Logo
>

Saham Banyak Dilepas Asing, SMGR Yakin Perkuat Posisi di 2025

Ditulis oleh Yunila Wati
Saham Banyak Dilepas Asing, SMGR Yakin Perkuat Posisi di 2025

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) sedang mengalami tantangan. Di tengah keyakinan mampu memperkuat posisi di 2025, SMGR justru kehilangan banyak investor, terutama investor asing.

    Pada perdagangan sesi terakhir Jumat, 30 November 2024, saham SMGR mengalami tekanan, melemah sebesar 3,05 persen atau turun 110 poin ke level Rp3.500. Saham dibuka di harga Rp3.630, sedikit lebih tinggi dibandingkan harga penutupan sebelumnya di Rp3.610. Namun optimisme pasar tidak bertahan lama.

    Selama sesi perdagangan, SMGR sempat mencapai harga tertinggi di Rp3.640, namun tekanan jual yang signifikan mendorong saham turun ke level terendah hariannya di Rp3.490. Rata-rata harga transaksi berada di Rp3.531, yang menunjukkan adanya tekanan dari penjual sepanjang hari.

    Volume transaksi mencatatkan sebanyak 74.000 lot dengan frekuensi transaksi mencapai 3.798 kali. Catatan tersebut menandakan adanya aktivitas jual-beli yang cukup aktif di pasar.

    Namun, ternyata nilai transaksi asing menunjukkan dominasi penjualan dengan foreign sell mencapai Rp14,1 miliar. Kumpulan transaksi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan foreign buy sebesar Rp2,6 miliar. Artinya, aksi keluar dari investor asing yang lebih tinggi memberikan tekanan pada harga saham yang akhirnya melemah.

    Total nilai transaksi hari ini tercatat sebesar Rp26,2 miliar, dengan mayoritas pelaku pasar memilih untuk melepas sahamnya di tengah sentimen negatif.

    Posisi harga ARB (Auto Rejection Bawah) berada di Rp2.710, memberikan gambaran batas bawah pelemahan yang memungkinkan, sementara harga ARA (Auto Rejection Atas) di Rp4.510 menunjukkan ruang kenaikan yang jauh lebih tinggi.

    Penurunan harga saham SMGR pada hari ini kemungkinan dipengaruhi oleh sentimen pasar yang cenderung berhati-hati terhadap sektor material dasar, terutama di tengah potensi perlambatan proyek infrastruktur atau fluktuasi harga bahan baku.

    Aksi jual asing yang dominan juga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek jangka pendek emiten ini.

    Dengan tekanan jual yang kuat dan dominasi aksi asing, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan sentimen serta kinerja fundamental SMGR ke depan. Terutama, katalis positif seperti proyek strategis pemerintah atau penurunan biaya produksi dapat menjadi pendorong pemulihan harga saham di masa mendatang.

    Inovasi Semen Ramah Lingkungan

    Menatap 2025 dengan penuh keyakinan, SMGR terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui inovasi produk ramah lingkungan.

    Sebagai penguasa pasar semen nasional, SIG menyadari pentingnya beradaptasi dengan tren global yang semakin mengedepankan keberlanjutan dan kesadaran lingkungan.

    Direktur Operasi SIG Reni Wulandari, menjelaskan bahwa SIG kini tengah mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam seluruh kegiatan operasionalnya. Fokus ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan bangunan yang tidak hanya berkualitas tinggi tetapi juga aman bagi pelanggan dan lebih ramah lingkungan.

    "Dengan pola operasi berkelanjutan, kami berupaya mengurangi dampak lingkungan dari proses produksi sekaligus meningkatkan daya saing produk SIG di tingkat nasional dan global," ujar Reni.

    SIG telah mengadopsi prinsip ekonomi sirkular dalam kegiatan produksinya, seperti penggunaan bahan bakar alternatif dari limbah pertanian, sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF), biomassa, serta sumber energi alternatif lainnya. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan operasional produksi yang lebih berkelanjutan dan efisien.

    Di sisi lain, SIG juga telah mengimplementasikan teknologi berbasis Industry 4.0 untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi energi, dan mengurangi emisi karbon. Digitalisasi yang diterapkan tidak hanya membantu efisiensi produksi tetapi juga memastikan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tetap terjaga.

    Produk SIG, yang telah tersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), juga memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 90 persen, jauh melampaui standar minimum yang ditetapkan dalam regulasi.

    Salah satu inovasi unggulan SIG adalah produk semen ramah lingkungan yang mampu mengurangi emisi karbon hingga 38 persen dibandingkan semen konvensional. Hal ini membuktikan komitmen SIG dalam menghadirkan solusi konstruksi yang lebih hijau sekaligus mendukung agenda pembangunan rendah karbon di Indonesia.

    Peluang dan Tantangan

    Keyakinan SMGR dan keinginan untuk menjadi penguasa pasar semen nasional tentunya tidak dapat mengabaikan peluang dan tantangan. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan menghadapi peluang dan tantangan tersebut, dapat dilihat fundamental SMGR.

    PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), sebagai salah satu pemain utama di industri semen nasional, mencatat penurunan laba bersih pada kuartal kedua 2024.

    Laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp501,5 miliar, mengalami penurunan signifikan sebesar 42,1 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai Rp866,2 miliar.

    Penurunan ini memberikan dampak pada laba bersih per saham yang kini hanya setara dengan Rp73,75 per lembar, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

    Kinerja pendapatan SMGR pada semester pertama 2024 juga mencerminkan tekanan yang dihadapi perusahaan. Pendapatan tercatat sebesar Rp16,4 triliun, turun 3,5 persen secara tahunan dari Rp17,0 triliun di semester pertama 2023.

    Meskipun demikian, EBITDA menunjukkan peningkatan sebesar 31,8 persen menjadi Rp2,9 triliun, mengindikasikan efisiensi operasional yang lebih baik meski tekanan pendapatan terjadi.

    Namun, margin profitabilitas SMGR mengalami kontraksi. Margin laba kotor turun menjadi 23,8 persen, sementara margin EBITDA berada di level 17,7 persen.

    Margin laba bersih perusahaan yang hanya sebesar 3,1 persen menjadi cerminan tantangan besar yang dihadapi, terutama dalam menjaga efisiensi operasional di tengah fluktuasi biaya dan permintaan pasar.

    Secara neraca, SMGR mencatat total aset sebesar Rp78,0 triliun dengan kas yang tersedia mencapai Rp4,3 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) tercatat sebesar 0,63, menunjukkan penggunaan utang yang masih dalam batas moderat.

    Meski demikian, beban bunga sebesar Rp662 miliar menambah tekanan pada profitabilitas perusahaan, meski rasio EBITDA terhadap beban bunga sebesar 4,37 menunjukkan kemampuan yang cukup untuk menutup kewajiban bunga.

    Valuasi saham SMGR saat ini terbilang mahal dengan price-to-earnings ratio (PER) mencapai 52,20 kali, jauh di atas rata-rata sektor. Namun, price-to-book value (PBV) di level 0,54 kali menunjukkan bahwa saham ini diperdagangkan dengan diskon signifikan terhadap nilai bukunya.

    Hal ini mencerminkan persepsi pasar terhadap tantangan fundamental yang dihadapi perusahaan, sekaligus membuka potensi bagi investor jangka panjang yang percaya pada strategi transformasi SMGR.

    Melihat rasio pengembalian, return on assets (ROA) berada di level 0,64 persen, sementara return on equity (ROE) hanya mencapai 1,05 persen. Angka-angka ini menyoroti profitabilitas yang rendah di tengah tekanan pada pasar semen domestik dan global.

    Walau begitu, fokus perusahaan pada efisiensi dan inovasi, seperti pengembangan produk ramah lingkungan dan adopsi teknologi Industry 4.0, diharapkan dapat memberikan daya saing jangka panjang.

    Dengan berbagai tantangan ini, SMGR perlu terus memperkuat strategi bisnisnya, khususnya dalam mengatasi fluktuasi biaya produksi dan persaingan yang semakin ketat.

    Meski kinerja laba bersih menurun, peluang pertumbuhan tetap ada, terutama melalui optimalisasi efisiensi operasional dan diversifikasi produk untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin dinamis. Dukungan dari pemerintah dan inisiatif keberlanjutan juga menjadi kunci penting bagi keberhasilan SMGR di masa depan.

    Rekomendasi SMGR

    Dari paparan di atas, sepertinya saham SMGR lebih cocok untuk investor jangka panjang yang memiliki toleransi risiko dan kepercayaan terhadap kemampuan manajemen perusahaan dalam mengatasi tantangan operasional dan makroekonomi.

    Untuk jangka pendek, investor perlu berhati-hati karena tekanan pada laba bersih dan margin profitabilitas kemungkinan masih berlanjut hingga permintaan pasar benar-benar pulih.

    Disarankan untuk memantau laporan keuangan kuartal mendatang serta perkembangan proyek strategis perusahaan sebelum membuat keputusan pembelian.(*)

    Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak, membeli, atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analisis atau sekuritas yang bersangkutan, dan  Kabarbursa.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian investasi yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79