KABARBURSA.COM – Harga perak mencatat rekor tertinggi baru dengan menembus level USD101 pada perdagangan terbaru. Dilansir dari BeInCrypto, reli perak telah berlangsung selama beberapa bulan dan meningkat tajam sejak Januari 2026, menjadikan logam mulia tersebut sebagai aset dengan kinerja paling kuat di tengah kondisi ekonomi makro global saat ini.
Di sisi lain, Bitcoin belum menunjukkan pergerakan searah. Perbedaan kinerja tersebut memunculkan perhatian pasar terhadap hubungan antara pergerakan harga perak dan arah Bitcoin selanjutnya, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Reli perak dinilai tidak semata dipicu oleh aktivitas spekulatif. Kenaikan harga mencerminkan pergeseran alokasi modal global menuju aset defensif. Dalam beberapa bulan terakhir, minat investor terhadap aset berisiko menurun seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal Amerika Serikat, serta meningkatnya risiko fragmentasi perdagangan global.
Dalam situasi tersebut, arus modal cenderung bergerak lebih dulu ke aset keras yang secara historis dipandang sebagai penyimpan nilai, termasuk emas dan perak. Pencapaian rekor tertinggi harga perak mencerminkan posisi defensif tersebut.
Faktor lain yang mendukung penguatan perak berasal dari ekspektasi penurunan suku bunga riil. Pasar memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat pada paruh akhir 2026. Ekspektasi tersebut menekan imbal hasil riil dan melemahkan dolar AS, kondisi yang secara historis mendukung harga logam mulia.
Bagi perak, penurunan suku bunga riil mengurangi biaya peluang kepemilikan karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga. Pelemahan dolar AS juga membuat harga logam mulia lebih terjangkau bagi pembeli internasional, sehingga menopang permintaan.
Dari sisi pasokan, perak menghadapi keterbatasan struktural. Pasar perak tercatat mengalami defisit selama beberapa tahun berturut-turut, sementara sebagian besar produksi perak berasal sebagai produk sampingan dari penambangan logam lain. Kondisi tersebut membatasi fleksibilitas pasokan ketika permintaan meningkat.
Pemerintah Amerika Serikat juga menetapkan perak sebagai mineral kritis, yang mendorong penimbunan strategis dan memperketat ketersediaan stok. Kombinasi permintaan yang meningkat dan pasokan yang terbatas berkontribusi terhadap percepatan kenaikan harga.
Selain berfungsi sebagai aset defensif, perak memiliki peran strategis dalam sektor industri. Logam ini dibutuhkan dalam produksi panel surya, kendaraan listrik, jaringan listrik, pusat data, serta perangkat elektronik berteknologi tinggi. Peran tersebut memperkuat daya tarik perak di tengah fokus global terhadap transisi energi dan ketahanan infrastruktur.
Sementara itu, Bitcoin belum mencatat reli sejalan dengan pergerakan perak meski sama-sama dipengaruhi faktor makro. Dalam periode ketidakpastian, arus modal cenderung mengalir lebih dulu ke safe haven tradisional, sementara Bitcoin kerap bergerak terbatas ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Secara historis, Bitcoin sering kali bergerak setelah emas dan perak mencatat penguatan, ketika perhatian pasar bergeser dari penghindaran risiko menuju kekhawatiran terhadap debasement mata uang dan ekspansi likuiditas. Pada fase tersebut, Bitcoin baru mulai mendapat perhatian sebagai lindung nilai moneter.
Dalam siklus sebelumnya, pergerakan Bitcoin tercatat mengikuti emas dan perak dengan jeda waktu tertentu. Kenaikan harga perak yang konsisten kerap mendahului pergerakan Bitcoin, seiring perubahan fokus investor dari keamanan jangka pendek menuju perlindungan nilai jangka panjang.
Beberapa faktor dipantau pasar sebagai pemicu perubahan arah Bitcoin, termasuk realisasi pemangkasan suku bunga, pelemahan dolar AS yang berkelanjutan, serta meningkatnya tekanan keuangan global yang mendorong pergeseran persepsi terhadap Bitcoin sebagai lindung nilai moneter. (*)