Logo
>

Proyeksi Laba 2026 ASII Tertekan, UNTR Jadi Sorotan

Proyeksi 2026 ditopang kenaikan volume otomotif dan pangsa pasar, namun tekanan dari UNTR, Martabe, serta potensi pemangkasan produksi batu bara menekan outlook laba dan dividen.

Ditulis oleh Yunila Wati
Proyeksi Laba 2026 ASII Tertekan, UNTR Jadi Sorotan
Meskipun proyeksi pertumbuhan laba ASII di 2026 tertekan, namun pembayaran dividen tetap direncanakan. (Foto: Dok Astra International)

KABARBURSA.COM – PT Astra International Tbk (ASII), memasuki proyeksi tahun buku 2026 dengan dinamika yang berlapis. Di satu sisi kinerjanya ditopang perbaikan segmen otomotif, namun di sisi lain justru menghadapi tekanan dari lini alat berat dan pertambangan melalui United Tractors (UNTR). 

Dalam proyeksi terbaru, perusahaan mempertahankan estimasi volume wholesale kendaraan roda empat (4W) pada 428 ribu unit di FY26 atau tumbuh 4 persen secara tahunan, meskipun realisasi FY25 tercatat hanya 2 persen di bawah estimasi sebelumnya.

Pertumbuhan estimasi volume wholesale tersebut ditopang oleh ekspektasi kenaikan pangsa pasar menjadi 52 persen dari 51 persen pada FY25. Pendorong utamanya berasal dari potensi kuat penjualan Gran Max dengan rata-rata 7 ribu unit per bulan, seiring implementasi program MBG dan Kopdes. 

Tidak hanya Gran Max, dorongan juga berasal dari tambahan volume hybrid sekitar 15 ribu unit termasuk pengiriman Veloz yang tertunda sejak Desember 2025. 

Kinerja ini sebagian diimbangi proyeksi penurunan 5 persen secara tahunan pada model lain. Dari sisi harga jual rata-rata, pertumbuhan ASP roda empat diperkirakan terbatas di kisaran 2,5 persen per tahun, yang mencerminkan premi hybrid yang relatif marginal.

Pada segmen roda dua (2W), setelah revisi naik pada proyeksi volume nasional, estimasi volume wholesale ASII untuk FY26–FY27 turut dinaikkan 4 persen dengan pangsa pasar stabil di level 78 persen. 

ASP roda dua diproyeksikan meningkat sekitar 4 persen per tahun, didorong bauran produk yang lebih baik. Kombinasi pertumbuhan volume dan harga pada segmen roda dua ini memperlihatkan struktur yang lebih resilien dibanding roda empat, meskipun secara absolut kontribusi margin tetap sensitif terhadap dinamika daya beli domestik.

Operasional Tambang Emas Martabe

Di luar otomotif, tekanan utama datang dari UNTR. Operasional tambang emas Martabe hingga kini belum kembali berjalan, meskipun izin usaha dinyatakan masih sah secara hukum. Dengan asumsi operasi baru pulih pada April–Mei 2026, proyeksi produksi FY26 dipangkas 58 persen menjadi 95 ribu ons, atau turun 56 persen secara tahunan, dengan normalisasi baru diperkirakan terjadi pada FY27. 

Penyesuaian ini berdampak langsung terhadap proyeksi laba bersih konsolidasi.

Risiko tambahan muncul dari potensi pemangkasan produksi batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton atau turun 25 persen. Berdasarkan asumsi tersebut, volume Pama dan TTA pada FY26 diperkirakan turun 19 persen secara tahunan akibat dampak parsial, lalu berlanjut turun 6 persen pada FY27 sebagai dampak penuh setahun. 

Tekanan volume ini sebagian dikompensasi kenaikan asumsi harga batu bara dan emas sebesar 8 hingga 53 persen pada FY26–FY27, sehingga penurunan laba tidak sepenuhnya linear terhadap penurunan volume.

Secara keseluruhan, proyeksi laba bersih inti FY26–FY27 diturunkan 7 hingga 9 persen, terutama akibat revisi pada UNTR. Laba bersih inti FY26 kini diperkirakan turun 10 persen secara tahunan, lebih rendah dari estimasi konsensus. 

Rasio Pembayaran Dividen

Dengan rasio pembayaran dividen dipertahankan di level 49 persen untuk FY26–FY27, sejalan dengan FY25, imbal hasil dividen diproyeksikan berada di kisaran 5,7 hingga 6,1 persen. Penurunan proyeksi laba secara langsung menekan potensi dividen nominal, meskipun kebijakan payout ratio tidak berubah.

Valuasi terbaru mencerminkan target harga Rp5.550 berbasis metode sum of the parts 2026F dengan asumsi price to earnings 7,6 kali pada FY26F. Dengan struktur tersebut, sentimen terhadap ASII dalam jangka menengah ditentukan oleh dua variabel utama, yakni realisasi pemulihan operasional Martabe dan kepastian kebijakan produksi batubara nasional. 

Selain itu, pasar juga mencermati potensi tambahan program buyback yang detailnya belum diumumkan, serta hasil strategic review yang dijadwalkan rampung pada akhir semester I 2026.

Konfigurasi ini menunjukkan bahwa perbaikan otomotif memberikan bantalan terhadap tekanan sektor komoditas. Namun kontribusi UNTR yang signifikan dalam struktur laba grup membuat arah kinerja konsolidasi tetap sangat dipengaruhi dinamika regulasi dan harga komoditas global sepanjang 2026.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79