KABARBURSA.COM - Dolar Amerika Serikat melemah terhadap yen dan euro pada Kamis, meski masih mampu bertahan di atas titik terendahnya dalam beberapa tahun terakhir.
Pasar bergerak hati-hati. Ketidakpastian arah kebijakan Washington terus membayangi sentimen, sementara nada hawkish Federal Reserve hanya memberi bantalan yang tipis bagi greenback.
Tekanan terhadap dolar belum mereda, dipicu oleh ekspektasi lanjutan pemangkasan suku bunga The Fed, ketidakjelasan kebijakan tarif, serta fluktuasi sikap politik Amerika Serikat.
Laporan Reuters dari New York, Kamis 29 Januari 2026 atau Jumat 30 Januari 2026 pagi WIB, mencatat mata uang AS masih berada dalam fase defensif.
Pada pekan sebelumnya, dolar membukukan penurunan mingguan terdalam sejak April 2025, sebagian besar disulut kekhawatiran pasar atas arah kebijakan AS terkait Greenland.
Kecemasan investor terhadap kebijakan perdagangan dan dinamika geopolitik Amerika berpotensi terus menekan dolar, ujar Shaun Osborne, Kepala Strategi Valuta Asing Scotiabank.
Terhadap yen Jepang, dolar terkoreksi 0,2 persen ke posisi 153,055 yen, sementara euro terapresiasi 0,5 persen menjadi USD1,196. Dolar sempat memperoleh sokongan terbatas setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu. Ketua The Fed Jerome Powell menilai fondasi ekonomi AS masih kokoh, dengan risiko inflasi dan pasar tenaga kerja yang dinilai semakin jinak.
Data terbaru pada Kamis menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran di Amerika Serikat turun tipis pada pekan lalu, mencerminkan tingkat pemutusan hubungan kerja yang masih terkendali. Namun demikian, lemahnya laju perekrutan terus memicu kegelisahan rumah tangga terhadap prospek pasar tenaga kerja ke depan.
Presiden Donald Trump kembali menegaskan pandangannya bahwa Amerika Serikat semestinya memiliki suku bunga yang jauh lebih rendah, bahkan yang terendah di dunia. Kendati demikian, sejumlah analis menilai peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat masih jauh dari pasti.
Meski lanskap ke depan tetap sarat ketidakpastian—terutama terkait penunjukan Ketua The Fed yang baru dalam beberapa bulan mendatang—skenario dasar kami menilai siklus pemangkasan suku bunga telah usai, kata David Doyle, Kepala Ekonom Macquarie Group. Ia memperkirakan langkah kebijakan berikutnya justru berupa kenaikan suku bunga, dengan potensi realisasi pada kuartal keempat 2026.
Tekanan terhadap dolar juga mencuat pada awal pekan setelah Trump menyebut nilai dolar “bagus” ketika ditanya apakah mata uang tersebut telah melemah terlalu jauh. Walaupun Menteri Keuangan AS Scott Bessent kembali menegaskan preferensi pemerintah terhadap dolar yang kuat, pelaku pasar tetap menunjukkan kegelisahan.
“Kami menangkap pesan yang saling bertabrakan dari Gedung Putih dan Departemen Keuangan terkait dolar, dan itu tidak membantu membangun kepercayaan,” ujar Osborne.
Walau pergerakan harga pada Kamis mengindikasikan stabilisasi setelah pelemahan tajam di awal pekan, kekhawatiran investor terhadap prospek jangka pendek dolar belum sirna. Steven Englander, Kepala Riset Standard Chartered, menilai momentum jangka pendek telah berbalik agresif melawan dolar AS tanpa adanya jangkar kuat dari faktor fundamental jangka panjang.
Apresiasi euro yang kembali menembus ambang psikologis USD1,20 memicu kecemasan di kalangan pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB). Mereka memperingatkan bahwa penguatan yang terlalu cepat berpotensi menimbulkan tekanan deflasi.
Meski pasangan euro/dolar bertahan jauh di atas skenario dasar ECB tahun lalu tanpa memicu risiko disinflasi yang signifikan, ketidakpastian perdagangan global masih berlanjut, ujar Geoff Yu, analis BNY.
Sejumlah ekonom berpendapat penguatan euro dapat memperbesar efek deflasi dari ekspor China dan mendorong ECB keluar dari posisi kebijakan yang selama ini dinilai “nyaman”, menuju kemungkinan pemangkasan suku bunga tambahan.
Anggota Dewan ECB Isabel Schnabel menegaskan pada Rabu bahwa kebijakan moneter saat ini berada di jalur yang tepat, dengan suku bunga diperkirakan bertahan di level sekarang untuk periode yang cukup panjang. Pasar keuangan memproyeksikan suku bunga ECB stabil hingga awal 2027.
Pelemahan dolar memberi ruang bernapas bagi yen yang sebelumnya tertekan. Sepanjang pekan ini, mata uang Jepang bergerak di kisaran 152–154 per dolar AS, didorong spekulasi adanya komunikasi terkait suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang, yang kerap dipersepsikan sebagai sinyal dini potensi intervensi.
Goldman Sachs menyatakan peluang aksi terkoordinasi antara Kementerian Keuangan Jepang dan Departemen Keuangan AS dapat membatasi tekanan pelemahan yen dalam jangka pendek. Namun, dampaknya diperkirakan hanya bertahan jika ditopang fundamental, seperti percepatan pengetatan kebijakan Bank of Japan atau disiplin fiskal yang lebih ketat.
Sementara itu, dolar Kanada menguat 0,4 persen terhadap greenback pada Kamis, sehari setelah Bank of Canada mempertahankan suku bunga kebijakannya di level 2,25 persen, sejalan dengan ekspektasi pasar.(*)