Logo
>

PEFINDO Sematkan Peringkat idA+ untuk Obligasi Berkelanjutan SMRA

Berdasarkan pengumuman resmi PEFINDO, peringkat idA+ juga berlaku untuk SMRA secara korporasi serta Obligasi Berkelanjutan IV

Ditulis oleh Pramirvan Datu
PEFINDO Sematkan Peringkat idA+ untuk Obligasi Berkelanjutan SMRA
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menetapkan peringkat idA+ dengan prospek stabil atas rencana penerbitan Obligasi Berkelanjutan V Tahun 2025 milik PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) senilai Rp3 triliun. Penilaian tersebut menegaskan kepercayaan pasar terhadap kapasitas emiten dalam memenuhi kewajiban finansialnya di tengah dinamika industri properti.

Berdasarkan pengumuman resmi PEFINDO, peringkat idA+ juga berlaku untuk SMRA secara korporasi serta Obligasi Berkelanjutan IV yang telah diterbitkan sebelumnya. Dana hasil penerbitan obligasi direncanakan untuk membiayai akuisisi lahan strategis, memenuhi kebutuhan modal kerja, serta melakukan pembiayaan kembali atas kewajiban yang ada.

PEFINDO menilai peringkat tersebut mencerminkan fondasi bisnis SMRA yang solid. Portofolio aset dinilai berkualitas, sementara arus pendapatan berulang memberikan bantalan stabilitas di tengah siklus industri yang fluktuatif, sebagaimana disampaikan dalam laporan pemeringkatan tertanggal Selasa 30 Desember 2025.

Peluang peningkatan peringkat terbuka apabila SMRA mampu mencatatkan pertumbuhan pengembangan properti yang tercermin dari kenaikan marketing sales, disertai penguatan kontribusi pendapatan berulang. Kondisi tersebut diharapkan bermuara pada peningkatan pendapatan dan EBITDA yang melampaui proyeksi, sekaligus memperkokoh profil keuangan secara berkelanjutan.

Sebaliknya, tekanan terhadap peringkat dapat muncul apabila kinerja marketing sales melemah signifikan dan progres konstruksi berjalan lebih lambat dari perkiraan. Situasi tersebut berpotensi menekan pendapatan jauh di bawah target yang telah ditetapkan.

PEFINDO juga mengingatkan bahwa peringkat dapat tergerus jika perseroan menanggung beban utang yang lebih tinggi dari proyeksi, sehingga memicu profil keuangan yang semakin agresif. Di luar itu, lembaga pemeringkat turut menyoroti risiko yang melekat pada proyek-proyek baru di kawasan pengembangan, serta sensitivitas kinerja perusahaan terhadap perubahan kondisi makroekonomi.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.