KABARBURSA.COM - Lantai bursa ekuitas Wall Street terperosok tajam pada Kamis, dengan Nasdaq terhempas ke titik terendah sejak November. Pelemahan ini dipicu oleh gelombang aksi jual saham-saham teknologi raksasa, termasuk Microsoft dan Amazon, yang menyeret sentimen pasar ke wilayah suram. Tekanan kian terasa setelah Alphabet mengungkapkan potensi lonjakan belanja modal untuk kecerdasan buatan (AI), sebuah langkah agresif demi menguasai lanskap teknologi yang sedang berevolusi cepat.
Indeks acuan S&P 500 yang mencerminkan pergerakan pasar secara luas ditutup melemah 1,23 persen atau turun 84,32 poin ke level 6.798,40. Nasdaq Composite Index terkoreksi lebih dalam, anjlok 1,59 persen atau 363,99 poin ke posisi 22.540,59. Dow Jones Industrial Average pun tak luput, terpangkas 1,20 persen atau 592,58 poin menjadi 48.908,72. Data tersebut dikutip dari laporan Reuters di New York, Kamis 5 Februari 2026 waktu setempat, atau Jumat 6 Februari 2026 pagi WIB.
Saham Alphabet terkikis 0,55 persen setelah induk usaha Google itu membeberkan rencana belanja modal (capex) hingga USD185 miliar pada 2026. Bersama kompetitor sesama Big Tech, Alphabet diproyeksikan mengucurkan lebih dari USD500 miliar untuk menopang investasi AI sepanjang tahun berjalan.
Tekanan pasar semakin menebal. Microsoft tergelincir 5 persen, Palantir terjun bebas 6,8 persen, sementara Oracle terkapar dengan penurunan 7 persen.
Amazon pun tak mampu bertahan. Sahamnya susut 4,4 persen pada sesi reguler, sebelum kembali terjerembab hampir 10 persen setelah penutupan pasar. Raksasa e-commerce ini menjadi emiten Big Tech terbaru yang memproyeksikan eskalasi belanja modal besar pada 2026, menandakan industri teknologi belum menunjukkan tanda-tanda meredam investasi AI dalam waktu dekat.
Di sisi lain, saham Nvidia—produsen chip yang digadang-gadang menjadi penerima manfaat dari lonjakan belanja AI industri—ikut melemah 1,4 persen.
Dalam beberapa bulan terakhir, kegelisahan investor kian menguat seiring membengkaknya belanja AI tanpa jaminan pertumbuhan pendapatan dan laba yang sepadan. Tom Hainlin, analis U.S. Bank Wealth Management, menilai volatilitas pasar meningkat karena pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah siklus belanja modal berskala masif ini benar-benar akan bermuara pada perbaikan kinerja keuangan.
Kekhawatiran tambahan muncul dari potensi erosi permintaan perangkat lunak konvensional akibat akselerasi pengembangan AI. Saham perusahaan perangkat lunak dan penyedia layanan data kembali tertekan, dengan ServiceNow merosot 7,6 persen dan Salesforce terperosok hampir 5 persen.
Indeks perangkat lunak dan layanan S&P 500 ambruk 4,6 persen, menandai penurunan beruntun selama tujuh sesi perdagangan.
Melissa Brown, Managing Director SimCorp, menuturkan bahwa reli AI yang menjadi motor penggerak pasar pada tahun lalu kini justru berbalik arah. Alih-alih mengangkat, AI menjadi beban, seiring dampaknya yang tidak seragam terhadap berbagai segmen perusahaan.(*)