KABARBURSA.COM - Saham-saham Grup Bakrie kembali mencuri perhatian pelaku pasar pada awal 2026. Emiten-emiten seperti Bumi Resources Tbk (BUMI), Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan Darma Henwa Tbk (DEWA) mencatatkan lonjakan harga signifikan dalam tiga bulan terakhir, seiring meningkatnya minat investor terhadap saham-saham berbasis komoditas dan sentimen perbaikan fundamental.
Data perdagangan Selasa, 6 Januari 2026 menunjukkan saham BUMI berada di level 464. Dalam periode tiga bulan terakhir, harga saham BUMI melonjak 186,96 persen. Emiten yang bergerak di sektor minyak, gas, dan batu bara ini juga termasuk dalam kategori saham syariah dan aktif diperdagangkan untuk kebutuhan day trade, dengan rentang pergerakan teknikal berada di area 128 hingga 464.
Sementara itu, saham BRMS diperdagangkan di level 1.265 dan mencatatkan kenaikan 33,68 persen dalam tiga bulan terakhir. Emiten sektor barang baku ini juga masuk dalam daftar saham syariah dan menjadi salah satu saham yang ramai diperdagangkan secara harian. Secara teknikal, pergerakan BRMS berada dalam rentang 855 hingga 1.300, mencerminkan tren naik yang masih terjaga sejak akhir 2025.
Adapun saham DEWA tercatat berada di level 820 dengan lonjakan harga mencapai 144,05 persen dalam tiga bulan terakhir. Emiten jasa pertambangan batu bara ini kembali aktif diminati pelaku pasar, terutama trader jangka pendek, dengan rentang pergerakan harga dari area 296 hingga 820. Sama seperti BUMI dan BRMS, DEWA juga tergolong saham syariah dan memiliki likuiditas yang relatif tinggi.
Analis pasar modal dari Traderindo, Wahyu Tri Laksono, menilai kebangkitan saham Grup Bakrie tidak lepas dari masuknya investor strategis dan perbaikan struktur keuangan perusahaan, khususnya di BUMI dan BRMS.
“Kehadiran Grup Salim di BUMI dan BRMS memberikan stempel kepercayaan baru. Restrukturisasi utang yang sukses membuat fundamental mereka jauh lebih sehat dibanding 10 tahun lalu,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com pada Selasa, 6 Januari 2026.
Selain faktor kepemilikan, prospek bisnis emas menjadi katalis penting bagi BRMS. Emiten ini mulai dipersepsikan berbeda oleh pasar, seiring meningkatnya target produksi dan tren harga emas global yang masih berada di level tinggi.
“BRMS kini dipandang bukan lagi sekadar saham spekulasi, melainkan produsen emas yang serius dengan target produksi yang melonjak di 2026, bertepatan dengan harga emas dunia yang tinggi,” kata Wahyu.
Sentimen positif juga datang dari potensi dan realisasi inklusi saham-saham Grup Bakrie ke dalam indeks global. Masuknya saham ke indeks internasional dinilai mendorong pembelian oleh investor institusi asing dalam skala besar.
“Masuknya saham-saham ini ke indeks internasional seperti MSCI atau GDX memicu akumulasi besar-besaran oleh dana asing,” ujar Wahyu.
Dari sisi strategi, Wahyu menilai saham-saham Grup Bakrie sangat menarik bagi trader karena likuiditas tinggi dan volatilitas yang agresif.
Namun, ia mengingatkan investor jangka panjang untuk tetap berhati-hati mengingat rekam jejak volatilitas saham-saham Grup Bakrie yang ekstrem, meskipun fundamentalnya kini dinilai lebih baik dibandingkan satu dekade lalu.
“Bagi investor jangka panjang perlu hati-hati. Meskipun fundamental membaik, saham grup ini memiliki sejarah volatilitas yang sangat ekstrem,” ujar Wahyu.
Ia menyarankan agar porsi investasi di saham-saham tersebut tetap dibatasi dalam portofolio.
“Jika investor ingin masuk, pastikan porsinya tidak dominan di portofolio, maksimal 10 sampai 15 persen, dan gunakan uang dingin,” kata Wahyu.
Lonjakan harga yang tajam dan likuiditas yang meningkat, saham-saham Grup Bakrie menghadirkan peluang sekaligus risiko di awal 2026. Pelaku pasar diharapkan tetap disiplin dalam mengelola risiko dan menyesuaikan strategi investasi dengan profil masing-masing.(*)