KABARBURSA.COM - Kurs rupiah kembali perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis, 7 November 2024. Walau begitu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terperosok hingga 140 poin.
Nilai tukar rupiah mengalami penguatan signifikan terhadap dolar AS setelah kepastian hasil pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) yang muncul lebih cepat dari perkiraan. Kondisi ini memicu minat pelaku pasar pada aset-aset berisiko dan mendorong penguatan mata uang di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Mengutip data dari Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp15.740 per dolar AS, menguat sebanyak 92 poin atau 0,58 persen dibandingkan penutupan pada hari Rabu, 6 November 2024, di level Rp15.832 per dolar AS.
Penguatan ini menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia yang terus berupaya memperkuat stabilitas ekonomi di tengah tantangan global.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah kali ini didorong oleh melemahnya indeks dolar AS. Hasil pemilu presiden AS yang lebih cepat dari perkiraan memberikan kepastian yang selama ini diinginkan oleh pelaku pasar global.
"Kepastian dari hasil pilpres AS yang sengit ini telah mengakhiri ketidakpastian di kalangan pelaku pasar keuangan global. Hal ini memicu minat kembali investasi terhadap aset-aset berisiko, termasuk rupiah," jelas Ibrahim dalam keterangannya, hari ini.
Selain kepastian dari hasil pemilu, pasar juga sedang menantikan hasil dari pertemuan Federal Reserve (The Fed) yang akan dilakukan pada Kamis waktu setempat. The Fed diperkirakan akan memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, yang berpotensi mempengaruhi nilai tukar dolar AS dan memberikan dampak positif bagi mata uang rupiah.
Namun demikian, prospek suku bunga The Fed masih penuh dengan ketidakpastian, terutama dengan presiden terpilih Donald Trump yang berjanji akan menaikkan tarif perdagangan hingga 60 persen pada semua impor dari Tiongkok.
Ketidakpastian kebijakan dagang dan inflasi yang masih meningkat di AS turut menjadi sorotan.
Meski begitu, hubungan antara AS dan Tiongkok diperkirakan akan tetap stabil. Trump dilaporkan telah berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping melalui telepon dan menerima ucapan selamat dari Beijing atas kemenangannya.
Sentimen Positif dari Dalam Negeri
Di sisi lain, faktor dalam negeri juga berkontribusi terhadap penguatan rupiah. Bank Indonesia baru saja melaporkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2024 tercatat sebesar USD151,2 miliar, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir September 2024 yang sebesar USD149,9 miliar.
Peningkatan cadangan devisa ini, menurut Ibrahim, menjadi sentimen positif yang turut membantu penguatan rupiah. Peningkatan tersebut bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri oleh pemerintah.
"Kenaikan posisi cadangan devisa ini merupakan bukti dari kestabilan perekonomian Indonesia dan turut memberikan dorongan pada penguatan rupiah," tambah Ibrahim.
Meski rupiah menunjukkan tren penguatan, tantangan global seperti kebijakan perdagangan AS dan inflasi, masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar. Prospek jangka panjang juga masih akan bergantung pada perkembangan ekonomi global serta kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia, termasuk The Fed.
Namun, dengan cadangan devisa yang kuat dan minat pasar terhadap aset-aset berisiko yang terus tumbuh, rupiah memiliki peluang untuk terus menguat jika kondisi ekonomi global tetap kondusif.
Penguatan rupiah terhadap dolar AS kali ini menjadi momentum penting bagi perekonomian Indonesia.
Kepastian hasil pemilu presiden AS yang lebih cepat, serta sentimen positif dari peningkatan cadangan devisa Indonesia, menjadi faktor pendorong yang signifikan.
Meski demikian, ketidakpastian kebijakan perdagangan global dan prospek suku bunga The Fed akan tetap menjadi perhatian utama bagi pelaku pasar di waktu mendatang.
Dengan fondasi yang kuat, seperti cadangan devisa yang solid, rupiah diharapkan tetap stabil menghadapi tantangan ekonomi global yang dinamis.
IHSG Melemah 140 Poin
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah hingga 140 poin atau turun 1,90 persen ke level 7243 pada perdagangan Kamis, 7 November 2024.
Mengutip data perdagangan RTI Bussiness, pergerakan IHSG pada hari ini terpantau bervariasi dengan level tertinggi 7386 dan terendah 7243.
Sebanyak 221 saham terpantau menguat, 362 saham berada di zona merah, dan 199 saham mengalami stagnan.
Sementara mengutip data perdagangan Stockbit, saham-saham yang bertengger di lima besar top gainers yakni PTIS (+24,79 persen), FMII (+24,57 persen), RAJA (+23,03 persen), SAFE (+15,76 persen), dan MPOW (+13,10 persen).
Sedangkan lima saham yang mengalami koreksi paling dalam yaitu MLPT (-19,09 persen), SMIL (-19,03 persen), BTON (-12,39 persen), DNAR (-11,52 persen), dan MLPL (-11,03 persen).
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor terpantau melemah. Adapun sektor yang mengalami koreksi paling dalam adalah basic ind (-3,47 persen), teknologi (-2,33 persen), finance (-0,97 persen), dan industrial (-0,94 persen).(*)