Logo
>

MSCI dan Upaya Menjinakkan Praktik Goreng-Menggoreng

Targetnya bukan sekadar administratif. Fokus utamanya adalah membongkar ilusi likuiditas

Ditulis oleh Pramirvan Datu
MSCI dan Upaya Menjinakkan Praktik Goreng-Menggoreng
Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Dok KabarBursa.

KABARBURSA.COM - Pasar saham Indonesia diguncang hebat. Di balik gejolak tersebut, satu pertanyaan mencuat: mampukah MSCI menjadi rem yang efektif bagi praktik goreng-menggoreng yang selama ini membayangi bursa?

Kemungkinannya terbuka. Dan justru itulah alasan mengapa reaksi pasar hari ini begitu brutal.

MSCI tengah menyiapkan perubahan metodologi yang jauh lebih ketat, khususnya terkait definisi free float. Bekerja sama dengan KSEI, MSCI berupaya mengakses data kepemilikan saham hingga ke level di bawah 5 persen. 

“Targetnya bukan sekadar administratif. Fokus utamanya adalah membongkar ilusi likuiditas—saham yang tampak aktif diperdagangkan, tetapi sejatinya dikendalikan oleh segelintir pihak dengan struktur kepemilikan yang tertutup rapat,” kata Pengamat Pasar Modal, Wahyu Laksono kepada KabarBursa.com di Jakarta, 30 Januari 2026.

Pendekatan baru ini membawa konsekuensi serius. Saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, yang selama ini bertahan lewat manipulasi volume atau stabilisasi harga semu, terancam tersingkir dari indeks MSCI. Jika tidak dikeluarkan, bobotnya bisa terpangkas tajam. Sebuah efek jera yang dirancang sistematis.

Lebih jauh, MSCI menuntut transparansi radikal. Data kepemilikan harus disajikan secara granular untuk memantau high shareholding concentration. Ini menjadi pukulan telak bagi emiten yang selama ini hanya memenuhi syarat formal free float, sementara saham publiknya praktis terkunci oleh pengendali. Tidak ada lagi ruang abu-abu.

Koreksi tajam yang terjadi hari ini, secara psikologis, mencerminkan kepanikan jangka pendek. Panic selling bekerja cepat, memicu aksi jual serempak. Namun dari sisi aliran dana, dampaknya berpotensi lebih panjang. Keputusan MSCI membekukan sementara perubahan indeks Indonesia menciptakan semacam terapi kejut. 

“Tidak ada saham baru yang bisa masuk indeks. Tidak ada kenaikan bobot. Semua dihentikan hingga persoalan transparansi ini diselesaikan,” ujar Wahyu.

Risiko berikutnya lebih nyata. Jika metodologi baru ini diterapkan sepenuhnya, dan sejumlah saham besar gagal memenuhi standar, potensi arus keluar dana asing diperkirakan bisa mencapai USD 2 miliar. Angka yang cukup untuk mengubah lanskap pasar dalam waktu singkat.

MSCI telah mengeluarkan peringatan keras dan menekan tombol jeda pada proses rebalancing. Hasil konsultasi final dijadwalkan diumumkan menjelang akhir Januari. Titik ini krusial. Ketidakmampuan regulator—BEI dan OJK—menyediakan transparansi data sesuai ekspektasi MSCI berisiko menurunkan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Market. Skenario terburuknya lebih ekstrem: degradasi status menjadi Frontier Market.

Analis memperkirakan tekanan pasar akibat kejutan ini akan terasa sekitar satu pekan ke depan. Namun fase overhang—ketidakpastian yang menggantung—akan bertahan hingga implementasi penuh pada Mei 2026.

“Meski pahit, langkah MSCI sejatinya adalah upaya kuratif. Membersihkan bursa dari praktik manipulasi harga yang merusak kepercayaan. IHSG mungkin berdarah hari ini,” tutur Wahyu. Namun dalam jangka panjang, kebijakan ini memaksa emiten untuk bersikap lebih jujur, lebih terbuka, dan pada akhirnya membangun pasar yang lebih sehat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.