KABARBURSA.COM – Investor asing mulai mengurangi kepemilikan pada instrumen obligasi jangka panjang Indonesia dan beralih ke instrumen berjangka lebih pendek di tengah tingginya ketidakpastian pasar global.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan pergeseran tersebut terlihat dari pola aliran dana asing di pasar keuangan domestik sejak awal tahun.
Menurut dia, pasar saham domestik mencatat arus modal asing keluar sekitar USD2,2 miliar. Sementara di pasar obligasi, outflow tercatat hampir mencapai USD0,7 miliar.
Meski demikian, tekanan di pasar obligasi dinilai masih relatif tertahan karena adanya aliran dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan tenor pendek.
“Investor asing yang sebelumnya memegang instrumen jangka panjang dari Indonesia, khususnya SBN, kini beralih kepada instrumen yang lebih pendek lagi,” ujar Josua, Selasa, 12 Mei 2026.
Ia menjelaskan, perpindahan dana ke instrumen tenor pendek menunjukkan investor asing cenderung mengambil posisi lebih defensif di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.
Menurut dia, langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko di tengah ketidakpastian arah suku bunga global dan memanasnya tensi geopolitik dunia.
Josua menilai, keberadaan instrumen seperti SRBI dan SVBI juga diharapkan dapat membantu menyerap likuiditas dolar AS serta menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Selain itu, pergeseran investor asing ke tenor pendek dinilai dapat membantu membatasi fluktuasi yang lebih dalam di pasar keuangan Indonesia, termasuk terhadap nilai tukar rupiah.
“Harapannya bisa membatasi ke depannya untuk terjadi fluktuasi atau pelemahan yang jauh lebih dalam lagi,” katanya.
Ia menambahkan, dinamika pasar global saat ini membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko, terutama di negara berkembang.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat volatilitas pasar menjadi bagian dari kondisi normal baru di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.(*)