Logo
>

Teknikal IHSG Pekan ini Bisa Sentuh 6.500-an, Analis Ungkap Alasannya

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memperkirakan IHSG masih berada dalam fase bearish.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Teknikal IHSG Pekan ini Bisa Sentuh 6.500-an, Analis Ungkap Alasannya
Pergerakan IHSG dibayangi tekanan rebalancing MSCI dan arus keluar dana asing dari pasar saham domestik. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan pekan ini, 18-22 Mei 2026, seiring tingginya volatilitas pasar akibat implementasi rebalancing Morgan Stanley Capital International atau MSCI dan derasnya arus keluar dana asing dari pasar domestik.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memperkirakan IHSG masih berada dalam fase bearish dengan rentang support di area 6.640 hingga 6.538, sementara level 6.723 menjadi area penting yang perlu dijaga pasar dalam jangka pendek.

“Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” ujar Imam Gunadi dalam risetnya yang diterima KabarBursa.com pada Senin, 18 Mei 2026.

Menurut dia, tekanan terhadap IHSG pada pekan lalu menjadi salah satu fase paling menantang bagi pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Koreksi indeks tidak lagi sekadar dipengaruhi faktor valuasi maupun kinerja emiten, tetapi lebih dipicu reposisi portofolio investor global menjelang effective date rebalancing MSCI pada akhir Mei 2026.

Investor asing, kata Imam, mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sehingga menciptakan gelombang passive outflow yang cukup agresif di pasar saham domestik. Kondisi tersebut membuat IHSG ditutup melemah tajam ke level 6.723.

Tekanan eksternal juga memperburuk kondisi pasar. Inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali mundur. Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun.

“Situasi ini membuat Dollar AS terus menguat dan menekan mata uang emerging markets, termasuk Rupiah yang sempat menyentuh level terlemah baru di Rp17.600 per dolar AS,” katanya.

Selain sentimen suku bunga global, konflik geopolitik di Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi energi akibat krisis Selat Hormuz turut mendorong harga minyak dunia melonjak di atas USD105 per barel.

“Kombinasi dolar yang kuat, harga minyak tinggi, dan arus keluar asing akhirnya menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar domestik,” tutur Imam.

Meski tekanan pasar terjadi hampir di seluruh sektor, IPOT melihat adanya rotasi sektoral yang cukup menarik selama koreksi berlangsung. Sektor energi menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat keluarnya sejumlah saham besar dari MSCI, terutama DSSA dan BREN yang diperkirakan menghadapi passive outflow bernilai triliunan rupiah.

Namun pelemahan sektor energi dinilai lebih dipengaruhi faktor teknikal dibandingkan penurunan fundamental komoditasnya. Di sisi lain, sektor transportasi justru tampil lebih kuat setelah saham ELPI melonjak signifikan usai aksi divestasi anak usaha kepada grup Prajogo Pangestu.

“Pergerakan ini menunjukkan bahwa di tengah market-wide correction, pasar masih memberikan premium valuation terhadap emiten yang memiliki corporate action dan katalis spesifik yang jelas,” jelasnya.

Dari sisi komoditas, dinamika geopolitik masih menjadi motor utama pergerakan harga global. Harga minyak terus menguat akibat kekhawatiran undersupply global, sementara harga batu bara tetap solid karena pergeseran konsumsi energi Asia dari LNG menuju batu bara di tengah konflik berkepanjangan.

Kondisi tersebut dinilai masih memberikan tailwind bagi emiten batu bara domestik. Sementara itu, harga emas mulai mengalami profit taking setelah pasar melihat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.

Untuk komoditas nikel, koreksi harga lebih dipengaruhi aksi profit taking dan tingginya inventori global dibanding perubahan fundamental jangka panjang.

Di dalam negeri, keputusan pemerintah menunda kenaikan royalti minerba dinilai menjadi sentimen positif bagi emiten tambang dan operator smelter karena mampu menjaga margin profitabilitas di tengah volatilitas global.

Aliran dana asing selama pekan lalu juga menunjukkan investor global belum sepenuhnya meninggalkan Indonesia. Foreign sell sebesar Rp3,21 triliun lebih banyak terkonsentrasi pada saham-saham yang terdampak penghapusan MSCI dan sektor perbankan besar.

Sebaliknya, saham defensif dengan valuasi menarik dan arus kas stabil seperti ADRO, TLKM, dan INKP masih mencatatkan inflow asing.

IPOT menilai kondisi tersebut menunjukkan strategi flight to quality mulai mendominasi perilaku investor asing di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan volatilitas pasar domestik.

Untuk pekan ini, fokus utama pasar diperkirakan masih tertuju pada implementasi rebalancing MSCI menjelang effective date pada 29 Mei 2026. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.

Meski demikian, pasar juga mulai melihat peluang rotasi inflow menuju saham-saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks MSCI seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, hingga MTEL dan TOWR.

Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi kenaikan status Korea Selatan dari emerging market menjadi developed market oleh MSCI yang dalam jangka menengah dinilai dapat membuka peluang reallocation flow ke pasar emerging, termasuk Indonesia.

Secara teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam fase bearish meski sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda awal bearish exhaustion. Namun hingga kini konfirmasi reversal belum terbentuk sehingga strategi defensif dinilai masih menjadi pendekatan paling relevan dalam jangka pendek.

“IPOT melihat tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan GDP Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61 persen, pasar domestik sebenarnya masih memiliki fondasi fundamental yang cukup resilien,” ujar Imam.

Ia menambahkan volatilitas pasar diperkirakan masih akan tinggi hingga arus dana asing mulai stabil setelah effective date MSCI pada akhir Mei mendatang.

“Namun hingga arus dana asing mulai stabil pasca effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading,” kata dia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".