm), melampaui pertumbuhan November 2025 yang berada di level 1,5 persen.
Akselerasi tersebut terjadi seiring menguatnya kinerja mayoritas kelompok barang, khususnya Peralatan Informasi dan Komunikasi, Barang Budaya dan Rekreasi, Suku Cadang dan Aksesori, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau. Permintaan masyarakat yang menguat selama periode HBKN Natal dan Tahun Baru menjadi katalis utama penguatan tersebut.
Dari perspektif harga, BI memandang tekanan inflasi dalam horizon tiga hingga enam bulan ke depan—yakni Maret dan Juni 2026—berpotensi meningkat. Indikasi ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Maret 2026 yang tercatat sebesar 175,7, serta IEH Juni 2026 di level 156,3. Kedua angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang masing-masing berada di 168,6 dan 154,5.
Menguatnya ekspektasi inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh antisipasi kenaikan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri 1447 Hijriah, periode yang secara historis kerap diiringi peningkatan permintaan dan penyesuaian harga di tingkat konsumen.(*)