KABARBURSA.COM – Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sejumlah perubahan dalam agenda index review, termasuk review Februari 2026, diyakini menjadi pemicu utama penerapan trading halt di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 8 persen pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026.
Tekanan jual masif terjadi sejak sesi pagi dan berlanjut hingga awal sesi II, memaksa otoritas bursa melakukan pembekuan sementara perdagangan selama 30 menit, mulai pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan bahwa langkah trading halt dilakukan setelah IHSG menyentuh ambang batas penurunan yang telah ditetapkan.
“Mekanisme tersebut dijalankan secara otomatis sebagai bagian dari sistem perlindungan pasar untuk menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien,” ujarnya dalam press release, Rabu, 28 Januari 2026.
Pada saat pembekuan diberlakukan, IHSG tercatat berada di level 8.261,79, turun 718,44 poin atau 8,00 persen.
Sepanjang sesi I, IHSG dibuka di 8.393,51, sempat bergerak hingga level tertinggi 8.596,17, sebelum terus melemah dan menyentuh level terendah 8.261,79.
Tekanan jual terjadi secara luas dan tercermin pada tingginya aktivitas transaksi. Nilai transaksi pasar reguler tercatat sekitar Rp30,90 triliun, dengan volume perdagangan 444,37 juta lot dan frekuensi 2,96 juta transaksi.
Data tersebut menunjukkan penurunan indeks berlangsung di tengah likuiditas pasar yang tetap tinggi.
Pelemahan IHSG juga diikuti penurunan serentak pada indeks-indeks utama di BEI. IDX30 tercatat turun 6,47 persen, LQ45 melemah 7,73 persen, Sri-Kehati terkoreksi 4,79 persen, Jakarta Islamic Index (JII) turun 9,77 persen, dan ISSI melemah 8,57 persen.
Lebih jauh, Kautsar menambahkan bahwa pembekuan perdagangan bersifat sementara dan perdagangan akan kembali dilanjutkan setelah jeda waktu sesuai ketentuan.
BEI juga menyatakan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi pasar serta memastikan seluruh mekanisme perdagangan berjalan sesuai peraturan yang berlaku.
Sentimen Global, Keputusan MSCI jadi Biang Kerok?
Tekanan pasar hari ini terjadi seiring berkembangnya sentimen global, termasuk keputusan MSCI terkait pembekuan sejumlah perubahan dalam agenda index review, termasuk review Februari 2026.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi dinamika perdagangan saham domestik.
“Kami memandang masukan yang disampaikan MSCI adalah bagian penting dalam upaya berkelanjutan untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia," terang Kautsar dalam keterangan tertulis sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat koordinasi dengan MSCI.
“Kami memahami bahwa pembobotan MSCI memiliki peran strategis bagi pasar keuangan global serta menjadi salah satu referensi utama bagi investor,” ujar Kautsar.
BEI juga menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kualitas data dan transparansi pasar.
“Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal, sesuai dengan praktik terbaik secara global dan ekspektasi pemangku kepentingan global,” kata Sekretaris Perusahaan BEI tersebut.
Sebagai langkah konkret, BEI menyampaikan bahwa data free-float telah diumumkan secara komprehensif melalui situs resmi BEI sejak 2 Januari 2026 dan akan diperbarui secara rutin setiap bulan.
“BEI telah menyampaikan pengumuman data free-float secara komprehensif melalui website resmi BEI sejak 2 Januari 2026, serta akan disampaikan secara rutin setiap bulannya,” pungkas Kautsar. (*)