Logo
>

Safe Haven Kembali Diburu, Harga Emas Menembus Rekor Historis

Di pasar spot, emas menanjak ke rekor tertinggi USD4.917,65 per ons

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Safe Haven Kembali Diburu, Harga Emas Menembus Rekor Historis
Ilustrasi emas perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Harga emas melampaui ambang psikologis USD4.900 per ons untuk pertama kalinya pada Kamis, dipacu eskalasi ketegangan geopolitik global, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta menguatnya spekulasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Dalam arus yang sama, perak dan platinum ikut menorehkan puncak harga anyar.

Di pasar spot, emas menanjak ke rekor tertinggi USD4.917,65 per ons pada pukul 01.51 WIB. Pada saat bersamaan, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari ditutup melonjak 1,6 persen ke posisi USD4.913,4 per ons, sebagaimana dilaporkan Reuters dari Bengaluru, Kamis 22 Januari atau Jumat 23 Januari 2026 dini hari WIB.

Pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,4 persen menjadi bantalan tambahan bagi logam mulia. Kondisi tersebut membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi greenback kian atraktif bagi pembeli lintas mata uang.

Menurut Vice President Zaner Metals, Peter Grant, kombinasi ketegangan geopolitik, depresiasi dolar secara menyeluruh, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed tahun ini telah menyatu dalam arus besar de-dolarisasi global. Arus inilah yang terus mengerek permintaan emas.

Dari ranah geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengklaim telah mengamankan akses penuh dan permanen Amerika Serikat ke Greenland melalui sebuah kesepakatan dengan NATO. Pimpinan NATO menegaskan, negara-negara sekutu perlu mempertebal komitmen terhadap keamanan kawasan Arktik guna meredam ancaman Rusia dan China.

Meski demikian, detail kesepakatan tersebut masih diselimuti kabut ketidakpastian. Pemerintah Denmark pun menegaskan bahwa kedaulatannya atas Greenland bersifat final dan tidak untuk ditawar.

Sementara dari sisi ekonomi, laporan terbaru Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat menunjukkan belanja konsumen meningkat pada November dan Oktober. Capaian ini menandai kuartal ketiga berturut-turut dengan laju pertumbuhan yang solid.

Pelaku pasar kini memproyeksikan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, pada paruh kedua tahun ini. Prospek tersebut semakin memoles daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

Koreksi jangka pendek diperkirakan akan dimaknai sebagai celah akumulasi. Level USD5.000 per ons dinilai semakin dekat, sebelum target lanjutan berdasarkan proyeksi Fibonacci di kisaran USD5.187,79 per ons, ujar Grant.

Di segmen logam mulia lainnya, harga perak spot melesat ke rekor tertinggi USD96,58 per ons.

Perak dinilai memiliki narasi fundamental yang lebih menggugah dibandingkan emas. Kendati tidak berstatus aset cadangan, logam ini tetap menikmati limpahan arus safe-haven serta keuntungan dari pelemahan dolar, kata analis Tradu, Nikos Tzabouras.

Adapun harga platinum spot terkerek 4,6 persen ke rekor tertinggi USD2.601,03 per ons. Paladium turut menguat, naik 3,3 persen dan bertengger di level USD1.900,59 per ons.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.