Logo
>

Tatang Nurhidayat Gencar Serok Saham TUGU, Tanda Besar Jelang Spin Off?

Ditulis oleh Ayyubi Kholid
Tatang Nurhidayat Gencar Serok Saham TUGU, Tanda Besar Jelang Spin Off?

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) atau Tugu Insurance mengumumkan perubahan signifikan dalam kepemilikan sahamnya yang melibatkan Presiden Direktur Tatang Nurhidayat.

    Dalam laporan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada publik, TUGU mengungkapkan rincian transaksi pembelian saham gencar yang dilakukan oleh Tatang pada Desember 2024 hingga Januari 2025.

    Menurut keterangan dari Corporate Secretary TUGU, Edi Yoga Prasetyo, perubahan ini terjadi melalui pembelian saham yang dilakukan oleh Tatang, yang memiliki posisi sebagai direksi dengan status pengendali non-pengendali.

    Ia merinci, pada 10 Desember 2024, Tatang membeli 2.500 lembar saham TUGU dengan harga transaksi Rp1.050 per lembar, yang kemudian dilanjutkan dengan pembelian 2.500 saham lagi pada 16 Desember 2024 dengan harga Rp1.045 per lembar.

    "Pada 23 Desember 2024, total saham yang dimiliki Tatang mencapai 1.156.500 lembar, setara dengan 0,0325 persen dari total saham yang beredar," ujarnya melalui keterangan tertulis dikutip Kamis, 23 Januari 2025.

    Pembelian saham ini berlanjut pada Januari 2025, dengan transaksi terakhir yang tercatat pada 21 Januari 2025. Tatang menambah 2.500 lembar saham lagi dengan harga Rp1.005 per lembar. Hingga saat ini, jumlah saham yang dimiliki Tatang mencapai 1.256.500 lembar atau setara dengan 0,0353 persen dari total saham yang beredar.

    "Tujuan dari transaksi ini adalah untuk investasi," jelas Edi Yoga Prasetyo.

    TUGU Siapkan Spin Off Unit Syariah

    Selain perubahan kepemilikan saham, TUGU juga tengah mempersiapkan langkah strategis besar, yaitu memisahkan unit usaha syariahnya melalui proses spin off.

    Presiden Direktur TUGU tersebut mengungkapkan bahwa rencana spin off ini akan diajukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada April 2025, dengan target spin off selesai pada Juli 2025 setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    "Diharapkan pada semester kedua tahun ini sudah bisa di-launching," ujar Tatang dalam wawancara di Jakarta Pusat, Kamis, 23 Januari 2025. Sebagai bagian dari persiapan, TUGU telah memperkuat sistem, infrastruktur, dan sumber daya manusia, serta melakukan konsultasi intensif dengan OJK, terutama terkait aspek teknis seperti aktuaris.

    Tatang mengungkapkan bahwa meskipun spin off ini mendapat sorotan karena waktu yang terbatas, keputusan tersebut seharusnya sudah dilakukan pada tahun lalu. Ada banyak proyeksi yang harus disesuaikan untuk tahun 2026 dan 2028.

    Pada 2026, TUGU menyiapkan modal sebesar Rp250 miliar, dan pada 2028, ada dua opsi: memenuhi modal Rp500 miliar atau bergabung menjadi anggota Kelompok Usaha Perasuransian (KUPA) dari perusahaan induk.

    Menurut Tatang, pemisahan unit usaha syariah merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi dan kinerja perusahaan dalam industri keuangan syariah. "Setelah spin off, kami berencana mengembangkan segmen bisnis syariah ke pasar ritel, dengan fokus yang lebih kuat tanpa terlalu banyak bersaing di segmen korporasi yang sudah didominasi oleh perusahaan induk," lanjutnya.

    Selain itu, Tatang juga membuka kemungkinan untuk menjalin kemitraan strategis setelah spin off, meskipun bukan untuk keperluan permodalan. Ia pun menyebutkan bahwa sebelumnya, opsi akuisisi sempat dipertimbangkan, namun prosesnya terbilang sulit mengingat pilihan di industri tersebut sangat terbatas.

    Dengan langkah-langkah yang diambil TUGU ini, pengamat pasar memproyeksikan bahwa spin off unit usaha syariah akan membawa dampak positif bagi perusahaan, membuka peluang ekspansi bisnis yang lebih luas, serta memperkuat daya saing TUGU di sektor keuangan syariah Indonesia.

    TUGU Laporkan Keuangan Positif

    TUGU melaporkan kinerja keuangan yang positif untuk periode yang berakhir pada September 2024. Beberapa indikator penting, seperti premi bruto dan pendapatan, mengalami kenaikan signifikan yang mencerminkan pertumbuhan yang solid di sektor asuransi.

    Premi bruto TUGU tercatat mengalami kenaikan sebesar 26 persen year on year (yoy) dari Rp5,4 triliun pada September 2023 menjadi Rp6,8 triliun di September 2024. Peningkatan ini didorong oleh kontribusi terbesar dari lini bisnis fire and property, engineering, dan marine hull. Sejalan dengan itu, pendapatan premi neto juga mengalami kenaikan sebesar 7 persen yoy, dari Rp2.388 miliar menjadi Rp2.810 miliar.

    Pendapatan total perusahaan turut meningkat 23 persen yoy, dari Rp1.298 miliar pada September 2023 menjadi Rp1.592 miliar pada periode yang sama di 2024. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan hasil underwriting dan pendapatan operasional lainnya.

    Namun, TUGU juga mencatatkan penurunan laba tahun berjalan sebesar 48 persen pada periode yang sama, dengan angka yang tercatat hanya Rp269 miliar, turun dibandingkan Rp592 miliar di September 2023. Penurunan ini disebabkan oleh pencatatan pendapatan lain-lain sebesar Rp1,1 triliun yang berasal dari penyelesaian kasus litigasi dengan Citibank pada tahun 2023. Setelah memperhitungkan pajak dan beban lainnya, laba yang tercatat pasca-penyelesaian menjadi Rp868 miliar.

    Meskipun ada penurunan laba, perusahaan mencatatkan pertumbuhan core profit yang luar biasa, dengan kenaikan 120 persen yoy jika hasil satu kali (one-off gain) dari kasus Citibank tidak diperhitungkan.

    Total aset perusahaan pada September 2024 tercatat meningkat sebesar 10 persen year to date (ytd), mencapai Rp27,6 triliun dibandingkan Rp25,1 triliun pada Desember 2023. Ekuitas perusahaan pun mengalami kenaikan 2 persen, mencapai Rp10,5 triliun. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Ayyubi Kholid

    Bergabung di Kabar Bursa sejak 2024, sering menulis pemberitaan mengenai isu-isu ekonomi.