Logo
>

Kiwoom: Outflow MSCI Dinilai Lebih Ringan dari Kekhawatiran Awal Pasar

Pelaku pasar kini mencermati sejumlah indikator untuk memastikan apakah reposisi MSCI masih terus berlangsung.

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Kiwoom: Outflow MSCI Dinilai Lebih Ringan dari Kekhawatiran Awal Pasar
Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Hasil rebalancing MSCI periode Mei 2026 sekilas memang memunculkan atmosfer negatif bagi pasar modal Indonesia. Sebanyak 18 saham domestik terlempar dari berbagai kategori indeks MSCI. Di tengah eksodus tersebut, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi satu-satunya emiten yang masih bertahan, meski harus turun kasta ke MSCI Global Small Cap Index. Namun apabila dicermati lebih mendalam, tekanan jual sesungguhnya tidak menyebar secara merata dan justru terkonsentrasi pada beberapa saham tertentu.

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi episentrum tekanan paling dominan. DSSA diperkirakan menghadapi passive outflow sekitar Rp9 triliun dengan free-float adjusted market cap MSCI mencapai Rp66,1 triliun. Sementara BREN berpotensi mengalami outflow sekitar Rp6 triliun dengan FIF-adjusted market cap di kisaran Rp42,1 triliun.

Dengan kata lain, lebih dari separuh tekanan rebalancing MSCI praktis hanya bertumpu pada dua saham tersebut. Emiten lain seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memang turut terkena imbas. Namun skalanya dinilai lebih terbatas lantaran kapitalisasi pasar mereka telah terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun.

Karena itu, proyeksi foreign outflow kini mulai dipandang lebih realistis dibandingkan skenario panik awal yang sempat mengarah ke angka di atas Rp50 triliun. Joeliardi Sunendar memperkirakan arus keluar dana asing berada di rentang Rp27,8 triliun hingga Rp31 triliun. Sementara CGS International memproyeksikan sekitar Rp31,5 triliun, dan Citi dalam skenario terburuk memperkirakan sekitar Rp34,7 triliun.

Meski demikian, foreign net sell year to date yang telah mencapai sekitar Rp49 triliun belum tentu sepenuhnya merepresentasikan dampak MSCI. Sebagian tekanan diyakini telah berlangsung lebih awal atau front-loaded dalam beberapa bulan terakhir karena investor global lazim melakukan positioning sebelum effective date implementasi pada 29 Mei 2026.

Saham-saham seperti DSSA, BREN, CUAN, hingga AMMN sendiri sudah mengalami tekanan signifikan bahkan sebelum pengumuman final MSCI dirilis ke pasar.

Pelaku pasar kini mencermati sejumlah indikator untuk memastikan apakah reposisi MSCI masih terus berlangsung. Mulai dari pola foreign flow harian, transaksi crossing menjelang effective date, hingga perubahan kepemilikan asing di KSEI. Selain itu, pasar juga perlu memilah mana tekanan yang benar-benar dipicu MSCI dan mana yang berasal dari sentimen risk-off global, seperti pelemahan rupiah menembus Rp17.500 per dolar AS, eskalasi konflik Iran, tingginya yield US Treasury, hingga ketidakpastian ekonomi dunia.

Dari perspektif perilaku pasar, skenario yang paling rasional adalah sebagian tekanan MSCI memang telah tercermin pada foreign outflow sepanjang tahun berjalan, tetapi prosesnya belum sepenuhnya usai. Passive tracker dan ETF berbasis benchmark MSCI umumnya masih melakukan penyesuaian tambahan mendekati tanggal implementasi resmi.

Ada sejumlah poin penting lain yang justru kurang mendapat sorotan pasar. Pertama, status Indonesia sebagai Emerging Market tetap aman dan tidak mengalami degradasi menjadi Frontier Market. Kedua, nilai outflow final ternyata jauh lebih rendah dibanding kecemasan awal investor. Ketiga, fenomena ini juga bukan eksklusif Indonesia karena dalam review MSCI ACWI terbaru hanya terdapat 49 saham yang masuk, sementara 101 saham justru keluar secara global.

Di sisi lain, keluarnya beberapa saham berkapitalisasi besar justru berpotensi meningkatkan bobot relatif saham-saham blue chip dan bank jumbo Indonesia di indeks global. Kondisi itu membuka peluang rotasi likuiditas asing menuju saham dengan free float lebih sehat dan tata kelola yang lebih kuat seperti BBCA, BMRI, BBNI, hingga TLKM.

Kiwoom Research menilai pasar saat ini mungkin terlalu terfokus pada tajuk besar “18 saham keluar” tanpa menyadari bahwa mayoritas tekanan sejatinya sudah berlangsung bertahap dalam beberapa bulan terakhir.

Walau begitu, kondisi pasar domestik masih tergolong rapuh. IHSG pada perdagangan sebelumnya turun 46,72 poin atau 0,68 persen ke level 6.858,90 setelah bergerak sangat volatil dan sempat menyentuh intraday low di area 6.762, yang menjadi titik terendah baru tahun ini. Pada saat bersamaan, investor asing kembali mencatatkan net sell sebesar Rp799,25 miliar.

Kegelisahan investor domestik turut meningkat setelah kurs USD/IDR menembus level Rp17.500 menjelang libur panjang Kenaikan Isa Almasih pada 14-15 Mei.

Karena itu, Kiwoom Research masih memandang strategi paling konservatif saat ini adalah HOLD dan WAIT & SEE sambil menunggu volatilitas pasar mulai mereda. Area support IHSG diperkirakan masih berpotensi melebar menuju 6.762-6.745, bahkan membuka ruang penutupan gap pada area 6.538 hingga 6.092, yang berarti hampir menghapus seluruh kenaikan IHSG sepanjang 2025.

Sementara itu, area resistance terdekat berada di kisaran 6.980 hingga 7.015 yang perlu ditembus untuk mulai meredam derasnya tekanan jual di pasar saham domestik.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.