Logo
>

Margin Bank Jumbo Mulai Tergerus, Soal Cuan?

Kinerja empat bank besar masih sejalan ekspektasi hingga April 2026, tetapi tekanan NIM, provisi, dan biaya kredit mulai membuat pertumbuhan laba tidak merata.

Ditulis oleh Yunila Wati
Margin Bank Jumbo Mulai Tergerus, Soal Cuan?
BMRI tetap menghadapi tekanan margin. NIM turun 26 basis poin menjadi 4,3 persen akibat penurunan asset yield sebesar 64 basis poin. (Foto: dok Bank Mandiri)

KABARBURSA.COM – Margin bank-bank jumbo mulai tergerus, meski di saat yang bersamaan masih mencatatkan kinerja yang sejalan dengan ekpektasi April 2026. Namun, tekanan mulai terasi, baik dari sisi margin bunga bersih dan juga biaya kredit.

Empat bank besar, yaitu Bank Mandiri (BMRI), Bank Central Asia (BBCA), Bank Negara Indonesia (BBN)) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tercatat mencetak laba bersih bank only Rp62,06 triliun pada bulan keempat 2026 (4M26). Jika ditotal, kenaikannya mencapai 8 persen secara tahunan, namun turun 16 persen secara bulanan.

Pertumbuhan laba berdasarkan riset IndoPremier Sekuritas, ditopang oleh BMRI. Bank Mandiri mencatat kenaikan laba paling tinggi, yakni 19 persen secara tahunan menjadi Rp18,05 triliun. Sementara BBCA membukukan laba Rp20,82 triliun atau naik 3 persen.

BBRI dan BBNI naik sebesar 6 persen, masing-masing menjadi Rp15,90 triliun dan Rp7,29 triliun.

Dari sisi pendapatan inti, tekanan mulai terlihat lebih jelas. Agregat NII empat bank besar hanya naik 7 persen menjadi Rp107,91 triliun, sementara NIM turun 18 basis poin secara tahunan ke 5,1 persen akibat penurunan asset yield sebesar 46 basis poin.

Penurunan biaya dana atau cost of fund sebesar 31 basis poin belum cukup menahan tekanan tersebut. Artinya, bank memang masih mampu menekan biaya dana, tetapi imbal hasil aset produktif turun lebih cepat.

BMRI: Laba Tinggi, NIM Turun 26 Basis Poin

BMRI menjadi bank dengan pertumbuhan paling menonjol. NII BMRI naik 10 persen, PPOP tumbuh 14 persen, dan laba naik 19 persen. Namun NIM BMRI tetap turun 26 basis poin ke 4,3 persen.

Laba bersih bank only BMRI mencapai Rp18,05 triliun pada 4M26, naik 19 persen secara tahunan dari Rp15,19 triliun. Sedangkan kinerja BMRI ditopang PPOP yang tumbuh 14 persen menjadi Rp24,76 triliun. 

NII BMRI juga naik 10 persen menjadi Rp27,92 triliun, sedangkan beban operasional hanya naik 2 persen secara tahunan.

Namun BMRI tetap menghadapi tekanan margin. NIM turun 26 basis poin menjadi 4,3 persen akibat penurunan asset yield sebesar 64 basis poin, meski cost of fund membaik 41 basis poin.

BBCA: Laba Terbesar, NII Datar

BBCA masih menjadi pencetak laba terbesar di antara empat bank jumbo. Laba bersih bank only BBCA mencapai Rp20,82 triliun pada 4M26, naik 3 persen dari Rp20,21 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan BBCA relatif paling pelan karena NII cenderung datar. NII BBCA tercatat Rp26,19 triliun, hampir tidak bergerak dari Rp26,27 triliun pada 4M25.

PPOP BBCA hanya tumbuh 2 persen menjadi Rp26,36 triliun. NIM BBCA turun 40 basis poin ke 5,5 persen karena asset yield melemah, sementara cost of fund relatif datar.

BBCA juga terlihat lebih defensif dari sisi intermediasi. Kredit hanya tumbuh 5 persen secara tahunan, sedangkan dana pihak ketiga naik 9 persen sehingga LDR turun ke 77 persen dari 80 persen pada 4M25.

BBRI: Laba Tumbuh Enam Persen, Provisi Melesat

BBRI mencatat laba bersih Rp15,90 triliun pada 4M26. Angka ini naik 6 persen dari Rp15,01 triliun pada 4M25 dan masih sejalan dengan estimasi.

Namun pertumbuhan BBRI tertahan biaya kredit yang masih tinggi. CoC BBRI berada di 3,4 persen, masih di atas panduan 2,9–3,2 persen.

Dari sisi operasional, PPOP BBRI hanya naik 4 persen menjadi Rp34,60 triliun. NII BBRI naik 7 persen menjadi Rp39,38 triliun, tetapi pendapatan non-bunga turun 5 persen.

BBRI masih mencatat NIM tertinggi di antara bank besar, yakni 6,6 persen. NIM ini naik tipis 2 basis poin karena penurunan cost of fund sebesar 70 basis poin mampu mengimbangi penurunan asset yield sebesar 62 basis poin.

BBNI: Pertumbuhan Solid, Laba Naik Enam Persen

BBNI mencatat laba bersih Rp7,29 triliun pada 4M26. Angka ini naik 6 persen dari Rp6,87 triliun pada 4M25.

Secara operasional, BBNI sebenarnya cukup solid. NII naik 14 persen menjadi Rp14,43 triliun, sementara PPOP tumbuh 12 persen menjadi Rp11,74 triliun.

Namun laba BBNI tertahan kenaikan provisi. Beban provisi naik 30 persen secara tahunan dan 102 persen secara bulanan sehingga CoC naik ke 1 persen.

Dari sisi kredit, BBNI menjadi yang paling agresif. Kredit tumbuh 21 persen secara tahunan, sementara dana pihak ketiga naik 26 persen sehingga LDR turun ke 90 persen dari 93 persen.

Secara industri, kredit empat bank besar masih tumbuh kuat 14 persen secara tahunan, sementara dana pihak ketiga naik 13 persen. LDR agregat stabil di 89 persen, menandakan fungsi intermediasi masih berjalan, tetapi ruang ekspansi margin tidak lagi selebar sebelumnya.

Dengan data ini, sektor bank besar belum sedang melemah secara laba. Yang terjadi adalah kualitas pertumbuhan mulai diuji oleh tekanan margin, kenaikan provisi di sebagian bank, dan perbedaan performa yang makin jelas antar-emiten.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79