KABARBURSA.COM - Sebuah survei mendalam telah mengungkapkan bahwa sebagian besar generasi muda Korea Selatan semakin menghindari konsep pernikahan, menciptakan wacana baru tentang masa depan hubungan dan keturunan di negara itu.
Dari survei tersebut, sekitar 24,5persen responden menegaskan bahwa pernikahan bukanlah prioritas bagi mereka. Sementara 19,1persen lainnya menyatakan masih merenungkan pilihan tersebut.
Namun, survei ini juga membedah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam pandangan mereka terhadap pernikahan. Lebih banyak laki-laki (56,3persen) yang menyatakan kesiapan mereka untuk menikah dibandingkan perempuan (47,2persen). Tidak heran, keinginan menikah mencapai puncaknya pada usia 20-an dan 30-an, dengan 58,7persen responden usia 30-34 tahun menginginkan pernikahan, namun menurun pada kelompok usia di atas 35 tahun.
Terkait dengan memiliki anak, 46persen responden mengungkapkan ketidakinginan mereka untuk mempunyai keturunan, sementara hanya 28,3persen yang bersedia. Di antara responden yang sudah menikah, 46,5persen mempertimbangkan untuk memiliki anak, sementara 24,7persen memilih untuk tidak.
Bahkan, bagi yang sudah memiliki anak, 76,1persen menyatakan mereka tidak berencana untuk menambah jumlah anak. Ini menggambarkan pergeseran paradigma yang signifikan dalam pandangan masyarakat terhadap keluarga dan keturunan.
Survei juga menyoroti bahwa hampir 93,9persen responden menganggap penurunan angka kelahiran sebagai masalah sosial. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam menyatukan pekerjaan dan peran sebagai orang tua.
Menurut laporan dari Korean Women's Development Institute (KWDI), wanita Korea Selatan menanggung beban pengasuhan yang besar, bahkan di rumah tangga dengan dua pendapatan. Mereka menghabiskan lebih dari 11 jam per hari untuk merawat anak-anak, melebihi sumbangan waktu dari lembaga penitipan anak, ayah, dan kakek nenek.
KWDI menegaskan perlunya lingkungan kerja yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan pengasuhan anak, serta pelayanan publik yang dapat diandalkan untuk mengurangi beban pengasuhan yang menumpuk pada ibu.