KABARBURSA.COM –Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dalam sepekan terakhir bergerak tidak stabil. Hingga sesi pertama perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, harga tercatat di level Rp2.940, terkoreksi tipis 0,34 persen dibanding hari sebelumnya.
Jika ditarik ke pergerakan seminggu sebelumnya, 27 April 2026, saham PTBA bergerak dalam rentang Rp2.870 hingga Rp2.950. Penguatan paling signifikan terjadi pada 4 Mei 2026. Saat itu, harga melonjak hingga 2,79 persen ke Rp2.950. Nilai transaksinya mencapai Rp51,14 miliar dengan frekuensi mencapai 6,79 ribu kali.
Saat itu, aktivitas asing terlihat cukup dominan. Data menunjukkan pembelian asing mencapai Rp35,51 miliar, berbanding dengan penjualan Rp4,06 miliar, sehingga menghasilkan net buy sebesar Rp31,46 miliar dalam satu hari.
Namun aliran dana asing tersebut tidak sepenuhnya konsisten. Pada 27 dan 28 April, tercatat net sell masing-masing sebesar Rp2,89 miliar dan Rp7,86 miliar, sebelum kembali berbalik menjadi net buy pada 29 April dan 30 April.
Laba Bersih Rp801,79 Miliar
Dari sisi fundamental, PTBA mencatat lonjakan laba bersih kuartal I 2026 sebesar Rp801,79 miliar, naik 105 persen secara tahunan dari Rp391,4 miliar. Peningkatan ini terjadi di tengah pendapatan yang relatif stagnan di Rp9,93 triliun, turun tipis 0,29 persen yoy.
Perbaikan laba didorong oleh efisiensi biaya, seperti beban pokok pendapatan yang turun 5,89 persen menjadi Rp8,38 triliun. Penurunan ini mendorong laba bruto naik 47,42 persen menjadi Rp1,54 triliun.
Sejalan dengan itu, laba usaha meningkat menjadi Rp878,03 miliar dari Rp442,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail, menyebut perusahaan mampu menjaga stabilitas penjualan di tengah curah hujan tinggi dengan pengelolaan persediaan dan efisiensi operasional. Di sini, faktor operasional menjadi kunci utama dalam kinerja kuartal awal tahun.
Capex 2026 Sebesar Rp3,6 Triliun
Di luar kinerja keuangan, arah belanja modal juga menjadi perhatian pasar. PTBA mengalokasikan capex Rp3,6 triliun untuk 2026, dengan realisasi Rp470 miliar hingga akhir Maret. Sebagian besar dari dana tersebut digunakan untuk pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan.
Selain itu, sentimen jangka menengah datang dari proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Proyek ini menjadi bagian dari strategi pengurangan impor LPG yang saat ini masih sekitar 80 persen dari kebutuhan nasional.
DME merupakan bahan bakar alternatif bersih pengganti LPG (Liquid Petroleum Gas) karena memiliki nyala api biru, pembakaran lebih cepat, dan emisi rendah sulfur.
Sejumlah pejabat menempatkan aktivitas ini sebagai bagian dari proyek strategis nasional. Pengembangan DME juga disebut memiliki dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk penciptaan lapangan kerja dan penguatan industri domestik.
Di tengah kombinasi faktor tersebut, pergerakan harga PTBA dalam jangka pendek masih berada di area konsolidasi. Level Rp2.900–Rp2.950 menjadi rentang yang berulang disentuh dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Data perdagangan menunjukkan bahwa setiap kenaikan cenderung diikuti oleh rotasi transaksi dan perubahan arah aliran dana. Aktivitas ini mencerminkan adanya perpindahan posisi di pasar dalam merespons data kinerja dan perkembangan proyek.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.