KABARBURSA.COM - Menyambut pekan perdagangan 7 hingga 11 Juli 2025, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan bergerak dalam pola bervariasi dengan kecenderungan menguat.
Tim analis memprediksi, penguatan HISG didorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang perlu dicermati pelaku pasar secara cermat. Equity Analyst IPOT, Imam Gunadi mengatakan, pekan ini akan menjadi salah satu pekan terpenting untuk menentukan arah pasar ke depan.
"Banyak data dan momentum ekonomi yang bisa menjadi penentu psikologis pelaku pasar, terutama yang menyangkut daya beli dan arah inflasi," ujar Imam dalam keterangan resmi kepada KabarBursa.com, Senin, 7 Juli 2025.
Dari eksternal, sorotan utama datang dari data inflasi China atau China Consumer Price Index (CPI) yang akan dirilis pekan ini. Menurut Imam, inflasi China merupakan indikator penting karena mencerminkan prospek permintaan dari mitra dagang terbesar Indonesia.
Meredanya ketegangan dagang antara AS dan China berpotensi memulihkan daya beli di negeri Tirai Bambu, sehingga mendorong inflasi keluar dari zona deflasi yang selama ini membayangi.
"Dengan pulihnya inflasi, berarti konsumsi domestik di China ikut membaik. Ini sangat penting bagi Indonesia yang sangat bergantung pada ekspor komoditas dan barang setengah jadi ke China," jelas Imam.
Sementara itu, dari dalam negeri, terdapat tiga sentimen penting yang harus diperhatikan. Pertama, data Indonesia Consumer Confidence atau Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang merupakan indikator utama untuk memantau potensi belanja rumah tangga.
Belanja rumah tangga menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto Indonesia, sehingga arah indeks ini sangat menentukan. Proyeksi IPOT memperkirakan indeks tetap berada di zona optimis pada level 123, menunjukkan bahwa masyarakat masih cukup percaya diri terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Kedua, data Indonesia Retail Sales yang menjadi barometer kekuatan konsumsi masyarakat. Kenaikan penjualan ritel biasanya mengindikasikan kondisi pendapatan masyarakat yang membaik serta inflasi yang masih dalam kendali.
Sebaliknya, penurunan bisa menandakan pelemahan daya beli atau kekhawatiran terhadap ekonomi masa depan. Data ini juga menjadi pertimbangan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter, apakah akan mempertahankan suku bunga atau justru melonggarkan kebijakan.
Ketiga, data penjualan kendaraan bermotor, baik mobil maupun sepeda motor. Imam menyebut data ini merefleksikan keyakinan jangka panjang masyarakat terhadap pendapatan dan kondisi ekonomi.
"Penjualan kendaraan adalah keputusan ekonomi besar. Ketika masyarakat yakin terhadap stabilitas penghasilan, mereka akan berani mengambil cicilan jangka panjang seperti mobil dan motor," ujarnya.
Saham Rekomendasi IPOT
Meskipun pasar masih menghadapi ketidakpastian dari arah kebijakan suku bunga global dan fluktuasi harga komoditas, Imam menilai masih banyak peluang menarik yang bisa dimanfaatkan oleh investor dengan strategi yang tepat. IPOT merekomendasikan beberapa saham pilihan dan instrumen pendapatan tetap yang sesuai dengan kondisi pasar saat ini.
Untuk sektor komoditas, IPOT menyarankan mencermati saham PT Vale Indonesia Tbk dengan kode emiten INCO yang bergerak di sektor pertambangan nikel. Saham ini direkomendasikan beli pada level 3560 dengan target harga 3750 dan batas risiko jika turun di bawah 3470.
Permintaan nikel global diprediksi terus meningkat seiring percepatan adopsi kendaraan listrik yang menggunakan nikel sebagai bahan utama baterai lithium-ion.
Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia memberikan posisi strategis bagi INCO, yang memiliki cadangan melimpah dan rekam jejak produksi yang kuat. Selain itu, dukungan pemerintah terhadap hilirisasi mineral dan peningkatan nilai tambah turut menjadi katalis positif bagi prospek jangka panjang perusahaan.
Di sektor energi, IPOT merekomendasikan saham PT TBS Energi Utama Tbk dengan kode emiten TOBA. Saham ini direkomendasikan beli jika berhasil breakout di atas level 825 dengan target harga 875 dan cut loss jika turun di bawah 800.
TOBA dinilai menarik karena tengah melakukan diversifikasi dari bisnis batu bara menuju energi baru dan terbarukan, sesuai dengan tren transisi energi global yang semakin mendapatkan perhatian investor. Di tengah volatilitas harga batu bara, strategi TOBA untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil mendapat sentimen positif.
Untuk sektor infrastruktur digital, IPOT merekomendasikan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk dengan kode emiten WIFI. Saham ini layak dibeli jika menembus level 2020 dengan target kenaikan ke 2120 dan batas risiko di bawah 1965. WIFI berada di tengah peluang besar dari program digitalisasi nasional, terutama untuk wilayah non-perkotaan.
Proyek pemerintah dalam perluasan jaringan BTS 4G dan pembangunan infrastruktur fiber optik nasional menciptakan potensi ekspansi bisnis yang masif bagi pemain seperti WIFI yang fokus pada layanan digital terpadu.
Selain saham, IPOT juga memberikan perhatian pada instrumen obligasi. Imam menilai bahwa data tenaga kerja Amerika Serikat yang kuat baru-baru ini, seperti penurunan tingkat pengangguran dan kenaikan Non-Farm Payrolls, telah menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam jangka pendek.
Hal ini bisa menyebabkan pasar obligasi global menjadi volatil. Oleh karena itu, IPOT menyarankan investor untuk fokus pada obligasi dengan tenor pendek dan obligasi korporasi yang relatif stabil.
Salah satu yang direkomendasikan adalah seri obligasi pemerintah Indonesia FR0101 dengan kupon sebesar 6,875 persen dan yield 6,20 persen. Obligasi ini jatuh tempo pada 15 April 2029 dan tersedia di platform IPOT Bond. Instrumen ini dinilai cocok untuk strategi defensif di tengah ketidakpastian pasar surat utang global, namun tetap memberikan imbal hasil menarik dan likuiditas yang baik.
Dengan strategi selektif dan fokus pada sektor-sektor potensial seperti komoditas, energi bersih, dan digitalisasi, IPOT melihat peluang yang masih terbuka lebar di tengah ketidakpastian global. Para investor disarankan untuk terus mengikuti perkembangan data ekonomi pekan ini agar dapat mengambil keputusan investasi secara rasional dan terukur. (*)