KABARBURSA.COM – Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang periode 19 hingga 23 Januari 2026 menempatkan broker ritel sebagai pihak dengan nilai transaksi terbesar di pasar reguler.
Data ringkasan broker menunjukkan Stockbit Sekuritas Digital (XL) memimpin daftar top broker dengan total nilai transaksi mencapai Rp40,4 triliun sepekan.
Selama periode tersebut, XL mencatatkan nilai beli Rp20,9 triliun dan nilai jual Rp19,6 triliun, sehingga menghasilkan pembelian bersih sebesar Rp1,3 triliun. Total volume transaksi mencapai 143,1 miliar saham dengan frekuensi 12,6 juta kali, mencerminkan aktivitas tinggi di sisi ritel.
Mandiri Sekuritas (CC) menempati posisi kedua dengan total nilai transaksi Rp28,7 triliun. Nilai beli tercatat Rp14,3 triliun dan nilai jual Rp14,4 triliun, sehingga menghasilkan penjualan bersih sebesar Rp154,1 miliar. Total volume transaksi Mandiri Sekuritas mencapai 52,1 miliar saham dengan frekuensi 3,1 juta kali.
Di posisi berikutnya, UBS Sekuritas Indonesia (AK) membukukan total nilai transaksi Rp24,8 triliun. Broker asing ini mencatatkan nilai beli Rp13,3 triliun dan nilai jual Rp11,5 triliun, sehingga menghasilkan pembelian bersih sebesar Rp1,7 triliun dengan volume 25,6 miliar saham.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) berada di urutan keempat dengan total nilai transaksi Rp21,2 triliun. Nilai beli dan jual relatif berimbang di kisaran Rp10,6 triliun, namun masih mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp66,5 miliar dengan total volume 53,5 miliar saham.
Selanjutnya, Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) melengkapi lima besar broker dengan total nilai transaksi Rp18,4 triliun. Sepanjang periode tersebut, broker ini mencatatkan nilai beli Rp8,5 triliun dan nilai jual Rp9,9 triliun, sehingga membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,3 triliun.
Apa Saja Saham yang Dibeli Para Broker?
Rincian transaksi XL menunjukkan aktivitas beli terbesar terjadi pada saham BBCA dengan nilai Rp500,2 miliar dan volume 643.124 lot di harga rata-rata 7.786.
Selain itu, XL juga mencatatkan pembelian pada saham BUMI senilai Rp285,6 miliar dengan volume sekitar 7 juta lot di harga rata-rata 387 serta PTRO sebesar Rp228,7 miliar dengan volume 231.999 lot di harga rata-rata 10.153.
Di sisi penjualan, XL melepas saham BBRI dengan nilai Rp178,0 miliar dan volume 464.807 lot di harga rata-rata 3.831 serta ADRO senilai Rp121,0 miliar dengan volume 522.913 lot di harga rata-rata 2.288.
Pada broker CC, pembelian terbesar tercatat pada saham BBCA senilai Rp513,8 miliar dengan volume 659.721 lot di harga rata-rata 7.798. Pembelian juga terjadi pada saham TLKM sebesar Rp228,1 miliar dengan volume 626.083 lot di harga rata-rata 3.656 serta AMRT senilai Rp96,5 miliar dengan volume 497.709 lot di harga rata-rata 1.938.
Di sisi jual, Mandiri Sekuritas mencatatkan penjualan pada saham UNTR senilai Rp301,4 miliar dengan volume 112.099 lot di harga rata-rata 27.495 serta BBRI sebesar Rp242,2 miliar dengan volume 631.444 lot di harga rata-rata 3.832.
Aktivitas AK didominasi pembelian pada saham BUMI senilai Rp405,4 miliar dengan volume sekitar 11,5 juta lot di harga rata-rata 378. UBS juga mencatatkan pembelian pada saham UNTR sebesar Rp320,0 miliar dengan volume 114.992 lot di harga rata-rata 27.992 serta BBCA senilai Rp239,0 miliar dengan volume 314.362 lot di harga rata-rata 7.780.
Pada saat yang sama, tekanan jual tercatat pada saham ANTM dengan nilai Rp205,4 miliar dan volume 509.159 lot di harga rata-rata 4.155, saham INDY senilai Rp128,8 miliar dengan volume 364.294 lot di harga rata-rata 3.574, serta ARCI sebesar Rp106,1 miliar dengan volume 533.961 lot di harga rata-rata 1.984.
Data broker YP menunjukkan pembelian terbesar pada saham BBCA senilai Rp403,4 miliar dengan volume 518.043 lot di harga rata-rata 7.793. Pembelian juga tercatat pada saham BUMI sebesar Rp158,9 miliar dengan volume sekitar 4 juta lot di harga rata-rata 385 serta UNTR senilai Rp82,6 miliar dengan volume 30.309 lot di harga rata-rata 27.469.
Di sisi penjualan, YP mencatatkan pelepasan saham BBRI senilai Rp160,1 miliar dengan volume 416.756 lot di harga rata-rata 3.837, BMRI sebesar Rp78,4 miliar dengan volume 155.965 lot di harga rata-rata 5.019, serta BBNI senilai Rp61,2 miliar dengan volume 132.300 lot di harga rata-rata 4.613.
Sementara itu, ZP mencatatkan pembelian pada saham BBRI senilai Rp230,3 miliar dengan volume 598.008 lot di harga rata-rata 3.838. Pembelian juga terjadi pada saham BRMS sebesar Rp187,2 miliar dengan volume sekitar 1,5 juta lot di harga rata-rata 1.255 serta ASII senilai Rp185,0 miliar dengan volume 274.554 lot di harga rata-rata 6.823.
Tekanan jual terbesar terjadi pada saham BBCA dengan nilai Rp1,3 triliun dan volume sekitar 1,7 juta lot di harga rata-rata 7.752, UNTR senilai Rp334,2 miliar dengan volume 122.379 lot di harga rata-rata 27.793, serta BBNI sebesar Rp319,5 miliar dengan volume 694.960 lot di harga rata-rata 4.597.
Struktur transaksi sepanjang periode ini memperlihatkan dominasi ritel dalam total nilai dan frekuensi perdagangan.
Aktivitas broker asing tetap signifikan pada saham-saham berkapitalisasi besar, namun tidak menggeser posisi ritel sebagai penggerak utama likuiditas pasar reguler. (*)