Logo
>

Saham CDIA Meroket 110 Persen, Incar Tahta Infrastruktur Asia

Saham CDIA naik tiga hari berturut-turut sejak IPO pada 9 Juli 2025, dari Rp190 menjadi Rp400, dengan volume transaksi tembus 2,21 juta lot.

Ditulis oleh Syahrianto
Saham CDIA Meroket 110 Persen, Incar Tahta Infrastruktur Asia
Salah satu fasilitas yang dimiliki dan dikelola oleh Chandra Asri atau TPIA. (Foto: Dok. Chandra Asri)

KABARBURSA.COM – Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mencatat lonjakan signifikan sejak resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2025. 

Dalam tiga hari perdagangan perdananya, saham CDIA melonjak dari harga IPO Rp190 menjadi Rp400, atau naik 110,53 persen. Kenaikan ini menandai antusiasme luar biasa dari investor terhadap emiten pendatang baru di sektor infrastruktur ini.

Pada perdagangan Jumat, 11 Juli 2025 hingga sesi I, harga saham CDIA mencapai batas atas auto rejection atas (ARA) di Rp400. Saham dibuka langsung di level tersebut dan tidak bergerak sepanjang hari, menandakan permintaan masih sangat tinggi. Volume transaksi tercatat mencapai 2,21 juta lot dengan nilai transaksi Rp882,1 miliar.

Lonjakan ini bukan tanpa alasan. Dalam prospektus resminya, CDIA menjelaskan bahwa dana hasil IPO sebesar Rp2,37 triliun akan digunakan untuk ekspansi dua sektor utama: logistik dan kepelabuhanan. Alokasi dananya cukup agresif, yakni Rp871,76 miliar untuk sektor logistik, dan Rp1,48 triliun untuk proyek tangki penyimpanan dan jaringan pipa ethylene di kawasan industri strategis.

CDIA Bidik Jadi Pemain Kunci Infrastruktur

Presiden Direktur Chandra Daya Investasi, Fransiskus Ruly Aryawan, mengatakan pencatatan saham ini merupakan langkah besar bagi perusahaan dalam membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang. 

“Kami menyampaikan apresiasi atas kepercayaan investor yang mendukung kesuksesan proses IPO ini,” ujar Ruly dalam siaran pers resmi, Rabu, 9 Juli 2025.

Selain itu, ia menambahkan, pencatatan saham CDIA merupakan langkah strategis jangka panjang. “Pencatatan saham perdana hari ini menjadi momen penting bagi CDI Group dalam membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang,” imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa Asia Tenggara saat ini memasuki fase pertumbuhan industri yang menuntut infrastruktur andal dan efisien. 

“Kebutuhan akan layanan logistik, kepelabuhanan dan penyimpanan, jaringan energi serta pengelolaan air menjadi potensi yang besar dalam pengembangan Perseroan. CDI Group melihat peluang strategis untuk terus memperluas layanan dan memperkuat peran kami sebagai penyedia solusi infrastruktur yang relevan dan terintegrasi,” jelas Ruly

CDIA yang berada di bawah naungan PT Chandra Asri Pacific Tbk dan Phoenix Power B.V. ini memosisikan diri sebagai pemain infrastruktur terintegrasi di Asia Tenggara. Fokus bisnis utamanya mencakup penyediaan layanan logistik, pelabuhan dan penyimpanan, energi, serta pengelolaan air. 

Dari sisi operasional, perusahaan ini mengelola pembangkit listrik 320 MW, pabrik pengolahan air 4.045 liter per detik, lima dermaga, delapan kapal logistik, dan tangki penyimpanan berkapasitas total 648.000 meter kubik.

Saham CDIA Diminati Banyak Investor

Lonjakan harga saham CDIA juga didorong oleh permintaan investor yang sangat tinggi saat masa penawaran umum. Dalam dokumen IPO disebutkan bahwa terjadi kelebihan permintaan (oversubscription) hingga 563,64 kali dari total saham yang ditawarkan, dengan jumlah partisipasi mencapai 400.126 investor.

Dari sisi perdagangan, broker yang paling aktif membeli saham CDIA pada 10 Juli adalah Stockbit Sekuritas Digital (kode broker: XL) dan KB Valbury Sekuritas (kode: CP). Stockbit Sekuritas mencatat pembelian senilai Rp221,8 miliar atau setara 6.900 lot, sedangkan KB Valbury mencatatkan pembelian senilai Rp100,1 miliar dengan volume 3.100 lot. 

Sementara itu, broker yang paling banyak menjual adalah XC dan IF dengan nilai penjualan Rp131,6 miliar dan Rp53,5 miliar.

Kenaikan harga CDIA secara berturut-turut dalam tiga hari juga menggambarkan pola limit-up yang kuat. Pada 9 Juli, saham ditutup di Rp256 (+34,74 persen). Keesokan harinya, saham melonjak lagi ke Rp320 (+25 persen), dan pada 11 Juli, mencapai ARA di Rp400 (+25 persen). Kenaikan ini mengerek nilai pasar dan minat spekulatif di tengah euforia IPO sektor infrastruktur.

Meskipun masih dini menilai kinerja fundamental pasca-IPO, investor ritel tampak percaya diri dengan prospek sektor infrastruktur. Apalagi, Pemerintah Indonesia tengah menggenjot pembangunan pelabuhan, tangki penyimpanan, dan transportasi maritim sebagai bagian dari strategi transisi energi dan ketahanan logistik nasional.

Dalam pernyataannya, Ruly juga menegaskan bahwa keberhasilan IPO CDIA tidak lepas dari dukungan regulator. 

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, OJK, dan BEI atas dukungan dan arahan dalam memastikan kelancaran proses IPO,” kata Ruly menutup pernyataannya.

Secara kepemilikan, struktur pemegang saham CDIA terdiri dari Chandra Asri Pacific dengan porsi 60 persen, Phoenix Power sebesar 30 persen, dan publik sebanyak 10 persen atau sekitar 12,48 miliar saham. Dengan jumlah pemegang saham yang mencapai 399.133 orang per 9 Juli 2025, CDIA menjadi salah satu emiten IPO dengan basis investor ritel terluas tahun ini.

Saat ini CDIA tercatat di papan pengembangan BEI, dengan klasifikasi sektor utilitas. Saham ini juga masuk kategori perdagangan harian (day trade) dan trading limit karena volatilitas harga yang tinggi sejak debutnya.

CDIA menunjuk enam perusahaan sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek (underwriter), yakni Henan Putihrai Sekuritas, DBS Vickers Sekuritas, Trimegah Sekuritas, BNI Sekuritas, BCA Sekuritas, dan OCBC Sekuritas. Konsorsium underwriter ini dipercaya mengelola penawaran umum senilai Rp2,37 triliun, dengan harga penawaran Rp190 per saham.

Pencapaian CDIA bisa menjadi contoh bagi perusahaan infrastruktur lainnya yang tengah mempertimbangkan IPO sebagai langkah strategis ekspansi. Namun demikian, investor tetap perlu berhati-hati mengingat valuasi saham yang telah naik lebih dari dua kali lipat hanya dalam tiga hari perdagangan.

Dengan nilai transaksi harian yang terus tinggi dan permintaan masih kuat, para pelaku pasar kini menanti apakah saham CDIA akan terus mengalami ARA atau mulai mengalami konsolidasi. 

Keputusan manajemen dalam eksekusi proyek dan transparansi laporan keuangan akan menjadi sorotan dalam beberapa bulan ke depan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.