KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada sesi pertama perdagangan Selasa, 21 April 2026, dengan penurunan 44,70 poin atau 0,59 persen ke level 7.549,41.
Pergerakan indeks sempat dibuka di level 7.560,29 dan bergerak dalam rentang sempit dengan posisi tertinggi di 7.568,99 serta terendah di 7.511,88. Aktivitas pasar tercatat dengan volume 242,05 juta lot dan nilai transaksi mencapai Rp9,67 triliun, dengan frekuensi 1,57 juta kali.
Tekanan pada IHSG terjadi seiring pelemahan sejumlah sektor utama, terutama properti yang turun 2,04 persen, diikuti sektor energi melemah 1,34 persen serta teknologi yang turut tertekan.
Pergerakan ini berlangsung di tengah sentimen global yang masih dipengaruhi dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, pasar juga mencermati keputusan MSCI yang belum melakukan penyesuaian komposisi saham Indonesia serta sikap investor yang cenderung menunggu arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
Saham WBSA Terbang
Di tengah pelemahan indeks, saham PT Wijaya Cahaya Timber Tbk (WBSA) justru bergerak berlawanan arah dengan kenaikan signifikan hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA).
Harga saham WBSA berada di level 855 atau naik 170 poin setara 24,82 persen dari posisi sebelumnya 685. Pergerakan ini terjadi sejak pembukaan di 855 dan bertahan hingga penutupan sesi pertama tanpa pergerakan lebih lanjut, dengan posisi high, low, dan average berada di level yang sama.
Aktivitas perdagangan WBSA menunjukkan volume sebesar 172,79 ribu lot dengan nilai transaksi Rp14,8 miliar. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 23.134 kali, mencerminkan intensitas transaksi yang tinggi dalam satu sisi pergerakan harga.
Kondisi ini terjadi seiring status ARA yang membuat harga terkunci di batas atas sepanjang sesi.
Struktur orderbook WBSA memperlihatkan tidak adanya antrean jual di sisi offer, yang menjadi karakteristik saham yang terkunci di ARA. Seluruh lapisan harga didominasi antrean beli dengan total 1.377.387 lot dan tanpa penawaran di sisi jual.
Ketebalan antrean terlihat pada level harga 855 dengan 836.554 lot dan frekuensi 19.708 kali, menjadi lapisan terbesar dalam permintaan.
Di bawahnya, antrean beli berlanjut pada level 850 sebanyak 3.212 lot dan 845 sebesar 742 lot, diikuti lapisan berjenjang hingga 810. Distribusi ini menunjukkan dominasi penuh sisi permintaan tanpa adanya distribusi di sisi penawaran selama sesi berlangsung.
Dengan struktur tersebut, pergerakan harga WBSA pada sesi pertama sepenuhnya ditopang oleh antrean beli yang menumpuk di berbagai level harga tanpa adanya tekanan jual yang terlihat di orderbook.(*)