Logo
>

Laba BMRI Tumbuh 16 Persen di Kuartal I, Saham Justru Melemah

Kinerja Bank Mandiri menguat lewat kredit dan DPK, namun arus dana asing keluar menekan pergerakan saham sepanjang awal 2026.

Ditulis oleh Yunila Wati
Laba BMRI Tumbuh 16 Persen di Kuartal I, Saham Justru Melemah
Bank Mandiri mencatatkan kinerja keuangan yang sempurna di kuartal pertama 2026, meskipun sahamnya bergerak melempem. (Foto: dok Bank Mandiri)

KABARBURSA.COM – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang bertumbuh sebesar 16 persen. Namun sayangnya, kenaikan ini tidak diiringi dengan pergerakan sahamnya. Diketahui, saham BMRI justru melemah di kuartal pertama 2026.

Berdasarkan catatan keuangannya, pada kuartal I-2026, Bank Mandiri berhasil membukukan laba bersih konsolidasi tercatat Rp15,4 triliun. Angka ini meningkat 16,6 persen secara tahunan. Adapun capaian ini ditopang oleh profitabilitas yang tetap tinggi dengan ROE di level 22,1 persen serta rasio permodalan (CAR) sebesar 19,7 persen.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit mencapai Rp1.530 triliun atau tumbuh 17,4 persen secara tahunan. Penyaluran kredit ini berada di atas rata-rata industri yang berada di kisaran 9,37 persen. 

Begitu pula dengan Dana Pihak Ketiga (DPK,) juga mencatat mengalami pertumbuhan sebanyak 21,1 persen. Angkanya kini mencapai Rp1.675 triliun, dengan dana CASA mencapai Rp1.201 triliun atau naik 12,7 persen. 

Kedua hal ini mendorong efisiensi yang tercermin dari rasio BOPO yang membaik ke level 58,0 persen.

Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 0,98 persen, disertai tingkat pencadangan yang tinggi dengan coverage ratio 245 persen. 

Di sisi lain, ekspansi pembiayaan tetap berjalan melalui berbagai program, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp11 triliun yang telah menjangkau lebih dari 87 ribu pelaku UMKM. 

Peran intermediasi ini juga diperluas melalui dukungan pada program pemerintah seperti perumahan dan penguatan koperasi.

Livin’ by Mandiri Bertumbuh 27 Persen

Di luar kredit konvensional, transformasi digital menjadi salah satu penggerak utama. Aplikasi Livin’ by Mandiri telah digunakan oleh 39 juta pengguna dengan pertumbuhan 27 persen secara tahunan dan mencatat 1,24 miliar transaksi. 

Platform Kopra by Mandiri menjangkau 335 ribu pengguna, sementara Livin’ Merchant telah terhubung dengan 3,3 juta merchant, dengan dominasi dari wilayah non-urban.

Dari sisi keberlanjutan, portofolio pembiayaan berbasis ESG mencapai Rp320 triliun atau tumbuh 8,8 persen secara tahunan. Komposisi tersebut terdiri dari pembiayaan hijau sebesar Rp167 triliun dan pembiayaan sosial Rp153 triliun. 

Angka ini menunjukkan arah ekspansi yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada struktur pembiayaan yang berkelanjutan.

Kinerja Saham Melempem

Namun, di tengah kinerja fundamental yang solid tersebut, pergerakan saham BMRI pada kuartal I-2026 menunjukkan dinamika yang berbeda. Secara bulanan, saham bergerak dari level 5.275 pada Februari menjadi 4.720 pada Maret atau turun 10,52 persen, sebelum kembali melemah tipis ke 4.700 pada April. 

Sebelumnya, pada Januari saham juga sempat terkoreksi dari 5.125 ke 4.820 atau turun 5,49 persen.

Pergerakan ini berlangsung seiring dengan arus dana asing yang cenderung keluar dalam beberapa bulan terakhir. Pada Januari, tercatat net foreign sell sebesar Rp4,15 triliun, disusul Februari yang sempat mencatat net buy Rp2,77 triliun. 

Tekanan kembali muncul pada Maret dengan net sell Rp1,25 triliun dan berlanjut pada April sebesar Rp1,87 triliun.

Nilai transaksi dan frekuensi juga menunjukkan pola yang fluktuatif. Pada Januari, nilai transaksi mencapai Rp20,79 triliun dengan frekuensi 792 ribu kali, kemudian menurun di April menjadi Rp8,09 triliun dengan frekuensi 352 ribu kali. 

Penurunan ini mencerminkan berkurangnya intensitas transaksi dibandingkan awal tahun.

Jika disandingkan, terdapat perbedaan arah antara kinerja fundamental dan pergerakan saham. Di satu sisi, pertumbuhan laba, kredit, dan dana pihak ketiga menunjukkan ekspansi yang tetap berjalan. 

Di sisi lain, harga saham bergerak dalam tren koreksi dalam beberapa bulan terakhir dengan tekanan dari arus dana asing yang belum sepenuhnya kembali masuk ke pasar.

Kondisi ini menggambarkan bahwa kinerja operasional yang kuat belum sepenuhnya diikuti oleh pergerakan harga saham dalam jangka pendek. Data perdagangan menunjukkan bahwa dinamika pasar masih dipengaruhi oleh faktor aliran dana dan aktivitas transaksi, yang berjalan bersamaan dengan rilis kinerja keuangan kuartal pertama 2026.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79