KABARBURSA.COM — Pasar saham Asia yang sempat melaju kencang akhirnya mengambil jeda pada Kamis, 29 Januari 2026. Laju indeks tertahan setelah laporan kinerja emiten teknologi keluar tidak seragam, memunculkan sikap hati-hati investor menjelang rilis kinerja Apple. Di saat yang sama, dolar Amerika Serikat justru terlihat rapuh, meski sudah mendapat sokongan lisan dari pejabat Amerika Serikat dan Eropa.
Ketika pasar saham mulai menahan napas, arus dana justru mengalir deras ke aset keras. Harga emas dan perak kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Minyak mentah ikut melonjak ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran soal potensi serangan jika kesepakatan nuklir tak tercapai.
Di Washington, bank sentral Amerika Serikat memutuskan menahan suku bunga sesuai ekspektasi pasar. Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyebut prospek ekonomi menunjukkan tanda perbaikan yang semakin jelas dan mayoritas anggota komite sepakat untuk mengambil jeda kebijakan.
Powell enggan menjawab apakah ia akan tetap menjadi gubernur The Fed setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada Mei mendatang, di tengah tekanan Trump agar bank sentral memangkas suku bunga lebih agresif.
Respons pasar datang cepat. Peluang pemangkasan suku bunga pada April dipangkas menjadi hanya 26 persen, sementara Juni kini dipandang sebagai jendela paling realistis dengan probabilitas 61 persen.
Di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter, investor kembali berharap kinerja emiten mampu menopang harga saham. Samsung Electronics tampaknya menjawab harapan itu dengan mencatat lonjakan laba operasional hingga tiga kali lipat, didorong demam pembangunan kecerdasan buatan yang mendorong harga chip melonjak.
Namun reli tersebut tampaknya sudah terlalu banyak diperhitungkan pasar. Dilansir dari Reuters, indeks saham Korea Selatan turun 1,2 persen, meski sepanjang bulan ini masih menguat 21 persen. Bursa Taiwan yang sarat saham teknologi juga mencatat kenaikan hampir 14 persen dalam periode yang sama.
Di Jepang, indeks Nikkei terkoreksi tipis 0,1 persen. Pergerakan yen yang liar serta lonjakan tajam imbal hasil obligasi domestik menjadi beban tersendiri. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6 persen, menandakan kehati-hatian yang meluas di kawasan.
Di Indonesia lebih menyedihkan lagi. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ambles hingga 8 persen. Hal ini memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memberlakukan pembekuan sementara perdagangan atau trading halt. Penghentian sementara ini dilakukan sekitar pukul 09.30 WIB setelah penurunan indeks melewati ambang batas yang ditetapkan.
Tekanan serupa terlihat di Eropa. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan FTSE turun 0,2 persen, sementara DAX melemah 0,1 persen.
Di Wall Street, fokus pasar tertuju pada perbandingan antara belanja besar kecerdasan buatan dan imbal hasil laba. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,2 persen dan Nasdaq melemah 0,1 persen, seiring sentimen campuran dari raksasa teknologi.
Saham Microsoft anjlok 6,5 persen dalam perdagangan setelah jam bursa. Pasar khawatir belanja modal masif perusahaan itu belum tentu menghasilkan imbal balik yang sepadan dengan valuasinya yang sudah melambung tinggi.
Sebaliknya, Meta justru memberi kejutan positif. Perusahaan ini menaikkan proyeksi pendapatan dan belanja modal untuk 2026, mendorong sahamnya melonjak 8 persen dan menambah nilai pasar sekitar USD140 miliar atau setara Rp2.359 triliun.
“Tema umum dari Meta dan Microsoft sejauh ini adalah belanja modal yang lebih besar dari perkiraan, yang menandakan momentum kenaikan belanja kecerdasan buatan,” tulis analis JPMorgan. Namun, mereka menekankan perbedaannya terletak pada Meta yang juga menaikkan proyeksi pendapatan 2026 jauh di atas ekspektasi pasar.
Sorotan kini beralih ke Apple. JPMorgan memperkirakan kinerja Apple akan melampaui konsensus, didorong permintaan kuat iPhone 17 dan laju pertumbuhan biaya yang lebih terkendali. Bank itu bahkan menaikkan target harga akhir 2026 menjadi USD315 atau sekitar Rp5.307.750 per saham, dari sebelumnya USD305.
Di pasar valuta asing, dolar terus tertekan. Investor memilih berjaga-jaga menghadapi ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat dan beban utang pemerintah yang terus membengkak.
Pernyataan resmi hanya memberi dukungan terbatas. Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menegaskan pemerintah masih menganut kebijakan dolar kuat, meski Trump sebelumnya terkesan membiarkan pelemahan mata uang tersebut.
Dari Eropa, para pemimpin menyuarakan kekhawatiran atas kejatuhan dolar. Pejabat Bank Sentral Eropa bahkan mengisyaratkan bahwa lonjakan euro yang terlalu tajam bisa menjadi alasan pemangkasan suku bunga.
Euro menguat 0,2 persen ke level USD1,1973 atau setara Rp20.175 per euro. Dolar melemah 0,4 persen terhadap franc Swiss ke 0,7657 dan turun 0,3 persen terhadap yen Jepang ke 152,97.
“Pelemahan dolar lebih lanjut akan meningkatkan peluang ECB dan bank sentral lain memangkas suku bunga, sekaligus membuka peluang pasar negara berkembang mengulang kinerja unggul seperti tahun lalu,” ujar ekonom Capital Economics Jack Allen-Reynolds.
Tekanan dolar itu kembali menyulut permintaan terhadap aset keras. Harga emas melonjak 1,8 persen ke USD5.485 per ons atau sekitar Rp92,4 juta, dengan kenaikan bulanan mencapai 27 persen. Perak dan tembaga ikut melesat.
Harga minyak melanjutkan reli di tengah kekhawatiran potensi aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran dapat mengganggu pasokan global. Minyak Brent naik 0,6 persen ke USD68,80 per barel atau sekitar Rp1,16 juta, sementara minyak mentah Amerika Serikat menguat 0,7 persen ke USD63,65 per barel atau sekitar Rp1,07 juta.
Pasar global pun kembali dihadapkan pada satu kenyataan lama yang terus berulang. Ketika geopolitik memanas dan arah kebijakan moneter belum jelas, saham boleh ragu, tapi emas dan minyak hampir selalu kebanjiran peminat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.