Logo
>

Selat Hormuz Jadi Titik Fokus Saat Harga Minyak Tertekan

Perkembangan diplomatik yang berhasil meredam kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Selat Hormuz Jadi Titik Fokus Saat Harga Minyak Tertekan
Ilustrasi minyak dunia. Foto: dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah dunia kembali tergelincir hampir 3 persen pada Kamis, di tengah gelombang gejolak pasar yang belum menemukan arah jelas. Pelemahan ini berakar dari kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran sepakat mengadakan pembicaraan di Oman pada Jumat, sebuah perkembangan diplomatik yang berhasil meredam kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Minyak mentah berjangka Brent, acuan global, ditutup turun USD1,91 atau 2,75 persen ke USD67,55 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, menyusut USD1,85 atau 2,84 persen ke USD63,29 per barel dalam perdagangan yang penuh gejolak. Seperti dikutip reuters di Jakarta, Jumat 6 Februari 2026.

Meski perundingan dirayakan sebagai penanda meredanya ketegangan, sejumlah analis tetap menyimpan skeptisisme soal hasil yang benar‑benar substantif. Phil Flynn dari Price Futures Group mengatakan bahwa meskipun pasar memberikan respons positif awal terhadap rencana perundingan, hasil akhir pembicaraan masih jauh dari kepastian.

Dialog itu sendiri muncul di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan, dan upaya negara‑negara regional mencegah pertikaian yang bisa meluas menjadi konflik besar. Ketegangan ini masih membayangi harga minyak yang sangat sensitif terhadap isu geopolitik.

Analis dari Aegis Hedging mencatat bahwa perbedaan ekspektasi soal ruang lingkup dan tujuan dialog justru mempertahankan ketidakpastian tinggi di pasar, sehingga memicu lonjakan volatilitas karena pelaku pasar terus menimbang peluang eskalasi konflik dibandingkan optimisme diplomasi.

Sekitar sepertiga konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, yang menjadi jalur strategis antara Oman dan Iran. Negara‑negara OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengandalkan rute ini untuk ekspor minyaknya, menjadikannya titik sentral yang rawan terhadap gangguan pasokan.

Dinamika pasar yang tidak menentu semakin memaksa investor untuk mengunci harga minyak lebih awal pada tahun ini. Volume kontrak WTI Midland di Houston mencatat rekor pada Januari, didorong oleh kekhawatiran risiko pasokan dari Timur Tengah serta meningkatnya ekspor minyak Venezuela ke Gulf Coast AS.

Faktor eksternal lain turut memperberat sentimen komoditas. Penguatan dolar AS dan gejolak di pasar logam mulia memberikan tekanan tambahan, memperlemah harga minyak dan aset berisiko lainnya dalam perdagangan Kamis.

Di sisi pasokan global, diskon harga minyak Rusia untuk ekspor ke China melebar ke level tertinggi, setelah penjual memangkas harga untuk menarik permintaan dari importir terbesar dunia tersebut, sambil mengimbangi potensi kehilangan pangsa pasar India.

Pekan ini juga menyaksikan langkah strategis lain di panggung global: Amerika Serikat dan India mengumumkan kesepakatan dagang yang mendorong New Delhi menghentikan pembelian minyak mentah Rusia, yang turut menambah lapisan kompleksitas dalam persaingan pasokan minyak dunia.

Tak kalah menarik, Argentina diperkirakan mencatat surplus perdagangan energi yang lebih tinggi pada 2026, melampaui rekor tahun sebelumnya. Lonjakan ini disokong oleh kenaikan produksi minyak dari formasi shale Vaca Muerta, dengan potensi surplus mencapai kisaran USD8,5 miliar hingga USD10 miliar menurut analis yang diwawancarai.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.