KABARBURSA.COM – Sejumlah saham yang masuk dalam jajaran top gainers pada perdagangan kemarin, Jumat, 17 April 2026, justru mencatatkan tekanan jual dari investor asing.
Data perdagangan yang dihimpun Kabarbursa.com menunjukkan mayoritas saham dengan kenaikan harga signifikan mengalami net sell asing di tengah lonjakan harga.
Berdasarkan data pasar, saham PT City Retail Developments Tbk (NIRO) memimpin daftar penguatan dengan kenaikan 34,74 persen ke level 256.
Namun, di balik kenaikan tersebut, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar Rp749,87 juta.
Kondisi serupa terlihat pada saham PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) yang menguat 34,71 persen ke level 163.
Saham ini justru mencatatkan net sell asing sekitar Rp226,92 juta meski nilai transaksi mencapai Rp68,88 miliar dengan volume 4,44 juta lot.
Pada saham PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR), harga naik 25 persen ke level 280, namun diikuti penjualan bersih asing sekitar Rp10,92 juta.
Sementara itu, PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) yang naik 24,92 persen juga mencatatkan net sell asing meski dalam nominal relatif kecil.
Saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) menjadi pengecualian dengan kenaikan 24,61 persen ke level 2.380, disertai pembelian bersih asing sekitar Rp985,83 juta.
Nilai transaksi saham tersebut tercatat mencapai Rp18,73 miliar dengan volume 83,32 ribu lot.
Pada saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), harga naik 24,55 persen ke level 685, namun masih diiringi aksi jual asing meski dalam jumlah terbatas.
Kondisi serupa juga terjadi pada PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) yang menguat 24,44 persen, tetapi mencatatkan net sell asing sekitar Rp5,60 miliar.
Tekanan jual asing juga terlihat pada saham PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) yang naik 20,67 persen, dengan net sell asing mencapai Rp6,36 miliar.
Sementara itu, PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) yang menguat 20,21 persen mencatatkan net sell asing sekitar Rp325,06 juta.
Di sisi lain, PT Golden Flower Tbk (POLU) yang naik 19,97 persen menjadi salah satu saham dengan net buy asing sekitar Rp126,35 juta, meski aktivitas transaksi relatif terbatas.
Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa kenaikan harga pada sejumlah saham tidak selalu diikuti oleh akumulasi dana asing.
Pada beberapa saham, lonjakan harga justru terjadi bersamaan dengan aksi distribusi oleh investor asing.
Fenomena ini terlihat dari kombinasi kenaikan harga yang signifikan dengan posisi net sell asing dalam jumlah variatif.
Aktivitas perdagangan juga menunjukkan peningkatan volume dan frekuensi pada saham-saham tertentu selama periode tersebut.
Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar yang terjadi dalam jangka pendek, di mana kenaikan harga saham berlangsung bersamaan dengan perubahan arah arus dana investor asing pada sejumlah emiten.(*)