KABARBURSA.COM – Harga perak melesat menembus level psikologis USD100 per ons, mengubah salah satu sudut pasar komoditas yang sebelumnya relatif tenang menjadi pusat pelarian global menuju aset aman.
Seperti dilansir TheDailyOverview, lonjakan tajam ini mencerminkan pertemuan langka antara kecemasan geopolitik, arus spekulatif agresif, serta meningkatnya ketidakpercayaan investor terhadap jangkar moneter konvensional.
Kenaikan yang bermula dari pergerakan stabil di atas USD90 per ons kini berkembang menjadi reli logam mulia berskala penuh. Dampaknya terasa luas, mulai dari lonjakan premi bullion hingga penguatan saham-saham perusahaan tambang.
Dalam dinamika terbaru, perak tidak lagi diperlakukan sekadar sebagai komoditas industri, melainkan menjadi instrumen lindung nilai berisiko tinggi (high-beta) terhadap ketegangan geopolitik dan pelemahan nilai mata uang. Arus masuk investor ritel, institusi, hingga pelaku algoritmik terjadi bersamaan, mendorong volatilitas dan memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan harga di zona tiga digit.
Dari USD90 ke Zona Tiga Digit dalam Hitungan Pekan
Lonjakan harga ini bukan terjadi tanpa fondasi. Sejak awal tahun, perak telah menembus area USD90 per ons, sebuah level yang oleh banyak pelaku pasar dipandang sebagai sinyal perubahan rezim harga. Dorongan tersebut berasal dari kombinasi pembelian aset aman dan meningkatnya permintaan fisik, seiring investor mencari perlindungan dari inflasi dan instabilitas keuangan global.
Setelah level USD90 dilewati secara tegas, jalur menuju harga tiga digit lebih menyerupai persoalan waktu ketimbang kemungkinan. Momentum tersebut akhirnya terkonfirmasi ketika harga spot perak melampaui USD100 per ons. Salah satu indikator mencatat perak menyentuh rekor USD100,29 per ons, menegaskan cepatnya pasar memperhitungkan ulang risiko geopolitik.
Pantauan di berbagai kanal perdagangan juga menunjukkan lonjakan minat investor ritel terhadap koin dan batangan perak, mengubah breakout teknikal menjadi tonggak historis di pasar logam mulia.
Geopolitik dan Ketidakpastian Kebijakan Dorong Aset Aman
Di balik reli harga, analis menilai ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan menjadi faktor utama yang mendorong peralihan dana ke logam mulia. Konflik di berbagai kawasan serta sanksi yang mengganggu arus perdagangan global meningkatkan daya tarik aset yang bersifat portabel dan diakui secara internasional.
Perak, yang selama ini kerap berada di bawah bayang-bayang emas, kini ikut menikmati arus pelarian ke aset keras dengan karakter pergerakan harga yang lebih agresif.
Faktor politik domestik Amerika Serikat turut memperkuat tren ini. Ketidakpastian kebijakan di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump—terutama terkait perdagangan, pertahanan, dan belanja fiskal—memicu kekhawatiran terhadap defisit dan stabilitas nilai tukar jangka panjang. Dinamika ini, sebagaimana dilansir, berkontribusi langsung terhadap lonjakan harga perak ke kisaran USD100 per ons.
Di saat yang sama, pergeseran preferensi aset aman juga terlihat lebih luas, dengan investor mulai mendiversifikasi eksposur tidak hanya ke emas, tetapi juga ke platinum, paladium, hingga rhodium.
Spekulasi Bertemu Permintaan Struktural
Kecepatan reli perak mencerminkan peran spekulasi yang signifikan. Sejumlah laporan pasar di London menyebut dana leverage dan trader momentum masuk agresif ke kontrak berjangka, terutama setelah harga perak melonjak sekitar 147 persen sepanjang 2025. Kondisi ini memicu tekanan penutupan posisi jual dan mempercepat kenaikan harga melewati USD100 per ons.
Meski demikian, reli ini tidak sepenuhnya bersandar pada spekulasi. Sejumlah analis menilai faktor struktural turut berperan, mulai dari permintaan industri untuk sektor energi surya dan elektronik, hingga minimnya investasi tambang baru dalam beberapa tahun terakhir. Permintaan fisik yang mendesak dinilai berpotensi menopang harga di level yang lebih tinggi dibanding siklus sebelumnya.
Premi Bullion Melebar, Pasar Fisik Tertekan
Tekanan juga terlihat jelas di pasar fisik. Harga spot bergerak cepat, sementara premi ritel melonjak tajam. Pada salah satu platform bullion utama, American Silver Eagle tercatat ditawarkan di atas USD107 per koin, jauh melampaui harga acuan sebelumnya. Koin Maple Leaf dan Krugerrand juga diperdagangkan dengan premi tinggi.
Lebarnya selisih antara harga spot dan harga ritel mencerminkan pasar yang menomorsatukan ketersediaan fisik, sekaligus menandakan ketatnya pasokan di tingkat distributor.
Saham Tambang Menguat, Risiko Koreksi Tetap Ada
Reli perak turut mengangkat saham-saham produsen logam mulia. Investor mulai mengantisipasi perbaikan arus kas dan penguatan neraca keuangan setelah periode margin tipis dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, sejumlah pelaku pasar mengingatkan potensi koreksi tajam jika ketegangan geopolitik mereda atau kepercayaan terhadap kebijakan moneter pulih. Sebagian reli dinilai masih dipacu momentum dan leverage, sehingga rentan terhadap pembalikan arah.
Namun untuk saat ini, pasar membaca pesan yang sama: selama ketidakpastian geopolitik bertahan dan kepercayaan terhadap sistem moneter rapuh, keberadaan perak di atas USD100 per ons berpotensi lebih tahan lama dari yang diperkirakan banyak pihak. (*)