KABARBURSA.COM – Perjalanan saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) sepanjang tahun ini menjadi sorotan pelaku pasar.
Ketika harga saham tertidur lama di level 9, pengendali perseroan, PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII), justru terlihat melakukan pembelian besar-besaran.
Namun setelah harga melonjak hingga menyentuh puncak 240, pengendali mulai melepas kepemilikannya secara bertahap, menciptakan selisih harga raksasa yang berujung pada keuntungan luar biasa.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan transaksi harian Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun periode 17 April 2025 hingga 23 Oktober 2025 menunjukkan pola yang sangat kontras antara strategi pengendali dan investor ritel.
Adapun pada penutupan Jumat, 21 November 2025, harga DADA berada pada 50, tidak bergerak dibandingkan sesi sebelumnya, dengan volume perdagangan 1,05 juta saham, jauh lebih rendah dari rata-rata volume harian 309,91 juta saham.
Emiten yang berada di sektor properti dan real estate ini sebelumnya menunjukkan aktivitas transaksi yang jauh lebih besar pada rentang April hingga Oktober, terutama ketika harga bergerak dari titik dasar menuju puncaknya.
Serok di Harga Bawah Lalu Melepas di Harga Tinggi
Pengendali mulai menunjukkan aktivitas besar ketika harga DADA masih stabil di 8–9 pada awal tahun hingga pertengahan April.
Pada 17 April 2025, melalui KSEI, KPII mengambil alih 4.995.000.000 saham, setara 67,2136 persen kepemilikan. Data historis pada periode yang sama memperlihatkan bahwa harga bergerak pada rentang paling rendah di tahun tersebut, yaitu 8–9, menjadikan fase ini sebagai titik akumulasi pertama yang teridentifikasi.
Setelah pembelian tersebut, harga saham DADA bergerak bertahap dari 9 ke 12, 15, dan memasuki wilayah 20–40 selama Mei hingga Agustus. Volume dan nilai transaksi meningkat, tetapi pada periode tersebut tidak terjadi perpindahan kepemilikan yang signifikan dari pengendali.
Lonjakan terbesar dalam harga dan volume justru muncul pada September hingga pertengahan Oktober, ketika harga melewati 70, lalu 100, hingga akhirnya mencapai titik tertinggi di 240 pada 10 Oktober 2025.
Pada rentang harga yang jauh lebih tinggi inilah pengendali mulai mendistribusikan sahamnya.
Berdasarkan laporan kepemilikan, posisi pengendali yang awalnya 4,995 miliar saham menurun menjadi 1,624 miliar saham pada 23 Oktober 2025. Penurunan ini merepresentasikan penjualan 3.370.718.100 saham.
Data transaksi mendukung hal ini, karena pada periode 10–23 Oktober terjadi penjualan dalam ukuran besar seperti 2,145 miliar saham melalui KSEI pada 10 Oktober, serta rangkaian penjualan ratusan juta saham melalui pasar reguler di tanggal 13–14 Oktober dan 22–23 Oktober.
Perhitungan selisih berdasarkan data harga menunjukkan bahwa jika seluruh saham yang dilepas dibeli pada harga terendah historis 6, yang tercatat pada beberapa fase awal seperti 24 Juni, 25 Juni, dan 26 Juni, dan dijual pada harga tertinggi 240, nilai penjualan mencapai Rp808.972.344.000 dengan biaya perolehan Rp20.224.308.600. Selisih keduanya mencerminkan potensi keuntungan Rp788,75 miliar, dengan estimasi return sekitar 3.900 persen.
Seluruh angka ini sesuai dengan volume saham yang dilepas pengendali dan rentang harga terendah serta tertinggi yang muncul dalam histori perdagangan DADA tahun 2025.
Ritel dan Domestik Masuk Setelah Harga Naik: Ujungnya Nyangkut
Selama harga bergerak naik dari level 20 menuju 100, data broker summary menunjukkan peningkatan partisipasi ritel dan investor domestik.
Stockbit Sekuritas Digital (XL) mencatat nilai beli terbesar sebesar Rp153,9 miliar, disusul Mandiri Sekuritas (CC) Rp64,9 miliar, Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) Rp41,3 miliar, serta Ajaib Sekuritas Indonesia (XC) Rp35,9 miliar.
Perdagangan pada fase ini dicirikan oleh kenaikan nilai transaksi harian yang mencerminkan tingginya aktivitas beli investor bukan pengendali.
Ketika ritel dan investor domestik memperbesar posisi beli, aktivitas penjualan justru didominasi oleh broker-broker yang mewakili pihak penjual dalam jumlah besar.
UOB Kay Hian Sekuritas (AI) mencatat nilai jual terbesar sepanjang periode dengan Rp305,3 miliar, diikuti Semesta Indovest Sekuritas (MG) Rp32,48 miliar, dan KB Valbury Sekuritas (CP) Rp19,6 miliar.
Nilai penjualan tersebut selaras dengan periode ketika laporan KSEI menunjukkan penurunan kepemilikan pengendali.
Setelah distribusi pengendali pada rentang harga tinggi selesai pada 23 Oktober 2025, harga DADA mulai bergerak turun dan akhirnya stabil di 50.
Kondisi tersebut berbeda dari puncak volume dan nilai transaksi pada periode kenaikan harga, di mana misalnya pada 10 Oktober 2025, nilai transaksi mencapai Rp900,88 miliar dengan volume 51,13 juta lot, dan pada 13 Oktober 2025 nilai transaksi mencapai Rp13,63 miliar dengan volume 1,05 juta lot.
Pada November, aktivitas perdagangan turun signifikan, mencerminkan perubahan dinamika setelah pergeseran kepemilikan besar tersebut.
Pada fase setelah distribusi, harga mencatat penurunan lebih dari 79 persen dibandingkan titik tertinggi.
Dengan volume yang kembali tipis dan rata-rata perdagangan yang menurun jauh di bawah periode sebelumnya, investor ritel yang melakukan pembelian pada rentang harga tinggi kini menghadapi posisi yang tidak menguntungkan. (*)