KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa hasil survei menunjukkan tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi nasional mengalami penguatan pada Januari 2026 dibandingkan periode sebelumnya. Optimisme publik kembali menanjak, menandai persepsi yang lebih konstruktif terhadap arah perekonomian.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menyatakan bahwa peningkatan tersebut tercermin pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang berada di zona optimistis, yakni di atas ambang 100. Indeks tercatat mencapai 127,0, melampaui capaian Desember 2025 yang berada di level 123,5.
Menguatnya kepercayaan konsumen pada awal 2026 ditopang oleh perbaikan dua komponen utama, yakni Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Masing-masing indeks tercatat sebesar 115,1 dan 138,8, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada level 111,4 dan 135,6.
Dalam komponen IKE yang merefleksikan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi terkini, BI mencatat bahwa penguatan terjadi secara merata pada seluruh elemen penyusunnya. Tidak ada sektor yang tertinggal dalam tren perbaikan tersebut.
Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), serta Indeks Pembelian Barang Tahan Lama atau durable goods (IPDG) masing-masing tercatat sebesar 123,7, 109,9, dan 111,8. Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 120,2, 106,5, dan 107,6.
Sementara itu, pada sisi IEK yang mencerminkan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang, kenaikan terutama bersumber dari membaiknya Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU). Keduanya tercatat masing-masing sebesar 146,0 dan 135,3, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 140,8 dan 130,8.
Adapun Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) tercatat relatif stagnan, bertahan pada level 135,1 atau tidak mengalami perubahan dibandingkan bulan sebelumnya.
Pada Januari 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang dialokasikan untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio tercatat sebesar 72,3 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 74,3 persen, mengindikasikan kehati-hatian dalam belanja rumah tangga.
Di sisi lain, proporsi pendapatan yang digunakan untuk pembayaran cicilan atau utang (debt installment to income ratio) tercatat sebesar 11,2 persen, relatif stabil dibandingkan Desember 2025 yang berada di level 10,8 persen.
Sebaliknya, porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan (saving to income ratio) justru mengalami peningkatan menjadi 16,5 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 14,9 persen. Fenomena ini mencerminkan menguatnya preferensi konsumen terhadap pengelolaan keuangan yang lebih pruden di tengah dinamika ekonomi.(*)