KABARBURSA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan 18-22 Mei 2026 diperkirakan masih bergerak fluktuatif di tengah tekanan implementasi rebalancing Morgan Stanley Capital International atau MSCI menjelang effective date pada 29 Mei 2026.
Meski volatilitas pasar masih tinggi, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) melihat terdapat peluang trading pada sejumlah saham yang dinilai memiliki katalis sektoral kuat, mulai dari batu bara, logistik energi, pariwisata hingga produk consumer berbasis domestik.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan tekanan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dan mekanisme global dibanding pelemahan fundamental ekonomi nasional.
“IPOT melihat tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan GDP Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61 persen, pasar domestik sebenarnya masih memiliki fondasi fundamental yang cukup resilien,” ujar Imam dalam riset yang diterima KabarBursa.com pada Senin, 18 Mei 2026.
Ia menambahkan hingga arus dana asing mulai stabil pasca effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi sehingga investor perlu lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading.
“Namun hingga arus dana asing mulai stabil pasca effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading,” katanya.
Merespons kondisi tersebut, IPOT merekomendasikan beberapa saham pilihan yang dinilai berpotensi mencatatkan pergerakan positif dalam jangka pendek.
Salah satu saham yang direkomendasikan ialah PT Bumi Resources Tbk dengan kode saham BUMI dari sektor batu bara dan energi. IPOT merekomendasikan buy pada area entry 214 dengan target price di level 242 serta stop loss di bawah 200.
Menurut IPOT, BUMI menjadi salah satu trading proxy utama untuk memanfaatkan momentum bullish harga batu bara dan potensi technical rebound setelah tekanan MSCI rebalancing. Perseroan juga dinilai memiliki sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga energi global di tengah terganggunya distribusi energi dunia akibat konflik geopolitik.
Selain itu, PT Sanurhasta Mitra Tbk dengan kode saham MINA dari sektor properti, hospitality dan lifestyle juga masuk rekomendasi buy dengan entry di level 384, target price 434 dan stop loss di bawah 342.
IPOT menilai MINA menarik dicermati seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang tumbuh 10,5 persen secara tahunan pada Maret 2026 dan mencapai 3,44 juta wisatawan sepanjang kuartal I-2026. Peningkatan arus wisatawan terutama dari Malaysia, Australia dan China diperkirakan menjadi katalis positif bagi bisnis perseroan.
Rekomendasi berikutnya datang dari PT RMK Energy Tbk dengan kode saham RMKE yang bergerak di sektor logistik dan distribusi batu bara. IPOT merekomendasikan buy pada area entry 3300 dengan target price 3650 dan stop loss di bawah 3110.
RMKE dinilai menjadi salah satu emiten yang berpotensi diuntungkan dari implementasi Peraturan Gubernur Sumatera terkait kewajiban distribusi batu bara menggunakan jalur hauling khusus dan kereta api, bukan lagi jalan umum.
IPOT menilai regulasi tersebut memperkuat posisi RMKE karena perseroan telah memiliki ekosistem logistik batu bara terintegrasi mulai dari hauling road, stasiun muat kereta api hingga pelabuhan, sehingga berpotensi meningkatkan utilisasi volume dan memperkuat barrier to entry.
Selain saham individual, IPOT juga merekomendasikan Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia atau XIIC yang berfokus pada sektor consumer dan saham berbasis domestik. Produk ETF tersebut direkomendasikan buy pada level entry 806 dengan target price 854 dan stop loss di bawah 783.
Menurut IPOT, XIIC mulai menunjukkan indikasi technical base formation setelah bergerak sideways dalam beberapa pekan terakhir. Area tersebut dinilai cukup kuat menahan tekanan jual setelah koreksi tajam sejak Maret 2026.
Dari sisi momentum, indikator MACD juga mulai membentuk bullish divergence di mana garis MACD membentuk higher low secara bertahap sementara harga bergerak cenderung datar. (*)