Logo
>

Reli Terhenti, Minyak Terkoreksi di Tengah Kenaikan Persediaan

Sehari sebelumnya harga minyak sempat menguat lebih dari 0,4 persen, melanjutkan reli 1,5 persen

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Reli Terhenti, Minyak Terkoreksi di Tengah Kenaikan Persediaan
Ilustrasi minyak dunia. Foto: Dok KabarBursa,com

KABARBURSA.COM - Harga minyak bergerak melemah pada Kamis, setelah mencatat penguatan dalam beberapa sesi sebelumnya. Koreksi ini dipicu laporan lonjakan persediaan minyak mentah dan bensin di Amerika Serikat, di tengah pelaku pasar yang terus menimbang ulang keseimbangan pasokan dan permintaan energi global.

Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi tolok ukur internasional, terkoreksi 28 sen atau 0,43 persen ke level USD64,96 per barel pada pukul 14.49 WIB, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters di Singapura.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) acuan Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Maret, turun 19 sen atau 0,31 persen dan diperdagangkan di USD60,43 per barel.

Padahal, sehari sebelumnya harga minyak sempat menguat lebih dari 0,4 persen, melanjutkan reli 1,5 persen pada sesi sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu terganggunya produksi di ladang minyak Tengiz dan Korolev, Kazakhstan, akibat masalah pasokan listrik yang memaksa penghentian sementara aktivitas produksi.

Di luar faktor teknis, psikologi pasar turut dipengaruhi meredanya nada konfrontatif Presiden AS Donald Trump terkait isu Greenland. Trump menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer serta menarik kembali ancaman tarif terhadap Eropa. Sikap ini dinilai meredam tensi perdagangan trans-Atlantik dan memberi sokongan terhadap prospek permintaan minyak global.

Namun, Amerika Serikat masih membuka ruang bagi kemungkinan keterlibatan militer di Iran, sebuah faktor yang tetap memberikan bantalan bagi harga minyak, ujar Chief Researcher China Futures, Mingyu Gao.

Trump menambahkan, Washington berharap tidak terjadi eskalasi militer lebih lanjut di Iran, meski Amerika siap bertindak apabila Teheran meneruskan program nuklirnya.

Dengan isu Greenland dan potensi konflik Iran yang cenderung meredup, harga minyak diperkirakan akan bertahan di sekitar kisaran USD60 per barel, kata analis IG, Tony Sycamore.

Selain itu, Trump juga menyampaikan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina. Pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dijadwalkan berlangsung pada Rabu. Berakhirnya konflik diperkirakan membuka jalan bagi pencabutan sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia, yang pada gilirannya dapat melonggarkan gangguan pasokan dan menekan harga minyak.

Dalam laporan bulanan terbarunya, International Energy Agency (IEA) merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global pada 2026. Revisi tersebut mengindikasikan surplus pasar minyak global tahun ini kian menipis.

Meski demikian, data American Petroleum Institute (API) menunjukkan peningkatan signifikan persediaan minyak mentah dan bensin Amerika Serikat pada pekan lalu. Stok minyak mentah melonjak 3,04 juta barel hingga 16 Januari, sementara stok bensin meningkat tajam sebesar 6,21 juta barel. Sebaliknya, stok distilat justru turun 33.000 barel.

Enam analis yang disurvei Reuters memperkirakan rata-rata kenaikan stok minyak mentah sekitar 1,1 juta barel pada periode tersebut.

Tingginya persediaan minyak menjadi faktor pembatas bagi reli harga lebih lanjut, terutama di tengah pasar yang masih dibayangi kondisi kelebihan pasokan, ujar analis Haitong Futures, Yang An.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.