Logo
>

Sentimen Timur Tengah Picu Tekanan di Bursa dan Mata Uang Asia

Kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran inflasi global sekaligus mendorong arus dana menuju aset yang dianggap lebih aman

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Sentimen Timur Tengah Picu Tekanan di Bursa dan Mata Uang Asia
Ilustrasi Mata Uang Garuda. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Pergerakan indeks saham dan mata uang di sebagian besar pasar emerging market Asia cenderung melemah menjelang penutupan perdagangan, kemarin. Lonjakan harga minyak global memicu meningkatnya sikap risk-off di kalangan pelaku pasar, sehingga reli yang sempat berlangsung selama dua hari sebelumnya terhenti.

Meski demikian, beberapa bursa regional berhasil memangkas tekanan kerugian setelah investor mulai mencermati berbagai sinyal kebijakan serta mengkaji dampak lanjutan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Di pasar valuta, mata uang kawasan tetap berada di bawah bayang-bayang penguatan dolar Amerika Serikat. Kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran inflasi global sekaligus mendorong arus dana menuju aset yang dianggap lebih aman atau safe haven.

Laporan Reuters menyebutkan, hingga mendekati pukul 15.00 WIB, peso Filipina melemah sekitar 0,5 persen dan menjadi mata uang dengan penurunan terdalam di antara negara berkembang Asia. Ringgit Malaysia terkoreksi 0,4 persen, meskipun sepanjang tahun ini masih tercatat sebagai mata uang dengan kinerja paling solid di kawasan.

Rupee India juga tertekan sekitar 0,3 persen dan kembali mendekati titik terendahnya. Spekulasi adanya potensi intervensi bank sentral membantu menahan pelemahan lebih lanjut setelah mata uang tersebut sempat menyentuh rekor terendah baru pada awal sesi perdagangan.

Di sisi lain, rupiah Indonesia terkoreksi sekitar 0,2 persen. Won Korea Selatan melemah 0,3 persen, sementara dolar Singapura turun tipis 0,1 persen dan dolar Taiwan merosot 0,4 persen. Baht Thailand menjadi pengecualian dengan penguatan marginal sekitar 0,1 persen.

Harga minyak dunia sendiri melonjak hingga sekitar 9 persen dan kembali menembus level psikologis USD100 per barel. Lonjakan ini dipicu laporan mengenai serangan lanjutan terhadap sejumlah kapal di perairan Teluk.

Kenaikan tajam tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa biaya energi yang semakin mahal dapat mempercepat laju inflasi global. Kondisi itu berpotensi membuat bank sentral utama dunia tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Di tengah situasi tersebut, Badan Energi Internasional disebut tengah menyiapkan langkah pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar, mencapai sekitar 400 juta barel, untuk meredam gejolak pasar.

Perhatian pelaku pasar saat ini juga tertuju pada keamanan Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan bahan bakar dunia. Ketidakpastian mengenai kapan jalur tersebut kembali aman dilalui kapal menjadi salah satu sumber kegelisahan utama di pasar global.

Ketegangan kawasan juga semakin terasa setelah para menteri luar negeri negara-negara ASEAN menyerukan pertemuan khusus guna membahas krisis yang berkembang di Timur Tengah.

Di pasar saham, sejumlah indeks berhasil memangkas kerugian awal. Indeks teknologi Korea Selatan, KOSPI, misalnya, mengurangi penurunannya menjadi sekitar 0,5 persen setelah Presiden Lee Jae Myung meminta agar pemerintah segera menyiapkan anggaran tambahan.

Sebaliknya, saham Taiwan menjadi yang paling tertekan di kawasan dengan penurunan mencapai 1,6 persen.

Low Pei Han, Kepala Strategi Ekuitas di Bank of Singapore, mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya tetap memiliki pandangan optimistis terhadap saham Asia di luar Jepang dalam perspektif jangka panjang. Optimisme tersebut didukung oleh sejumlah faktor pertumbuhan struktural yang dinilai masih kuat.

Namun demikian, Bank of Singapore untuk sementara mengambil sikap netral terhadap kawasan Asia. Hal ini terutama disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menambah ketidakpastian pasar.

Menurutnya, gangguan terhadap jalur energi di Selat Hormuz berpotensi menjadi risiko pasar terbesar saat ini. Dampaknya tidak hanya pada kenaikan harga energi, tetapi juga pada biaya logistik dan pengiriman global.

Kenaikan harga energi memang dapat memberikan keuntungan bagi sektor energi dan material. Namun di sisi lain, industri yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya input berpotensi mengalami tekanan.

Di pasar domestik Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil memperpanjang penguatan hingga sekitar 0,4 persen. Kenaikan tersebut terjadi setelah parlemen menyetujui penunjukan lima pejabat senior di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sementara itu, indeks saham SET Thailand juga berhasil berbalik arah dari pelemahan awal dan ditutup naik sekitar 0,3 persen.

Sebaliknya, sejumlah indeks lain di kawasan masih berada di zona merah. Indeks STI Singapura, PSEI Filipina, KLCE Malaysia, NSEI India, serta SSEC Shanghai tercatat turun di kisaran 0,1 persen hingga 0,7 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.