KABARBURSA.COM — Ketika rupiah terus tertekan terhadap dolar AS, satu asumsi lama yang sering beredar di pasar adalah bahwa eksportir bakal mendapat angin segar. Logikanya sederhana. Dolar naik, pendapatan ekspor naik, laba ikut terdongkrak. Tapi di praktiknya, cerita itu tak selalu bekerja lurus.
Penulis pasar modal dari Komunitas Pintar Saham, Skydrugz27, justru melihat pelemahan rupiah bisa menjadi pedang bermata dua, terutama bagi emiten yang neraca valasnya timpang. Contoh paling kontras terlihat pada tiga saham konsumsi harian: Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), Ultrajaya Milk Industry (ULTJ), dan Cimory Dairyland (CMRY).
“Kalau rupiah melemah harusnya eksportir auto senyum. Di praktiknya, senyum itu cuma datang kalau arus dollar masuk lebih besar daripada arus dollar keluar,” katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa, 20 Januari 2026.
Khusus ICBP, kata Ngurah, memang punya ekspor yang tak kecil. Sepanjang sembilan bulan 2025, nilai ekspornya mencapai Rp17,23 triliun atau sekitar 30,6 persen dari total penjualan. Angka ini kerap dijadikan alasan bahwa ICBP relatif tahan terhadap pelemahan rupiah.
Masalahnya, ekspor bukan berarti kas bersih dolar. Di balik penjualan global itu, ICBP menanggung beban valas yang jauh lebih besar. Per September 2025, posisi valas perusahaan berada di liabilitas neto sekitar Rp28,62 triliun.
“Kalau kurs tembus 20.000 rupiah, yang terjadi bukan pesta laba, tapi hitungan rugi kurs yang bisa menggerus laba operasional,” ujarnya.
Ia menegaskan sumber masalahnya bukan ekspor, melainkan mismatch neraca, ketika kewajiban dolar jauh melampaui aset dolar. Ditambah lagi, ICBP masih harus menghadapi kenaikan biaya bahan baku impor dan beban bunga valas.
Data menunjukkan, beban bunga ICBP selama sembilan bulan di 2025 mencapai sekitar Rp1,56 triliun. Artinya, setiap pelemahan rupiah bukan hanya menekan nilai utang, tapi juga mengunci ruang laba dari sisi pembiayaan.
Dampaknya terlihat jelas ketika dihitung secara sensitivitas. Menurut dia, setiap pelemahan rupiah sebesar 10 persen berpotensi menurunkan laba sebelum pajak ICBP sekitar Rp2,45 triliun.
Jika skenario ekstrem terjadi, dengan kurs naik dari sekitar Rp16.680 ke Rp20.000 per dolar atau sekitar 20 persen, tekanan kurs yang dihadapi ICBP bisa mencapai Rp4,9 triliun hingga Rp5,5 triliun.
Di titik ini, margin pengaman laba mulai menipis. Jika laba operasional bersih tidak tumbuh jauh di atas angka tersebut, pelemahan rupiah justru berubah menjadi semacam “pajak kurs” bagi kinerja perusahaan.
ULTJ dan CMRY: Ekspor Kecil, tapi Lebih Nyaman
Cerita berbeda datang dari ULTJ dan CMRY. Dua emiten ini memang tidak dikenal sebagai eksportir besar. Nilai ekspor ULTJ selama 9M 2025 hanya sekitar Rp19,59 miliar, sementara CMRY lebih lumayan, yakni Rp72,41 miliar.
Namun, kunci ceritanya bukan di ekspor, melainkan posisi kas dan aset valas. Per September 2025, ULTJ mencatat aset neto valas sekitar Rp0,95 triliun, sedangkan CMRY lebih besar lagi, sekitar Rp2,26 triliun. Dengan posisi ini, pelemahan rupiah justru berpotensi menambah laba.
Dalam simulasi yang sama, pelemahan rupiah 10 persen diperkirakan:
- menaikkan laba sebelum pajak ULTJ sekitar Rp0,10 triliun,
- dan menaikkan laba CMRY sekitar Rp0,22 triliun.
Jika kurs benar-benar naik ke Rp20.000 per dolar, tambahan laba kurs diperkirakan mencapai:
- sekitar Rp0,19–Rp0,21 triliun untuk ULTJ
- dan Rp0,44–Rp0,50 triliun untuk CMRY.
Efek ini makin terasa karena beban bunga keduanya relatif kecil. Beban bunga ULTJ di 9M 2025 hanya sekitar Rp0,10 miliar, sementara biaya keuangan CMRY tercatat sekitar Rp1,74 miliar.
Perbandingan tiga saham ini menunjukkan satu pelajaran penting. Produk boleh sama-sama dijual tiap hari, sektor boleh sama-sama konsumsi, tapi respons terhadap kurs bisa bertolak belakang.
“Tanpa utang dollar, ICBP memang lebih mungkin ikut menikmati pelemahan rupiah. Tapi dengan struktur sekarang, pelemahan rupiah lebih sering jadi pajak kurs buat laba,” katanya.
Bagi investor, fokus tak cukup berhenti di narasi ekspor atau skala bisnis. Yang lebih menentukan justru posisi valas bersih, sensitivitas laba terhadap kurs, dan seberapa besar ruang aman laba menghadapi guncangan nilai tukar.
Kondisi Rupiah di Awal 2026
Rupiah memulai 2026 dengan langkah yang belum benar-benar mantap. Nilai tukar bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar Amerika Serikat dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Pergerakannya relatif stabil, tapi stabil di level yang masih lemah.
Data kurs harian menunjukkan rupiah belum keluar dari tekanan. Dalam periode 14–20 Januari 2026, kurs pajak tercatat di sekitar Rp16.786 per dolar AS. Angka ini memberi sinyal bahwa pelemahan bukan kejadian sesaat, melainkan tren yang masih bertahan sejak akhir tahun lalu. Pada perdagangan pekan sebelumnya, rupiah juga sempat berada di kisaran Rp16.850 per dolar AS.
Jika ditarik sedikit ke belakang, posisi ini jelas lebih lemah dibanding akhir 2025, ketika rupiah masih bergerak di area Rp16.700-an. Artinya, memasuki tahun baru, rupiah belum menemukan tenaga baru untuk menguat secara berarti.
Tekanan utama datang dari luar negeri. Dolar AS masih perkasa karena ditopang data ekonomi Amerika Serikat yang relatif solid dan ekspektasi suku bunga acuan The Fed yang bertahan tinggi lebih lama. Dalam situasi seperti ini, mata uang negara berkembang cenderung berada di posisi tertekan, termasuk rupiah.
Ketegangan geopolitik global ikut memperkeruh suasana. Risiko perang dagang dan konflik internasional membuat investor global cenderung mencari perlindungan. Dolar kembali diburu sebagai aset aman, seiring dengan reli emas. Aliran dana ke safe haven ini otomatis mengurangi minat terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia memilih bersikap defensif. BI menahan suku bunga acuannya dan tidak terburu-buru melanjutkan pelonggaran moneter. Langkah ini ditempuh karena rupiah saat ini berada di salah satu posisi terlemah di kawasan Asia.
Tak hanya lewat suku bunga, BI juga aktif masuk ke pasar. Intervensi dilakukan baik di pasar spot, pasar DNDF, maupun pasar obligasi untuk menahan volatilitas agar tidak bergerak liar. Tujuannya bukan semata menguatkan rupiah, tetapi menjaga agar pelemahan berlangsung terukur dan tidak memicu kepanikan.
Ke depan, bank sentral sebenarnya memasang target yang lebih optimistis. Gubernur BI pada akhir 2025 menyampaikan harapan agar rupiah bisa bergerak di kisaran Rp16.400 hingga Rp16.500 per dolar AS sepanjang 2026. Target ini mencerminkan keinginan menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun pasar paham, jalan menuju level tersebut tidak akan lurus. Selama dolar AS masih kuat dan ketidakpastian global belum mereda, rupiah kemungkinan masih bergerak hati-hati. Untuk sementara, nilai tukar berada di fase bertahan, menunggu apakah tekanan eksternal mereda atau justru kembali meningkat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.