KABARBURSA.COM - Indonesia diproyeksikan akan menjadi negara maju pada tahun 2045, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita diperkirakan mencapai lebih dari USD30.000 dan menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia. Namun, mencapai tujuan ambisius ini tidaklah mudah, karena berbagai tantangan signifikan harus dihadapi.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengungkapkan bahwa meskipun prediksi ini menunjukkan masa depan yang cerah, tantangan yang dihadapi Indonesia cukup kompleks.
"Menjadi negara maju adalah tugas besar yang memerlukan upaya maksimal dari generasi penerus untuk memanfaatkan peluang yang ada dan mengubah tantangan menjadi kesempatan," jelas Jerry dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 29 Juli 2024.
Di antara tantangan yang dihadapi adalah pergeseran status ekonomi berbagai negara berkembang, perubahan demografi global, serta gangguan dalam logistik, distribusi, dan rantai pasok. Selain itu, perkembangan geopolitik seperti friendshoring dan decoupling juga akan mempengaruhi kondisi ekonomi Indonesia. Isu-isu lain yang perlu diperhatikan termasuk peningkatan kontribusi perdagangan digital, kenaikan harga pangan dan energi, serta penerapan ekonomi hijau dan perdagangan berkelanjutan.
Jerry melanjutkan bahwa pada triwulan I 2024, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen year on year (yoy), angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, Jepang, dan Uni Eropa. Inflasi Indonesia juga terjaga dengan baik, dengan inflasi tahunan pada Juni 2024 tercatat sebesar 2,51 persen YoY, di bawah target pemerintah yang sebesar 3 persen.
Kinerja perdagangan Indonesia juga terjaga meskipun ada penurunan ekspor, dan Indonesia terus mengalami surplus neraca perdagangan secara berkelanjutan.
"Tidak banyak negara yang mampu mempertahankan surplus neraca perdagangan secara konsisten seperti Indonesia," ujar Jerry.
Jerry juga menyoroti pentingnya pengembangan keahlian digital untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan akan menyumbang 23 persen dari total PDB pada tahun 2030. Nilai transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE/e-commerce) pada 2023 mencapai Rp453,75 triliun dan diperkirakan akan tumbuh 2,8 persen menjadi Rp487 triliun pada 2024. Selain itu, jasa transportasi daring dan media daring juga mengalami perkembangan yang pesat.
Namun, tantangan tidak hanya datang dari sektor ekonomi. Generasi Z (Gen Z), yang saat ini banyak berada dalam kategori pengangguran, dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat menghambat pencapaian Indonesia Emas 2045.
Pakar ketenagakerjaan dari Universitas Airlangga, Hadi Subhan, menyatakan bahwa pengangguran di kalangan Gen Z dapat mempengaruhi rencana tersebut, terutama terkait dengan kualitas sumber daya manusia (SDM).
"Salah satu faktor penting adalah SDM, dan masalah ini sangat kompleks," ujar Hadi kepada Kabar Bursa.
Fenomena pengangguran Gen Z merupakan tantangan yang sulit dihadapi pemerintah, terutama karena mereka merupakan kelompok yang tidak mudah diatur.
Sebagai solusi, pemerintah telah memperkenalkan kebijakan Merdeka Belajar yang bertujuan untuk menekan angka pengangguran dengan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja.
"Langkah ini sudah dimulai, tetapi perlu dipercepat. Penyesuaian kurikulum dalam kebijakan Merdeka Belajar sebenarnya untuk mencocokkan kompetensi dengan kebutuhan di lapangan," kata Hadi.
Namun, Hadi menilai bahwa pelaksanaan kebijakan tersebut masih perlu perbaikan, terutama dalam hal implementasi program pelatihan prakerja. Menurutnya, kartu prakerja sering kali diberikan kepada mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), sementara seharusnya difokuskan pada lulusan baru atau fresh graduate.
"Kartu prakerja harusnya lebih difokuskan pada mereka yang baru lulus dan membutuhkan pelatihan untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja," jelas Hadi.
Di sisi lain, Tantan Hermansah, sosiolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, memberikan pandangannya tentang definisi Indonesia Emas. Ia menegaskan bahwa tujuan tersebut akan tercapai jika seluruh masyarakat hidup makmur dan sejahtera, dengan akses yang lebih baik terhadap sumber daya material, secara terbuka dan transparan.
"Indonesia Emas bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan, tetapi tentang kesejahteraan semua orang dengan akses yang baik terhadap sumber daya dan peluang," jelas Tantan.
Ia juga menekankan bahwa penghasilan tidak selalu berasal dari pekerjaan konvensional, dan pemerintah perlu memahami bahwa Gen Z yang dianggap menganggur mungkin memiliki penghasilan dari sumber lain yang tidak terdaftar.
Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, pencapaian Indonesia Emas 2045 memerlukan upaya koordinasi dan kebijakan yang tepat dari semua pihak untuk memastikan bahwa Indonesia dapat meraih status negara maju pada tahun 2045. (*)