KABARBURSA.COM – Serangan militer Amerika Serikat ke target Iran di Pulau Kharg pada Selasa, 7 April 2026 serta ancaman lanjutan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu lonjakan harga minyak dunia.
Sejumlah analis menilai, kenaikan harga minyak dunia tidak hanya dipicu ancaman AS terhadap Iran, tapi juga gangguan serius pada jalur distribusi energi global yang kian memburuk.
Berdasarkan data yang dihimpun KabarBursa.com, harga minyak tercatat masih bergerak tinggi. Per 7 April 2026 sore waktu New York, minyak Brent berada di level USD110,03 per barel.
Sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh USD114,25 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah lonjakan signifikan sejak akhir Februari, ketika Brent masih berada di kisaran USD70 per barel sebelum konflik memanas .
Namun, lonjakan paling tajam justru terjadi di pasar fisik. Reuters melaporkan pada 7 April 2026 bahwa sejumlah minyak untuk pengiriman cepat diperdagangkan mendekati USD150 per barel. Harga ini jauh di atas harga futures dan mencerminkan perebutan pasokan yang siap kirim di tengah gangguan distribusi global .
Sekadar informasi, gangguan tersebut berpusat di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Penutupan dan pembatasan akses di jalur ini telah menghambat pergerakan tanker dan memicu perubahan besar dalam rantai pasok energi dunia .
Reuters melaporkan, penyerangan ke Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor utama Iran turut memperbesar risiko. Serangan militer AS pada 7 April 2026 memang tidak menyasar langsung infrastruktur minyak, tetapi tetap meningkatkan ketidakpastian terhadap stabilitas distribusi energi global .
Dampak paling nyata terlihat pada sektor logistik energi. Reuters melaporkan pada awal April 2026 bahwa tarif pengiriman tanker melonjak tajam, dengan pendapatan kapal jenis Suezmax dan Aframax menembus lebih dari USD300.000 per hari, jauh di atas rata-rata sebelumnya sekitar USD60.000.
“Lonjakan tarif pengiriman ini belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kapal Suezmax dan Aframax menghasilkan lebih dari USD300.000, dibandingkan rata-rata sekitar USD60.000 dalam lima bulan terakhir,” kata CEO Okeanis ECO Tankers, Aristidis Alafouzos, dilansir dari Reuters, 7 April 2026.
Selain itu, premi asuransi perang juga meningkat drastis. Reuters mencatat, biaya asuransi maritim melonjak signifikan dan bersifat sangat dinamis, seiring meningkatnya risiko di jalur pelayaran energi global.
“Meskipun perlindungan asuransi perang masih tersedia, tarif yang dikenakan sangat bervariasi, meningkat tajam, dan terus berubah,” kata Gaurav Agarwal, Head of Marine Specialties Prudent Insurance Brokers.
Di pasar, tekanan terbesar terlihat pada pasokan jangka pendek. Reuters pada 7 April 2026 mengutip analis Gelber & Associates yang menyebut, perbedaan harga jangka pendek terus melebar. Artinya, tekanan paling besar terjadi di pasar pengiriman cepat, ketika kilang berebut pasokan yang tersedia segera.
Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa krisis saat ini tidak hanya dipicu sentimen, tetapi sudah menyentuh aspek fisik distribusi energi.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol bahkan menyebut situasi ini sebagai gangguan besar dalam sejarah energi.
“Dunia belum pernah mengalami gangguan pasokan energi sebesar ini,” ujar Fatih Birol, dikutip Reuters, 7 April 2026.
Sementara itu, Ekonom dan Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan harga minyak saat ini juga dipicu oleh gangguan distribusi yang semakin nyata di lapangan.
“Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa, 7 April 2026.
Ia menambahkan, kondisi ini membuat pasar tidak hanya bereaksi terhadap konflik, tetapi juga mulai memasukkan risiko distribusi dan logistik ke dalam pembentukan harga minyak global.(*)