Logo
>

Nyaris Tak Ada yang Selamat, IHSG Rontok Tujuh Persen

Keputusan MSCI mengguncang kepercayaan pasar, memicu aksi jual masif di saham-saham besar. IHSG terpuruk meski bursa Asia mayoritas bergerak menguat.

Ditulis oleh Yunila Wati
Nyaris Tak Ada yang Selamat, IHSG Rontok Tujuh Persen
IHSG berpotensi mengalami trading halt jika pelemahan terus berlanjut di sesi kedua perdagangan hari ini. Foto: Dok KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Tekanan jual besar-besaran menghantam pasar saham domestik pada perdagangan sesi pertama Rabu, 28 Januari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas 659 poin atau 7,34 persen ke level 8.321.

Ini adalah salah satu pelemahan intraday terdalam dalam beberapa waktu terakhir. Kejatuhan indeks berlangsung cepat dan merata. Dana keluar secara agresif di tengah sentimen global dan domestik yang memburuk.

Runtuhnya IHSG tidak berdiri sendiri. Pasar merespons keputusan MSCI yang membekukan kenaikan bobot saham Indonesia, dengan sorotan utama pada isu transparansi dan keandalan data free float. 

Pembekuan ini langsung mengguncang persepsi investor, terutama pelaku institusi, yang selama ini menjadikan indeks MSCI sebagai rujukan utama alokasi aset. Keraguan atas akurasi data free float dinilai memperbesar ketidakpastian struktural pasar saham Indonesia.

Pengamat pasar modal Hendra Wardana, menilai mayoritas investor memandang data free float yang ada belum sepenuhnya mencerminkan struktur kepemilikan saham yang sebenarnya. Kondisi tersebut menyulitkan penilaian atas likuiditas riil dan ruang masuk-keluar dana institusi secara akurat. 

Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengambil langkah defensif dengan mengurangi eksposur, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Tekanan jual yang meluas tercermin dari aktivitas perdagangan yang tetap tinggi meski indeks jatuh dalam. Hingga sesi pertama, volume transaksi mencapai 428,2 juta lot dengan nilai perdagangan Rp30,05 triliun. 

Likuiditas yang besar di tengah penurunan tajam menunjukkan bahwa pelemahan IHSG bukan akibat pasar sepi, melainkan hasil aksi jual aktif dan terkoordinasi di berbagai lapisan saham.

Di jajaran saham unggulan LQ45, tekanan paling berat menimpa saham-saham berkapitalisasi besar dan berorientasi institusional. DSSA, EXCL, BRPT, BUMI, EMTK, TLKM, hingga AMMN masuk daftar top losers. 

Sebaliknya, INDF menjadi salah satu pengecualian dengan mampu bertahan di zona hijau dan tercatat sebagai top gainer LQ45, di tengah mayoritas saham unggulan yang terpuruk.

Seluruh indeks sektoral berada di zona merah, menandakan tekanan bersifat menyeluruh. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 10,19 persen. Saham-saham besar di sektor ini mencatatkan koreksi dalam, seperti EXCL yang jatuh 14,92 persen.

SedangkanTLKM terkoreksi 10,91 persen, SMDR 8,16 persen, TBIG 7,92 persen, dan ISAT 7,72 persen. Saham-saham infrastruktur lain seperti JSMR dan PGAS juga tidak luput dari tekanan, meski dengan penurunan yang relatif lebih terbatas.

Hang Seng Cs Menguat

Di tingkat regional, pergerakan bursa Asia menunjukkan kontras yang tajam dengan kondisi pasar Indonesia. Sejumlah indeks utama Asia justru bergerak menguat, didorong sentimen global yang relatif lebih stabil. 

Indeks Hang Seng Hong Kong melesat 2,21 persen, Kospi Korea Selatan naik 1,36 persen, dan Taiex Taiwan menguat 1,08 persen. Bursa China juga bergerak positif, dengan Shanghai Composite naik 0,49 persen, Shenzhen Component 0,09 persen, dan CSI300 menguat 0,47 persen.

Namun tidak semua bursa Asia berada di zona hijau. Jepang mencatatkan pelemahan, dengan Nikkei 225 turun 0,49 persen dan Topix melemah 0,83 persen. 

Di Australia, indeks ASX200 turun tipis 0,18 persen, seiring rilis data inflasi utama kuartal IV 2025 yang mencapai 3,6 persen, tertinggi dalam enam kuartal terakhir. Angka inflasi tersebut memicu kekhawatiran pasar atas arah kebijakan moneter Australia ke depan.

Yen Lemah, Rupiah Perkasa

Di pasar mata uang Asia, pergerakan relatif stabil dengan kecenderungan mixed. Yen Jepang melemah 0,27 persen ke 152,62 per dolar AS, sementara dolar Singapura menguat tipis 0,08 persen. Dolar Australia melemah 0,29 persen, sejalan dengan tekanan di pasar saham domestik. 

Rupiah justru menguat 0,36 persen ke level 16.707 per dolar AS, diikuti penguatan mata uang regional lain seperti ringgit Malaysia yang melonjak 0,88 persen dan yuan China yang naik 0,13 persen.

Dengan latar belakang tersebut, kejatuhan IHSG pada sesi pertama hari ini lebih mencerminkan tekanan sentimen domestik yang spesifik, terutama terkait keputusan MSCI dan isu free float, ketimbang efek langsung dari pasar global. 

Di tengah bursa Asia yang sebagian besar menguat dan Wall Street yang masih menunjukkan daya tahan, pasar saham Indonesia bergerak berlawanan arah, mencerminkan krisis kepercayaan jangka pendek yang masih membayangi pergerakan indeks.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79